TAJUK | Jalur Barat dan Timur Menuju Tolitoli 11-12

- Periklanan -

AKSES yang menghubungkan Kota Palu, ibu kota provinsi, dengan Kabupaten Tolitoli dan Kabupaten Buol melalui jalur darat, saat ini dalam kondisi yang cukup memprihatinkan. Meskipun terdapat dua alternatif, melalui Pantai Barat dan Pantai Timur, namun kondisinya sebelas dua belas alias beda-beda tipis.

Jika melalui Pantai Barat, kerusakan terparah akan ditemukan ketika melintasi wilayah Siboang-Ogoamas. Meskipun sedang dilakukan perbaikan di jalur ini namun  kerusakan sepanjang beberapa kilometer dengan medan yang berat membuat para pengendara berhitung berkali-kali untuk melewatinya.

Jalur Pantai Timur dengan jarak tempuh yang lebih singkat, bukannya lebih nyaman dan aman dibanding melewati Pantai Barat. Titik kritisnya terdapat di jalur Mepanga-Pasir Putih. Dari arah Parigi-Moutong (Parimo) menuju Tolitoli sedang berlangsung pelebaran jalan.

Ujian berat bagi pengendara ketika hujan turun dan sisa-sisa tanah bekas pengerukan menjadi lumpur yang sangat licin. Susah dilewati kendaraan roda empat maupun roda dua. Risikonya kendaraan bisa tertanam di lumpur atau tergelincir dan mengakibatkan kecelakaan.

- Periklanan -

Ketika kondisi ini terjadi (hujan turun dan jalanan licin) harusnya ada pekerja proyek yang memberi peringatan langsung kepada pengendara. Papan peringatan yang dipasang di titik tertentu,  tidak cukup sebagai tindakan preventif agar pengendara lebih berhati-hati. Bahkan untuk keselamatan bersama, seharusnya jalan ditutup sementara karena kondisinya yang darurat. Jangan sampai kendaraan dibiarkan masuk ke titik yang berbahaya dan kemudian terjebak dan mengalami kecelakaan. Untuk keluar dari titik berbahaya tersebut pengendara harus mendapat bantuan dari orang-orang yang ada di tempat tersebut dengan mengeluarkan biaya yang tidak sedikit.

Penanggung jawab proyek yang sedang bekerja di jalur ini perlu merespons persoalan ini. Bukan hanya karena biaya tambahan yang harus dikeluarkan pengendara yang mungkin dinilai wajar saja bagi sebagian pihak tapi karena persoalan ini benar-benar menyangkut keselamatan publik. Rekanan yang mengerjakan jalan tentu tidak saja bertanggung jawab atas terlaksananya pekerjaaan sesuai kontrak tapi harus turut memastikan bahwa selama pekerjaan berlangsung keselamatan pengguna jalan tetap diperhatikan. Masalahnya bukan soal longsor atau licin tapi soal adanya kondisi faktual yang potensial memicu kecelakaan.

Dari arah Tolitoli menuju Parimo, keadaannya pun tidak kalah parah. Tanjakan dengan kondisi aspal yang mengelupas sampai badan jalan yang berlubang sebenarnya cukup riskan untuk dilewati. Tapi tidak ada alternatif  lain bagi masyarakat yang dari Palu ke Tolitoli maupun sebaliknya. Barat maupun Timur, harus melewati titik-titik terparah. Kecuali jika menggunakan transportasi udara maupun laut. Masalahnya karena belum semua masyarakat mampu  menjangkau dan terbiasa menggunakan transportasi udara. Demikian pula dengan transportasi laut yang mungkin lebih sulit dan kurang efisien untuk saat ini.

Maka tidak ada pilihan lain bagi pemerintah (pusat maupun daerah) sesuai kewenangannya masing-masing untuk tidak menjadikan perbaikan jalan yang menghubungkan Palu-Tolitoli-Buol sebagai prioritas yang serius. Tidak cukup diprogramkan pekerjaannya setiap tahun tapi harus dipastikan bahwa pekerjaan yang menggunakan uang negara tersebut benar-benar kontributif terhadap perbaikan yang mengubah kondisi jalan, dari rusak berat menjadi lebih baik. Termasuk memastikan bahwa kualitas pekerjaannya benar-benar memenuhi standar sehingga tidak mudah rusak kembali hanya dalam waktu yang singkat.  (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.