TAJUK | Ketersediaan BBM dan Gas di Akhir Tahun

- Periklanan -

BILA mencermati kondisi hari-hari ini, ketersediaan bahan bakar minyak (BBM) maupun elpiji 3 Kg sepertinya agak mencemaskan. Terutama untuk memenuhi kebutuhan masyarakat menjelang pergantian tahun dan peringatan Natal. Pada momentum tersebut, dapat dipastikan bahwa kebutuhan BBM dan permintaan gas untuk konsumsi rumah tangga bakal meningkat dibanding hari biasa.

Beberapa hari ini, pasokan BBM di sejumlah SPBU di Kota Palu mengalami hambatan. Akibatnya, antrean panjang kendaraan untuk memperoleh BBM kembali terjadi. Versi Pertamina hanya keterlambatan pasokan karena kapal tanker pengangkut BBM dari Balikpapan terkendala cuaca buruk. Meskipun bukan pengurangan pasokan tapi kenyatannya ketersediaan BBM bersubsidi di SPBU yang ada selalu terbatas.

BBM jenis premium tersedia hanya pada jam-jam tertentu saja. Pembeli yang menggunakan jeriken pun masih tetap dilayani meskipun kuat dugaan bahwa pembeli dalam jumlah besar potensial untuk dikomersialkan kembali atau disuplai ke industri. Sepertinya pengawasan di internal SPBU tidak berjalan sehingga para petugas tetap leluasa melayani pembeli yang menggunakan jeriken.

- Periklanan -

Suatu waktu Pertamina perlu memeriksa rekaman CCTV di setiap SPBU untuk memastikan tidak terjadinya penyimpangan sekaligus sebagai dasar untuk melalukan tindakan sekiranya ditemukan pelanggaran.  Pengawasan terhadap barang bersubsidi mesti diperketat dan tidak boleh main-main. Sebab pada barang tersebut melekat uang negara dan penjualan yang tidak tepat sasaran berarti menyebabkan terjadinya kerugian keuangan negara. Ada implikasi hukum serius yang bisa ditimbulkan.

Demikian pula stok elpiji 3 Kg. Meskipun ada jaminan dari Pertamina bahwa pasokan cukup tapi elpiji 3 Kg kadang sangat misterius. Tiba-tiba lenyap seperti sifat gas yang tidak berbekas. Fenomena ini bukan lagi hal baru. Masalahnya ada pada sistem pengawasan dan tatakelola distribusi. Termasuk banyaknya sektor yang terlibat sehingga batasan tugas dan kewenangan antara pihak-pihak yang terlibat tersebut menjadi celah dan ruang besar untuk terjadinya penyimpangan di lapangan.

Sepertinya tidak ada pihak yang betul-betul komitmen untuk memastikan bahwa barang subsidi ini tepat sasaran. Digunakan hanya untuk masyarakat yang berhak. Berbagai skenario dan simulasi dalam proses distribusi sudah disusun matang. Tapi itu hanya di atas meja ketika rapat koordinasi lintas sektoral. Pelaksanaannya sejauh ini belum efektif. Buktinya masyarakat kerap masih kesulitan memperoleh elpiji 3 Kg meskipun stok yang keluar dari Pertamina tidak berkurang.

Operasi pasar yang sedang dilakukan Pertamina jelang Natal dan tahun baru tetap harus diapresiasi. Ada sekitar 1,2 juta tabung yang disiapkan untuk mengantipasi lonjakan kebutuhan masyarakat. Tugas semua pihak adalah memastikan agar tabung 1,2 juta ini benar-benar sampai ke masyarakat yang berhak dengan harga yang sesuai dengan HET yang ditetapkan pemerintah. Jangan gunakan elpiji 3 Kg sekiranya merasa dan (nyatanya) memang tidak terkategori untuk mendapat barang subsidi tersebut. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.