TAJUK | Jangan Sampai Walikota Menyesal

- Periklanan -

TOKOH agama di Kota Palu sepakat bahwa pelaksanaan salat Idul Fitri di lapangan terbuka lebih utama. Sebab pelaksanaan salat Id di lapangan merupakan bagian dari syiar Islam. Syiar bahwa Islam adalah agama yang damai.

Penebar rahmat bagi seluruh makhluk. Karena keutamaannya itulah pemerintah diharapkan memfasilitasi pelaksanaan salat Id agar berlangsung dengan baik. Kaum muslimin dapat menjalankan perintah agama tersebut dengan nyaman dan penuh khidmat.

Jauh sebelum ini, Lapangan Vatulemo telah dijadikan sebagai salah satu tempat penyelenggaraan salat Id di Kota Palu. Jumlah jamaah yang bisa ditampung di lapangan ini sangat besar. Boleh dikata, Lapangan Vatulemo menjadi lokasi penyelenggaraan salat Id dengan jamaah terbanyak untuk wilayah Palu bagian Timur. Di Palu bagian Barat, kaum muslimin melaksanakan salat Id di Masjid Agung. Kedua lokasi inimenjadi sentral penyelenggaraan salat Id yang dilaksanakan dua tahun sekali, salat Idul Fitri maupun Idul Adha.

Kira-kira tiga tahun terakhir, Lapangan Vatulemo tidak lagi digunakan sebagai tempat penyelenggaraan salat Id. Pemkot menetapkan Masjid Baiturrahim Lolu di Jalan Masjid Raya sebagai pusat penyelenggaraan salat Id. Demikian pula dengan masjid-masjid yang lain tetap menyelenggarakan salat Id. Masalahnya karena jumlah jamaah yang cukup besar sehingga pelaksanaan salat di masjid-masjid menjadi kurang nyaman. Terutama berkenaan dengan akses dan ketersediaan tempat parkir yang memadai menampung kendaraan jamaah.

- Periklanan -

Kini, dorongan berbagai pihak kepada Pemkot untuk mengembalikanLapangan Vatulemo sebagai lokasi penyelenggaraan salat Id kembali bergulir. Alasannya mendasar dan sangat rasional. Mendasar karena merujuk pada anjuran dalam ajaran agama. Rasional karena berkaitan langsung dengan kemudahan pengelolaan jamaah dalam jumlah besar yang juga membutuhkan lapangan yang berdaya tampung besar pula. Ketika dari waktu ke waktu jumlah jamaah meningkat maka sangat tidak rasional jika dipilih tempat yang lebih kecil.

Kita berharap agar Pemkot mendengarkan suara yang berkembang di luar.Walikota penting untuk membuka ruang diskusi dengan masyarakat. Bahwasaat itu, Lapangan Vatulemo tidak difungsikan karena dalam proses penataan, alasan itu masih bisa diterima. Ketika proses penataan sudah selesai, maka semestinya dikembalikan lagi pada salah satu fungsi awalnya. Sebagai tempat pelaksanaan Salat Id bagi umat Islam. Jangan sampai walikota yang sekarang menyesal suatu saat. Karena publik akan mencatat,  hanya pada masa dirinya memimpin, Lapangan Vatulemo tidak dimanfaatkan untuk salat Id. Ketika rezim berganti, kemungkinan besar akan dimanfaatkan lagi

Pemkot mesti menyampaikan alasan mengapa kebijakan itu diambil dan hendak terus dilanjutkan. Kalau karena sedang direhab, proses rehab sudah selesai. Kalau alasannya menghidupkan masjid-masjid di berbagai tempat, toh tidak ada larangan bagi pengurus masjid untuk tetap menyelenggarakan salat sendiri. Kalau kurangnya kontrol terhadap sumbangan jamaah, sebetulnya bisa dipersiapkan sejak awal. Kalau walikota hendak menggilir tempat menunaikan salat Id setiap tahun, toh salat di Lapangan Vatulemo tetap bisa dilaksanakan tanpa kehadiran walikota.

Kita berharap agar pada pertemuan yang rencananya difasilitasi Pemkot diperoleh kesepakatan yang paling bijak. Rujukan dasarnya adalah salat Id merupakan syiar Islam sehingga lebih utama jika dilakukan di lapangan yang bisa menampung jamaah dalam jumlah besar. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.