SPBU yang Disegel Sembunyikan Police Line dengan Kardus, Apa Maksud?

- Periklanan -

Mesin pomba BBM di SPBU Soekarno-Hatta yang police line-nya ditutupi dengan kardus, Rabu (30/8). (Foto: Wahono)

PALU – Ada yang berbeda terlihat di SPBU Soekarno-Hatta. Jika, sebelumnya Selasa (29/8) mesin pompa BBM police line oleh pihak Polda Sulteng, karena diduga ada kecurangan pengisian BBM ke konsumen, Rabu (30/8) mesin pompa BBM tidak lagi terlihat ada police line yang ada hanya kardus.

Hal itu terkesan ada upaya dari pihak SPBU untuk menutupi police line dan menyembunyikannya dengan menutup menggunakan kardus.

Pantauan di SPBU Soekarno-Hatta tampak pompa pengisian BBM baik jenis Premium , Solar bersubsidi, Pertamax, Pertalite dan Dexlite, sudah ditutupi dengan kardus, sehingga tidak terlihat lagi ada police line. Sementara saat kardus coba dibuka sedikit  terlihat ada police line di dalam bungkusan kardus.

Sementara salah seorang petugas SPBU yang ditemui mengakui pembukaan police line yang terpasang hanya di sekitaran mesin pompa pengisian saja. “Kalau sebelumnya yang di police line terlalu kelihatan, jadi banyak pengunjung yang mau ke ATM dan juga swalayan terfokus pada police line itu,” katanya tanpa mau menyebutkan namanya.

Sementara Polda Sulteng melalui Kabid Humas Polda Sulteng AKBP Hari Suprapto, menjelaskan bahwa police line tetap terpasang pada pompa pengisian BBM. Hanya saja tertutup oleh kardus. Menurut juru bicara Polda Sulteng itu, bahwa hal tersebut tidak melanggar, sebab kasus ini masih tetap berlanjut dan masih tahap penyelidikan.

“Kalau menurut penyidik yang melakukan penutupan polic line menggunakan kardus adalah pihak SPBU,” ungkapnya, melalui telepon.

Dari penjelasan penyidik yang menangani kasus tersebut, mesin pompa pengisian BBM yang di police line dan sudah dibungkus kardus untuk menghindari terjadinya penguapan. Juga agar masyarakat yang melawati SPBU tersebut tidak sembarangan mengambil foto, karena sangat berbahaya bisa terjadi kebakaran dari percikan api dari baterai handphone warga yang mendekat dan mengambil foto.

- Periklanan -

“Kami tegaskan tidak ada pencabutan police line. Tetap mesin dan nosel diberi garis polisi dan dibungkus untuk menjaga kemungkinan risiko kebakaran,” jelasnya.

Sementara dari hasil temuan Petugas Kemetrologian terhadap pelanggaran yang dilakukan pihak SPBU di jalan Soekarno-Hatta saat ini proses ada di kepolisian, Polda Sulteng. Pihak Disperindag Kota Palu sisa menunggu proses yang tengah berjalan saat ini.

“Ketika sudah masuk ke rana kepolisian, kami lepas. Apakah nantinya di kepolisian proses dilanjutkan atau tidak, itu sudah urusan kepolisian,” ujar Amiruddin, Kabid Perdagangan Disperindag Kota Palu via handphone, kemarin (30/8).

Meski demikian,pihaknya berharap agar pihak kepolisian menindaklanjuti kasus ini sebagai pembelajaran pagi pelaku usaha agar tidak lagi melakukan kecurangan. Sebab, khusus untuk SPBU di jalan Soekarno Hatta ini, kata Amiruddin, sebelumnya sudah diperingati agar tidak melakukan kecurangan.

Bulan Juni 2017 yang bertepatan dengan bulan Ramadan, kata Amiruddin, pihaknya melakukan pengawasan di SPBU tersebut. Ketika itu belum ditemukan adanya kecurangan yang ‘berarti’ seperti temuan Selasa (29/8). Hanya pada salah satu mesin pompa, petugas dari Kemetrologian Palu menyegel/menggembok satu unit mesin SPBU karena rusak.

Amiruddin memperkirakan, kekurangan takaran bahan bakar yang dibeli konsumen di SPBU Sukarno-hatta  terjadi  sudah sekitar 1 bulan terakhir ini, setelah pengawasan lapangan yang dilakukan petugas Kemetrologian Kota Palu.

“Sesuai  arahan Pak Kadis (Kadis Perindag Kota Palu Farid Yotolembah, red),  pengawasan terus kita lakukan agar konsumen tidak selalu dirugikan,” sebutnya.

Amiruddin mengatakan, bila mengacu pada aturan yang ada, kecurangan yang dilakukan oleh SPBU adalah pelanggaran terhadap dua undang-undang. Yakni, undang-undang tentang Kemetrologian dan undang-undang tentang perlindungan konsumen. (ars/who)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.