Sulteng Kejar Target Buka Lahan Baru 20 Ribu Hektar

- Periklanan -

Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah Trie Iriany Lamakampali memberikan sambutan saat pembukaan kegiatan Bimtek bagi Penyuluh dan Petugas Pengawalan dan Pendampingan Kegiatan APBN-P 2017 Komoditi Perkebunan dan Tanaman Pangan, Senin malam (2/10). (Foto; ist)

PALU – Sulawesi Tengah diberikan target oleh Kementerian Pertanian Republik Indonesia untuk bisa merealisasikan 20 hektare lahan baru yang diperuntukkan bagi tanaman kedelai. Target tersebut, sudah harus bisa terealisasikan akhir tahun ini.

Target pembukaan lahan baru hingga 20 hektare sampai akhir tahun 2017 tersebut, dalam rangka mendukung upaya dan target pemerintah, untuk bisa swasembada kedelai pada 2018 mendatang.

“Awalnya pemerintah menetapkan swasembada kedelai direalisasi di 2020 mendatang, tapi kemudian justru dimajukan hingga 2018. Makanya, dalam kaitannya dengan upaya pemerintah tersebut, khususnya Kementerian Pertanian meminta kita menyiapkan 20 hektare lahan baru untuk penanaman kedelai,” ungkap Kepala Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura Sulawesi Tengah, Ir Trie Iriany Lamakampali MM, sambutan saat pembukaan kegiatan Bimtek bagi Penyuluh dan Petugas Pengawalan dan Pendampingan Kegiatan APBN-P 2017 Komoditi Perkebunan dan Tanaman Pangan, Senin malam (2/10).

Menurutnya, target lahan baru 20 ha tersebut, sudah harus dipenuhi sebelum 2018. Saat ini, sudah dilakukan verifikasi atau Calon Petani Calon Lokasi (CPCL) di seluruh wilayah Sulteng. Penetapan target tersebut dibarengi dengan bantuan dari pihak Kementerian Pertanian kepada Pemprov Sulteng melalui Dinas Tanaman Pangan dan Hortikultura.

“Jumlah bantuannya, Rp1,5 juta per hakter. Jadi silakan dikalikan saja, Rp1,5 juta dengan 20 ribu,” katanya.

Dari hasil perhitungan, diperoleh informasi bahwa total bantuan yang bakal digelontorkan Kementerian sekitar Rp30 miliar. Menurut Trie Iriany, bahwa bantuan Rp1,5 juta perhektar tersebut, sudah include biaya pembukaan lahan, bibit atau benih, dan pupuk.

- Periklanan -

“Tapi untuk benih dan pupuk, petani akan menggunakan yang bersubsidi. Karena ini adalah bantuan, jadi tidak full paket, silakan petani menambah kalau misalnya ada yang kurang,”katanya lagi.

Untuk target produksi, dalam luasan 1 ha, diharapkan mampu memproduksi 1,3 ton. Walaupun kata Trie Iriany, secara nasional, target produksi dalam luasan lahan 1 ha, adalah 1,6 ton.

Target penambahan lahan baru 20 ha, akan sampai Desember. Dengan masa tanam hingga panen berdurasi 2 bulan, maka hasil produksi kedelai, baru akan terlihat di awal-awal 2018 mendatang.

Kepada para penyuluh yang menjadi peserta dalam Bimtek, Trie Iriani Lamakampali, meminta peran aktifnya, agar target swasembada kedelai di 2018 benar-benar terealisasi. Olehnya itu, Trie Iriani, menekankan pentingnya kekompakan para tenaga penyuluh untuk menyukseskan program swasembada pangan, khususnya kedelai tersebut.

“Alhamdulillah untuk padi dan jagung kita sudah bisa memenuhi targetnya. Namun untuk tanaman kedelai, kita harus mengakui bahwa pencapaian kita masih sangat minim, jauh dari target,” ungkapnya.

Dia juga mengajak para penyuluh sebagai ujung tombak peningkatan produksi pertanian untuk secara sungguh-sungguh mengawal para petani meningkatkan hasil pertaniannya, terutama pada tanaman kedelai.

Trie mengakui, produksi tanaman kedelai di Sulawesi Tengah masih sangat sedikit. Penyebabnya antara lain karena petani kurang tertarik dengan komoditas tersebut. Selain itu, kedelai oleh petani dinilai “manja” dalam perawatan.

Hal lainnya yang juga dikeluhkan oleh Trie Iriani, adalah sulitnya mendapatkan benih. Olehnya itu, pemerintah akan mendorong dan membuka kelompok-kelompok penangkar benih. Hal ini, diharapkan mampu menjadi solusi dari sulitnya mendapatkan benih saat ini. (hnf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.