TAJUK | Pemkot Perlu Kebijakan  Akomodasi Penggembala

- Periklanan -

TERNAK berkeliaran di dalam kota sudah menjadi musuh publik. Gerombolan ternak di jalan raya jelas mengganggu kelancaran arus lalu lintas. Tidak jarang menjadi pemicu kecelakaan. Adanya ternak yang berkeliaran di jalan-jalan utama hingga masuk ke halaman kantor-kantor pemerintahan pernah menjadi fenomena di kota ini dan dianggap sebagai sesuatu yang kurang layak untuk ukuran sebuah ibu kota provinsi.

Kondisi itulah yang kemudian direspons Pemkot Palu melalui penerbitan peraturan daerah(Perda) yang memberlakukan larangan melepas ternak di dalam kota. Beberapa kali regulasi ini direvisi agar berlaku efektif. Pembentukan Perda dimaksud sangat positif adanya. Kesannya kurang elok jika ada tamu-tamu dari luar daerah yang berkunjung ke kota Palu dan harus disambut segerombolan sapi atau kambing ketika baru keluar dari bandara. Maka segala upaya dilakukan Pemkot untuk mengatasi masalah itu. Mulai dari dialog dengan peternak hingga langkah represif merazia ternak berkeliaran.

Waktu berjalan dan saat ini nyaris tidak dijumpai lagi ada ternak yang masih berkeliaran di jalan. Dalam konteks ketertiban dan keindahan kota, kondisi ini sangat positif. Namun dalam sudut kepentingan yang lain, sesungguhnya ini menimbulkan kecemasan baru. Setidaknya mengundang pertanyaan yang urgen untuk dijawab.

- Periklanan -

Kemana ternak-ternak itu? Apakah digembalakan di suatu tempat atau terpaksa dijual habis oleh yang punya? Jika digembalakan di suatu tempat, itu masih kabar baik. Tapi jika terpaksa dijual habis karena ketiadaan ruang untuk penggembalaan maka itu suatu soal yang serius. Artinya suatu regulasi di satu sisi telah berhasil menciptakan ketertiban tapi pada sisi yang lain menyebabkan sejumlah orang terpaksa kehilangan pekerjaan.

Inilah yang perlu dicermati dengan bijak oleh Pemkot.  Sambil melarang ternak berkeliaran di dalam kota maka pada saat bersamaan harus pula dipikirkan untuk memberikan ruang bagi sebagian masyarakat kita yang masih bekerja sebagai penggembala. Ini soal keadilan ruang. Isu yang cukup sensitif jika tidak dikelola dengan hati-hati. Laju dan pesatnya perkembangan kota ini tidak bisa mengabaikan realitas adanya sebagian masyarakat yang masih menggantungkan hidupnya pada ternak yang dipeliharanya. Sama dengan dokar dan penambang pasir di sungai Palu.

Maka penting bagi Pemkot untuk menertibkan suatu regulasi atau kebijakan baru yang mampu mengakomodasi kepentingan masyarakat yang bekerja sebagai penggembala. Kesulitan padang penggembalaan dan pakan ternak yang sedang dihadapi penggembala harus diberi solusi. Perlu ada proteksi wilayah-wilayah tertentu dari pesatnya pembangunan perumahan dan kebutuhan industri. Melindungi dan memberdayakan penggembala, toh pada akhirnya akan membawa manfaat bagi ketersediaan ternak untuk berbagai kebutuhan masyarakat.  (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.