TAJUK | Hasil CAT yang Menggelisahkan

- Periklanan -

SELEKSI calon anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) kabupaten/kota periode 2018-2023 sudah memasuki tahapan tes psikologi. Dua tahapan telah dilewati, yakni penelitian administrasi dan tes tertulis dengan sistem computer assisted test (CAT). Dalam waktu dekat,  tim seleksi yang dibentuk KPU RI akan mengumumkan hasil tes psikologi.

Seleksi anggota KPU dilaksanakan di 10 kabupaten/kota di Sulteng yang terbagi atas dua zona. Zona I meliputi Kabupaten Banggai, Kabupaten Banggai Kepulauan, Kabupaten Banggai Laut, Kabupaten Poso, dan Kabupaten Tojo Unauna. Zona II meliputi Kota Palu, Kabupaten Morowali, Kabupaten Morowali Utara, Kabupaten Tolitoli, dan Kabupaten Buol.

Dari tahapan yang sudah berjalan, menarik mencermati hasil tes tertulis yang diumumkan tim seleksi. Nilai tertinggi yang diperoleh peserta yang dinyatakan lulus hanya 63,80 dengan nilai terendah 36.00. Kalau dibangku kuliah,  nilai 63, 80 ini mungkin hanya sepadan dengan nilai C. Adapun nilai 36 mungkin dipertimbangkan oleh dosen untuk tidak lulus atau lulus bersyarat dengan nilai D.

Itulah realitas dan hasil tes tertulis yang dijamin objektivitasnya melalui sistem CAT. Nilai ini masih parsial dan akan ada tes wawancara untuk menguji kompetensi calon sekaligus pendalaman atas materi-materi yang sudah diujiantuliskan. Namun dengan nilai yang terentang dari 63,80 sampai 36.00, publik sebetulnya sudah dapat menilai kompetensi dan kualitas para calon penyelenggara Pemilu ini.

- Periklanan -

Cukup menggelisahkan. Sebab kemampuan menjawab tes-tes tertulis sedikit banyak telah memberi gambaran kompetensi yang dimiliki seorang calon. Sebab materi tes tertulis sudah mencerminkan pemahaman tentang empat pilar kebangsaan, ketatanegaraan, kepemiluan, kepartaian, dan lembaga penyelenggara Pemilu. Artinya, tingkat pemahaman terhadap masalah-masalah ini akan memudahkan para calon belajar cepat ketika terpilih menjadi komisioner.

Agak disayangkan. Sebab sebagian yang ikut dalam seleksi ini sudah pernah atau sedang menjabat sebagai komisioner. Artinya, sedikit banyak mereka telah memperoleh pengalaman ril dari sebagian pertanyaan yang muncul dalam materi tes. Toh,  nilainya tetap cekak. Sebagian lagi, baru-baru ini ikut tes serupa ketika melamar menjadi calon anggota KPU provinsi. Toh, pengalaman yang baru saja dilewati ternyata tidak mampu meng-upgrade kemampuannya.

Dengan fakta yang demikian ini, dari sisi kompetensi publik, sebetulnya  tidak bisa terlalu berharap banyak. Harapan satu-satunya yang masih tersisa adalah persoalan integritas. Meskipun kompetensinya agak meragukan sebagaimana tercermin dalam hasil tes tertulis, setidaknya integritasnya akan jauh lebih baik. Agak pincang memang,  jika integritas tidak beriringan dengan kompetensi tapi selalu ada waktu untuk belajar keras.

Jika keduanya anjlok, itu berarti kita sedang mempertaruhkan masa depan demokrasi kita di tangan orang-orang yang sebetulnya belum punya kapasitas dan kapabilitas untuk mengerjakan proyek besar bernama Pemilu ini. Sehebat apa pun tim seleksinya kalau input yang masuk kurang unggul maka hasilnya juga tidak bisa terlalu diharapkan. Semoga tidak demikian adanya. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.