Sosiologi Ramadan dan Sosiologi Pemerintahan (Keimanan dan Ketaqwaan Bersifat Bangsa dan Keumatan)

Oleh : Dr. Syarif Makmur, M.Si. *)

- Periklanan -

KATA kuncinya sosiologi Ramadan dan sosiologi Pemerintahan. Wajar dan sangat pantas jika sosiologi Ramadan dipelajari bersamaan dengan sosiologi pemerintahan, keduanya memiliki hubungan yang sangat erat dimana yang satu menghasilkan Taqwa sedangkan yang satu menghasilkan Kekuasaan dan Kebangsaan.

Kepemimpinan mempengaruhi ketaqwaan sebuah bangsa, sebaliknya Ketaqwaan sangat mempengaruhi kepemimpinan sebuah negara dan bangsa. Oleh karena itu sosiologi pemerintahan sendiri mempelajari pemikiran, sikap dan tindakan masyarakat. Sedangkan sosiologi Ramadan mempelajari pemikiran, sikap dan tindakan keummatan.

Memang tidaklah etis dan kurang pantas jika membandingkan kualitas dan kompetensi sosok Nabi Muhammad SAW sebagai manusia pilihan dan manusia terbaik sepanjang sejarah umat manusia (Michael Hart, 1980 : seratus tokoh yang paling berpengaruh dalam sejarah) dengan tokoh sosiologi dunia August Comte atau Emil Durkheim ataupun sosiolog Indonesia Selo Sumardjan.

Baik Comte, Durkheim dan Selo Sumardjan terlalu kecil bahkan sangat kecil kualitas dan kapabilitasnya dibanding sosok Muhammad SAW sebagai manusia pilihan yang telah didesain dan dirancang oleh maha pencipta alam jagad raya ini Allah SWT sebagai manusia terbaik. Perbedaannya adalah di dalam rencana keberhasilan dan kesuksesan Muhammad SAW, terdapat rencana Muhammad untuk keberhasilan dan kesuksesan ummat manusia, sedangkan di dalam rencana keberhasilan dan kesuksesan kehidupan Durkheim dan Comte hanya untuk dirinya dan keluarganya.

Oleh karena itu disandingkan dengan Imam Hambali atau Imam syafei saja terlalu jauh. Argumentasi ini wajib penulis ungkapkan di awal tulisan ini agar semua pandangan tentang sosiologi kaitannya dengan sosiologi Ramadan rujukan akhirnya adalah kepada Alquran dan Hadist sebagai kebenaran hakiki.

Menurut Comte, studi positif tentang hukum-hukum dasar dari berbagai gejala sosial yang dipelajari dalam sosiologi dibedakan menjadi sosiologi statis dan sosiologi dinamis yang diperuntukkan untuk kehidupan dunia semata.

Pandangan Comte ini sejalan dengan pandangan Prof. Dr. Talizi Nduhu Ndraha (2001), tentang sosiologi pemerintahan bahwa akhir dari sosiologi adalah adanya Bangsa, yang dimulai dari penduduk, kemudian menjadi masyarakat dan selanjutnya menjadi sebuah bangsa sehingga sosiologi pemerintahan adalah ilmu yang sangat dinamis dan ini pun hanya diperuntukkan untuk kehidupan dunia semata.

Pandangan Comte maupun Ndraha adalah benar, namun kebenaran yang bersifat aqliyah dan bukan kebenaran bersifat hakiki yang bersumber dari kitab suci Alquran. Hakikat Ramadan, tulis Jalaluddin Rakhmat dalam bukunya Islam Aktual, terletak pada Imsak ‘an (menahan diri) dan Imsak bi (berpegang teguh kepada perintah Allah SWT dan Rasul-Nya atau konsistensi). 

Ada dua dimensi penting yang penulis tangkap dan garis bawahi dari pandangan Jalaluddin Rakhmat tentang puasa atau Ramadan ini, yaitu dimensi menahan diri dan dimensi konsistensi. Dalam hubungan pemerintahan (komunikasi, koordinasi, dan interaksi), kedua dimensi ini menjadi masalah besar dalam kehidupan bangsa dan kehidupan berpemerintahan saat ini yang tidak ada selesai-selesainya sampai kapanpun, karena ketiadaan kemampuan menahan diri dan ketiadaan kemampuan untuk hidup secara konsisten antara pemerintah dan yang diperintah (rakyat).

Dalam satu sisi saja, misalnya penerapan kebijakan pemerintah terkait Pengaturan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) dalam menghadapi pandemi Covid-19 yang tujuannya baik (etis) dan benar (logis) tidak secara konsisten dapat dilaksanakan oleh sruktur-struktur birokrasi di bawah Presiden : provinsi, kabupaten/kota, kecamatan hingga desa. Hal ini juga disebabkan oleh ketidakmampuan menahan diri dalam menghadapi situasi pandemi Covid-19 yang dari hari kehari semakin mengkhawatirkan.

Proses transformasi pemikiran, transformasi sikap dan transformasi perilaku sebagaimana diajarkan Nabi selama Ramadan ini diperuntukkan kepada dua hal mendasar, yaitu didapatkan keimanan dan ketaqwaan. Proses menuju keimanan seseorang bukanlah masalah personal, pribadi yang dipelajari dalam ilmu psikologi, tetapi proses tersebut bersifat sosiologis, karena ada interaksi dan komunikasi serta tindakan sosial di dalamnya.

Dalam perspektif Ilmu pemerintahan, proses menuju keimanan harus ditafsirkan sebagai keimanan bangsa bukan keimanan pribadi, dan hal itu sangat tegas dan jelas terdapat dalam seluruh butir-butir Pancasila yang secara khusus pada sila pertama Ketuhanan Yang Maha Esa. Proses menuju Ketaqwaan pun demikian, tidak taqwa secara pribadi, tetapi ketaqwaan berjamaah, ketaqwaan berbangsa bahkan ketaqwaan seluruh umat manusia khususnya umat Islam. Tidak ada satu pun konsep dan dalil yang kita dapatkan dalam Alquran dan Hadist yang menyebutkan keimanan dan ketaqwaan adalah bersifat pibadi dan personal, selalu saja Alquran menyebutkan Hai orang-orang yang beriman, dan seterusnya supaya kamu bertaqwa.

- Periklanan -

Oleh karena itu, bulan suci Ramadan ini adalah pelajaran berharga dan sangat berarti bagi umat Islam betapa pentingnya hidup bermasyarakat, hidup bernegara dan hidup berbangsa bahkan kehidupan global. Kehidupan makro dunia dan bangsa serta keummatan jauh lebih penting dari kehidupan mikro di tingkat desa, dusun, dan keluarga, demikian sosiologi Ramadan yang dapat kita kaji dan pelajari secara mendalam yang dapat mengalahkan teori sosiologi August Comte dan Emil Durkheim yang saat ini konsep dan teori mereka sudah mengalami anomaly dan krisis (Kuhn, 1962).

Jika sosiologi pemerintahan menghasilkan bangsa, maka sosiologi Ramadan menghasilkan Taqwa. Sehingga jika kita gabungkan dan daurkan antara sosiologi pemerintahan dan sosiologi Ramadan akan menghasilkan bangsa yang bertaqwa. Bangsa yang bertaqwa inilah menjadi tujuan akhir dari sosiologi Ramadan.

Kalimat berbangsa-bangsa dan bersuku-suku yang ada dalam ayat Alquran yang disampaikan Jibril kepada Muhammad ditutup dan dikunci dengan kalimat yang mulia diantara kamu adalah yang paling bertaqwa. Secara sosiologis, ada proses seleksi yang sangat ketat menuju bangsa yang bertaqwa, dan Ramadan menjamin bahwa jika input Ramadan berupa niat, dan proses Ramadan berupa aktivitas ibadah yang diperintahkan dan diwajibkan, maka output Ramadan bahkan outcomes Ramadan akan kita dapatkan diakhir dimana umat Islam seluruh dunia merayakan kemenangan dengan Idul Fitri.

Idul Fitri merupakan hasil akhir yang bersifat duniawi sehingga sangat dinamis sebagaimana pendapat Comte dan Ndraha, tetapi yang hendak dan mau dituju oleh sosiologi Ramadan adalah kehidupan akhir umat Islam yaitu kehidupan yang kekal dan abadi di surga nanti.

Yakinlah bahwa seluruh umat Islam yang menjalankan Ramadan dengan baik dan benar akan memperoleh dan menikmati dan mendapatkan surga. Berlatihlah meluruskan pemikiran, sikap dan perilaku kita dalam bulan Ramadan ini untuk selalu berorientasi dan bergantung kepada Allah SWT yang telah memberi akal, hati, pendengaran dan penglihatan, dan disinilah wajib kita renungkan nikmat Allah apalagi yang kita dustakan.(***)

BIO DATA SINGKAT

Nama lengkap : Dr. SYARIF MAKMUR, M.Si
Tempat tgl lahir : Semarang, 15 Desember 1963.
Pekerjaan : ASN, Sekretaris Daerah Kabupaten Seram Bagian Timur Maluku.

Alamat : Perumahan Telaga Golf Kluster Francis FV Nomor 20 Sawangan-Depok.

PENDIDIKAN TERAKHIR : Pascasarjana S3 Unpad Bandung.

Pengalaman Jabatan :
• Kepala Bappeda Kabupaten Tolitoli
• Kepala Badan Diklat Litbang Kabupaten Tolitoli
• Staf ahli Bupati Tolitoli bidang pembangunan
• Assisten Tata Praja Setda Kabupaten Seram Bagian Timur
• Sekretaris Daerah Kabupaten Seram Bagian Timur sampai saat ini
• PLH Bupati Seram Bagian Timur tahun 2015
• PLH Bupati Seram Bagian Timur tahun 2021.

Karya Tulis : Buku dan artikel opini :
• Buku : Gagasan Pemberdayaan dan Partisipasi, sebuah konsep dan aplikasi, PT Wahyudi Press, 2003, Jakarta.
• Buku : Tolitoli di awal reformasi : catatan singat seorang Bupati di Era Otonomi Daerah, PT Wahyudi Press, 2004, Jakarta.
• Buku : Pemberdayaan SDM dan Efektivitas Organisasi, fokus kajian penyelenggaraan pemerintahan desa, PT Rajawali Press, 2008.
• Opini : Konfigurasi dan kombinasi komunitas besar dalam kompetisi PILKADA Tolitoli, Radar Sulteng, 2021.
• Opini : Gubernur, Bupati dan Walikota dapat memberhentikan Sekda setiap bulan, Radar Sulteng, 2021.
• Opini : Rusdi Mastura – Makmun Amir Harapan baru SULTENG, kombinasi kepemimpinan terbaik setelah Lamadjido, Paliudju, Ponulele dan Djanggola. Radar Sulteng, 2021.
• Opini : Bintaran Tengah nomor 8 Jogyakarta : Inspirasi – kebanggan dan kehormatan putera Sulawesi Tengah. Radar Sulteng, 2021.

• Buku/Biografi (dalam proses penulisan) : PENGALAMAN DAN PENGAKUAN SEORANG BIROKRAT : KUALITAS DISERTASI DI ATAS RATA-RATA, MENDAMPINGI DELAPAN KEPALA DAERAH DAN SEBELAS TAHUN SEBAGAI SEKDA.

Email : [email protected]

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.