Tabaro Dange, Kue Tradisional yang Masih Eksis

- Periklanan -

PALU – Kue Tabaro Dange atau biasa juga disebut Jepa, tidak kalah eksis di tengah kemunculan beragam varian kue-kue modern seperti donat, brownis dan pancake, yang banyak diminati dewasa ini.

Pedagang makanan yang dikenal dengan sebutan dange atau tabaro di Jalan Cumi-cumi, Kelurahan Lere, Palu Barat, Minggu (4/3). Para pedagang yang didominasi ibu-ibu paruh baya ini sebagain besarnya berasal dari Kabupaten Donggala. (Foto: Mugni Supardi)

Kue tradisonal ini masih bayak diminati bukan hanya warga Kota Palu, tapi juga wisatawan yang berkunjung ke Kota Teluk ini. Untuk mendapatkannya tidak begitu sulit. Para pedagang yang didominasi ibu-ibu paruh baya ini berjualan di sekitar Jalan Cumi-cumi Kelurahan Lere, Palu Barat.

Di Kota Palu sendiri kue yang berbahan dasar sagu ini memiliki berbagai macam rasa, seperti gula merah dan ikan yang disuir-suir atau dipotong kecil-kecil. Harganya pun sangat terjangkau, hanya dengan Rp5 ribu pengunjung akan mendapat sensasi gabungan antara sagu dan ikan rono tersebut.

Hamzah Habib, salah satu pengunjung mengakui bahwa dirinya sengaja mampir untuk membeli kue tersebut. Bukan karena kebetulan lewat, melainkan sudah ada niatan dari rumahnya untuk pergi menikmati makanan tradisional ini. “Kebetulan ini weekend, jadi saya datang kemari untuk makan kue dange ini,” tuturnya kepada Radar Sulteng kemarin (4/3).

- Periklanan -

Lanjut Hamzah, selain dapat membentu rezeki dari ibu-ibu yang jauh meninggalkan daerahnya untuk mencari nafkah, dirinya juga sangat menggemari kue yang berbahan dasar sagu ini. “Pemahaman saya karena dari bahan yang sederhana dan tanpa bahan pengawet itu jauh dari sakit dan penyakit. Kemudian selain harganya murah, kue ini dapat mengenyangkan dan terutama dapat membantu mereka yang sedang mencari rezeki,” lanjutnya.

Dia berharap apabila kemudian hari Pemerintah dapat membuatkan lahan untuk berjualan, agar tidak membebankan biaya yang cukup tinggi. “Kalau memang ada dari tata kota yang mau membuatkan tempat jualan, silahkan. Tapi jangan bebankan biaya yang tinggi, bisa juga diberikan satu lapak dan ditempati sekumpulan atau sekelompok agar bayar sewanya bisa patungan,” tutupnya.

Menurut Lina, seorang pedagang kue dange mengatakan, untuk penghasilannya melonjak ketika hari libur dibandingkan hari hari biasanya.

Dia juga berharap agar Pemkot Palu bisa memberikan tempat yang lebih baik lagi dari pada yang mereka tempati sekarang. Karena jika ada tempat yang lebih baik, tentu akan menarik lebih banyak pembeli.

“Kalau libur seperti ini, Alhamdulillah pengunjung ramai. Seperti tadi malam kan malam Minggu, jadi banyak yang duduk-duduk di pinggir pantai sambil makan dange. Hanya saja tempatnya ini belum memadai karena ketika datang hujan kami hanya menggunakan payung kecil untuk berteduh,” tuturnya.

Dari pantauan koran ini, sekitar pukul 17.00 Wita kemarin, banyak pengunjung yang datang. Dari anak-anak hingga orang dewasa. Ada yang datang bersama keluarga, sahabat, untuk menikmati hari libur di kawasan pantai teluk Palu ini, sambil menikmati kue dange. Dan tak luput juga dari pantauan, para juru parkir yang sigap dalam menertibkan kendaraan pengunjung yang parkir. (cr8)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.