Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

TAJUk | Memasuki Tahun Politik

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ilustrasi (@psikindonesia.org)

PERTEMUAN Ketua Umum DPP Partai Gerindra Prabowo Subianto dengan Ketum DPP Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) seolah-olah menjadi penanda bahwa Indonesia memasuki tahun politik. Meski sudah ”dipanasi” sejak setahun lalu, pertemuan dua petinggi itu secara informal telah menjadi babak pembuka Pilpres 2019.

Pertemuan dua pucuk parpol tersebut membuat banyak spekulasi politik beredar. Mulai soal siapa yang nanti menjadi pendamping Prabowo hingga siapa saja yang berkoalisi, kemudian ditambah dengan makin tak menentunya situasi politik pasca ditetapkannya Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto sebagai tersangka.

Sebagai pesta demokrasi dengan siklus lima tahunan, wajar jika suasana menjelang pilpres menghangat. Bagaimanapun, menjadi presiden Indonesia adalah menduduki jabatan puncak tertinggi eksekutif di negeri ini. Bukan hanya karena menjadi otorisator APBN senilai hampir Rp 2.000 triliun, tapi juga karena Indonesia sendiri makin strategis dalam percaturan dunia.

Namun, belakangan ini, memasuki tahun-tahun politik kini, juga menjadi mencemaskan. Gesekan antarteman, antarideologi, maupun antar ormas menjadi semakin keras. Kasus terakhir adalah pilgub DKI. Di sana, terlihat gerakan politik yang secara vulgar melanggar banyak garis etika. Tetangga bermusuhan, antarteman putus silaturahmi, bahkan antarkeluarga saja bisa pecah.

Meski peringkat fiskal Indonesia membaik dalam laporan Bank Dunia pada Juni 2017, meningkat dari Standard and Poor’s, tapi terburu-buru jika menyatakan ekonomi pulih dan meningkat tajam. Pencabutan subsidi listrik 900 VA membuat inflasi menjadi 3,9 persen dalam lima bulan pertama tahun ini. Daya beli masyarakat pun belum membaik, dibuktikan dengan penurunan keuntungan bisnis ritel.

Kita butuh stabilitas politik untuk mengembangkan ekonomi. Elite politik seharusnya bisa memberikan sinyal bagus dengan bersedia mengesampingkan kepentingan pribadi dan menghindari manuver politik yang bisa menciptakan instabilitas.

Semoga para elite politik masih mempunyai kesadaran untuk menjadikan kemaslahatan dan kerukunan masyarakat sebagai variabel utama langkah politik masing-masing. Sebab, jika pertarungan yang lebih keras terjadi, akibatnya akan buruk pada ekonomi. Kita berharap pertemuan-pertemuan pada tahun politik ini menjadi pelajaran yang cerdas untuk masyarakat. Semoga. (*)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.