Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

TAJUK | Mengutuk Tragedi Rohingya

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Sekelompok pengungsi Rohingya berjalan di air setelah melintasi perbatasan Bangladesh-Myanmar di Teknaf, Bangladesh. (Foto: Mohammad Ponir Hossain/Reuters)

KRISIS kemanusiaan terhadap etnis Rohingya di Rakhine, Myanmar, semakin panas. Penyerangan 30 pos polisi dan militer yang dilakukan Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) justru berdampak kepada etnis Rohingya yang tidak berdosa. Laporan Reuters terakhir menyebutkan, konflik kali ini telah menewaskan 400 orang yang di dalamnya termasuk warga sipil dan anak-anak. Puluhan ribu pengungsi warga Rohingya terus mengalir.

Hingga kemarin, belum ada solusi terhadap krisis Rohingya. Sejumlah negara sebatas mengimbau. Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan menelepon pimpinan negara Islam untuk meringankan korban kekerasan junta militer Myanmar tersebut. Di antaranya, meminta Bangladesh membuka perbatasan untuk menampung pengungsi etnis Rohingya. Indonesia juga meminta militer Myanmar menahan diri. Bahkan, Menlu Retno Marsudi menegaskan bahwa Indonesia tidak sekadar mencari solusi secara politis, namun juga memberikan bantuan logistik dan medis.

Di tengah tidak menentunya krisis Rohingya, belakangan muncul informasi hoax di media sosial. Bentuknya berupa berita, foto, dan video. Semua berkaitan dengan situasi yang dialami warga Rohingya di Rakhine. Sebagian besar tidak bisa diverifikasi. Tentu saja, penyebaran hoax semakin memanaskan konflik. Bahkan, itu bisa mengaduk-aduk emosi siapa pun. Penyebar hoax menarget kelompok tertentu agar semakin terprovokasi kondisi di Rohingya

Penyebaran hoax memang tidak bisa dicegah. Pemicunya adalah kondisi Myanmar yang begitu tertutup terhadap jurnalis dan LSM. Data dan fakta seputar arus pengungsi, video kuburan masal, pemerkosaan, dan pembakaran permukiman beredar luas tanpa ada konfirmasi.

Bahkan, Wakil Perdana Menteri Turki Makmet Simsek pada 29 Agustus lalu melalui akun Twitter-nya men-tweet empat foto hoax untuk menarik simpati dunia internasional. Empat foto tentang pria terikat di pohon, warga yang terkatung-katung di atas air, anak menangis, dan belasan mayat terapung.

Berdasar penelusuran BBC, empat foto tersebut terjadi di empat peristiwa di lokasi berbeda. Di antaranya, mayat terapung adalah korban badai Nargis di Nigeria pada Mei 2008. Lalu, pria terikat di pohon adalah korban tsunami di Aceh pada 2003.

Akun Twitter @szaminthit juga meng-upload foto militan Rohingya bersenapan lengkap. Etnis Rohingya disebut-sebut mendirikan ARSA untuk melawan pemerintah. Namun, setelah ditelusuri, foto tersebut adalah pejuang Bangladesh yang bertempur dalam perang kemerdekaan 1971.

Kita sepatutnya bijak menyikapi informasi hoax itu. Ada baiknya kita serahkan solidaritas kita kepada pemerintah dengan pendekatan G-to-G. Menlu Retno Marsudi sudah berupaya keras menemui koleganya di Myanmar untuk mencari solusi terbaik.

Setidaknya, militer setempat membuka akses bantuan kemanusiaan sekaligus mengurangi penggunaan senjata terhadap warga Rohingya. Yang terpenting lagi, mengingatkan kewajiban pemerintah Myanmar untuk melindungi semua warganya, terlepas dari etnisitas dan agamanya. ***

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.