Tahanan Tewas, Keluarga Korban Siap Melapor ke Mabes Polri

- Periklanan -

Ilustrasi (@jawapos.com)

PALU – Sudah hampir 5 bulan keluarga dari almarhum Sutrisno alias Ido alias Tolido menanti keadilan. Kasus kematian tidak wajar tahanan Polres Sigi itu, hingga kini belum juga sampai ke meja hijau alias pengadilan umum.

Kakak kandung dari almarhum Sutrisno, Sunardi kemarin (25/7) mendatangi Mapolda Sulteng untuk menanyakan perihal perkembangan kasus kematian adik kandungnya, yang diduga tewas akibat penganiayaan di dalam sel tahanan Mapolres Sigi. Pihak keluarga pun kecewa, sebab tidak ada jawaban memuaskan dari penyidik yang menangani kasus tersebut. “Kami mendapat informasi katanya kasusnya sudah dicabut oleh istrinya. Sementara istrinya, tidak merasa telah mencabut laporan tersebut. Jika pun dicabut, ini kan kasus bukan delik aduan jadi harus tetap lah berjalan,” tutur Sunardi.

Pihaknya pun mendesak Kepolisian Daerah Sulawesi Tengah, harus tetap melanjutkan kasus ini hingga ke pengadilan. Hal ini untuk mengungkap siapa pelaku penganiayaan yang berujung pada tewasnya Sutrisno. “Jika Polda juga tidak ada tindaklanjutnya dari kasus ini, kami siap untuk melapor ke Mabes Polri, juga Kompolnas dan Komnas HAM RI di Jakarta,” tegas kakak korban. Dugaan jika korban meninggal tidak wajar itu, terlihat dari sejumlah luka-luka yang ditemukan di tubuh korban.

- Periklanan -

Sunardi menyampaikan, pihak keluarga hingga kini belum bisa menerima kepergian almarhum yang dinilai meninggal tidak wajar. Menurut Sunardi, dirinya mendapat informasi, jika adiknya tersebut diamankan pada Minggu (26/2) lalu sekitar pukul 13.00 wita, setelah sebelumnya sempat beberapa hari kabur dari sel tahanan Polres Sigi. “Namun selang beberapa jam kemudian, sekitar Magrib kami keluarga mendapat informasi jika adik saya ini sudah meninggal dan berada di RS Bhayangkara Palu,” tutur Sunardi.

Dirinya yang ketika itu berada di Kabupaten Poso, mendapat kabar meninggalnya Sutrisno, langsung bergegas berangkat ke Palu. Sunardi pun kaget, mendapati jasad adiknya penuh luka-luka bekas penganiayaan. “Waktu di RS Bhayangkara tidak divisum. Kami pun membawa jenazah untuk divisum di rumah sakit Torabelo Sigi. Proses visum sendiri disaksikan oleh Bupati Sigi,” jelasnya.

Dari hasil visum itu lah, lanjut dia, keluarga mendapati bahwa banyak luka-luka yang diduga akibat penganiayaan. Seperti luka robek di kepala, memar di bagian kaki kiri, luka sayatan di bagian belakang jenazah serta sejumlah tulang yang diduga patah. “Padahal menurut  saudara-saudara kami, Ido kasian dijemput secara baik-baik dari rumah, dan masih dalam keadaan sehat-sehat. Ada seorang polisi juga yang mengaku bertanggungjawab bahwa Ido tidak akan diapa-apakan, tapi ternyata dia malah meninggal,” sesal Sunardi.

Dikonfirmasi terpisah, Kabid Humas Polda Sulteng, AKBP Hari Suprapto, mengaku, pihak Polda sudah bekerja maksimal mengungkap penyebab kematian dari almarhum. Hasil investigasi Propam Polda Sulteng bersama Reskrimum Polda Sulteng, juga menyimpulkan, bahwa korban murni meninggal bukan karena sengaja dianiaya oleh petugas. “Dia mencoba melakukan perlawanan terhadap petugas, untuk itu lah coba dilumpuhkan. Hasil di lapangan memang menunjukan tidak ada kesengajaan untuk dianiaya, jika dia tidak melawan. Anggota juga ada yang jadi korban, mengalami luka-luka,” terang Hari.

Namun demikian, dia mengungkapkan, tetap ada anggota yang disanksi disiplin, karena dinilai lalai sehingga pelaku masih bisa melakukan perlawanan. Terkait keinginan pihak keluarga, yang bakal membawa kasus ini hingga ke Mabes Polri, Kabid Humas mempersilahkan hal tersebut, karena merupakan hak pihak keluarga. “Kami tentunya nanti juga akan sampaikan fakta-fakta yang ada penyebab kematian dari almarhum,” pungkasnya. (agg)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.