Sonny Tandra : Jika Terjadi Rongga Besar Bisa Membuat Bencana di Poso

//Terkait Pengerukan dan Pengeboran Batu di Dasar Danau Poso

- Periklanan -

PALU – Terkait pengerukan dana Poso dan terancamnya Gua Pamona di sepanjang Danau Poso yang dilakukan PT. Poso Energy, mendapat sorotan dari anggota DPRD Sulteng, Ir. Sonny Tandra.

Politisi Partai NasDem ini mengatakan, adanya pengerukan dan peledakan di Danau Poso dan sekitarnya tidak dibenarkan. Menurut Sonny Tandra, apapun namanya mengubah bentangan, memperdalam atau apapun pasti ada dampak lingkungannya.

“Pertanyaan saya apakah Amdalnya (Amdal PT. Poso Energy, red) sudah dihitung dan dibuat betul-betul oleh para ahli. Sehingga dampak lingkungan itu tidak berdampak lebih luas kepada masyarakat,” tanya Sonny Tandra.

Mengenai dampak lingkungan, kata Sonny, merujuk dari pendapat ahli bahwa karakteristik batu dasar di Danau Poso itu batu kapur yang berpori-pori. Karena berpori-pori ada kemungkinan kalau diledakkan dia punya efek luas. Artinya bukan seperti batu keras, dan itu kita tidak tahu kalau di bawah batu itu di dalam sungai ada lobang-lobang besar atau apa.

“Nah kalau ini terjadi ada rongga besar itu akan membuat bencana di Poso. Bisa saja air itu keluar. Dan dia keluarnya dimana? Karena pecah. Di bawah batu itu ada gua-gua, dan lapisan yang keras di atasnya. Tetapi waktu diledakkan, lobang. Masuk airnya di situ, “ urai Sonny Tandra.

Karena batu-batu dasar di Danau Poso itu berongga, sehingga terdapatlah disana Gua Pamona. Salah satu yang terganggu itu Gua Pamona. Karena itu dianggap peninggalan purbakala.

Selanjutnya, akan terjadi perubahan ekosistem apakah tidak akan memengaruhi kehidupan masyarakat sekitar Danau Poso. Kita belum mengetahui.

“Saya sendiri pun tidak bisa memvonis apakah akan bahaya atau tidak. Tetapi ada kemungkinan besar bisa berbahaya kalau salah penanganan. Kita tahu sendiri di Indonesia ini kadang-kadang Amdal itu dibikin setelah proyek itu sedang berjalan,” ungkap Sonny.

Sonny menduga Amdal itu belum disosialisasi, tetapi setelah Sonny membaca ada disosialisasi. Dirinyapun lalu mencari tahu siapa yang melakukan sosialisasi. Katanya Camat dan orang-orangnya. Kalau orangnya Camat siapa yang mau menentang.

Sonny juga mengungkapkan, dirinya banyak mendapat keluhan, bahwa air danau kini naik walaupun bukan musim penghujan. Dibanding dengan dulu air naik nanti di musim penghujan. “Sekarang, biar bukan musim hujan air danau itu sudah naik,” bebernya.

Sonny memprediksi ada pengaruhnya bahwa permukaan air yang keluar apakah karena bendungan PLTA itu dinaikan permukaannya, sehingga air danau itu sekian tahun jadi naik semua, dirinya belum mengetahui. Sonny berjanji akan melakukan penelitian soal ini. Agar masalah ini ilmiah, bukan menurut siapa atau siapa. Betul-betul kajian ilmiah.

Kepada Radar Sulteng, Sonny Tandra mengakui DPRD Sulteng belum pernah melakukan hearing atau kegiatan rapat dengar pendapat (RDP) dengan pihak manajamen PT. Poso Energy. Dikatakannya, pihak DPRD masih akan melakukan pengumpulan bahan.

- Periklanan -

Dulu, katanya ada laporan masyarakat tentang jembatan Pamona dan sebagainya adalah Cagar Budaya. Tetapi setelah dirinya pelajari laporan itu, dan melakukan berbagai konfirmasi-konfirmasi dengan UPTD Cagar Budaya di Gorontalo, katanya tidak (bukan cagar budaya). Karena jembatan Pamona itu sudah dua kali direhab.

“Tetapi rehabnya tidak sesuai dengan prosedur cagar budaya. Contohnya, kalau kayunya dulu diambil kayu A, harus diganti juga dengan kayu A. Kemudian dulu kalau diambil kayu bukan dengan sensor harus dengan tamako. Selanjutnya, kalau digergaji itu bukan pakai sensor tetapi gergaji manual yang dikerjakan oleh dua orang naik turun gergajinya. Yah begitu klasiknya. Contoh lain lagi, kalau dulunya kayu itu diangkut dengan sapi, mestinya jangan diangkut dengan mobil. Kalau diangkut dengan mobil maka dia tidak dianggap lagi sebagai cagar budaya,” papar Sonny lagi.

Sebagai anggota DPRD Sulteng dari daerah pemilihan (Dapil) Kabupaten Poso, Tojo Unauna, Morowali dan Morowali Utara (Morut), Sonny Tandra mengharapkan pengerukan dan peledakan dihentikan. Kemudian PT. Poso Energy melakukan diskusi atau sosialisasi lagi. Kemudian memberi ruang kepada stakeholder untuk memberikan masukan. “Sehingga mendapatkan cara yang paling terbaik, “ ucapnya.

Disebutkannya, investasi dibutuhkan, tetapi kalau investasi itu merusak, untuk apa dikerjakan. Karena itu, dirinya bersama anggota DPRD Sulteng lainnya berinisiatif akan menghearing PT. Poso Energy, namun dewan masih akan melakukan penelitian terlebih dahulu.

“Karena untuk apa kita menghearing tetapi tidak ada data. Bukan karena suka atau tidak suka,” terangnya.

Mengapa dilakukan penelitian terlebih dahulu, karena anggota DPRD adalah orang politik, bukan orang teknis. Harus objektif. Kalau hasil kajiannya karena persoalan dampak dari PT. Poso Energy, baru DPRD melakukan hearing.

“ Supaya ketika meminta dan merekomendasikan untuk menghentikan operasional PT. Poso Energy yah betul-betul hasil kajian yang objektif. Bukan maunya Sonny Tandra atau siapa, yang tidak suka, “ cetusnya.

Menurut Sonny, untuk mengembalikan Danau Poso ke ekosistemnya yang normal sangat kesulitan. Oleh karena itu perlu kajian khusus.

“ Kalau toh mereka bilang bisa kembali, pertanyaannya berapa tahun bisa meyakinkan. Tentu para ahli yang bicara dan menganalisis. Atau orang PT. Poso Energy yang bilang boleh. Tidak bisa begitu. Harus ada ahli independen yang semua pihak percaya bahwa kajiannya betul-betul independen. Nah dia yang harus meyakinkan kita,” tegasnya.

Sonny juga berargumen, harus ada rekayasa untuk mengembalikan ke situasi normal. Misalnya ada pelapukan, debu yang masuk, sehingga menutup kembali.

“Pertanyaannya kalau ada rekayasa apakah PT. Poso Energy sudah melakukan rekayasa ? Sejauh ini belum. Salah satu contoh, buktinya ikan sidat di Danau Poso makin berkurang karena ditangkap berskala besar. Atau karena viesway-nya yang layak. Saya belum tau itu, perlu diteliti lagi. Maksudnya jalan ikan untuk naik setelah dia berterlur, saya tidak tau. Sehingga ikan sidat yang menjadi endemik di Danau Poso makin langka, “ pungkasnya.

Terpisah Humas PT. Poso Energy Cristian Gundo dikonfirmasi terkait surat Sinode GKST yang meminta PT. Poso Energy menghentikan aktivitas pengerukan dasar danau Poso khususnya di aera sekitar Gua Pamona mengaku saat ini pihak PT. Poso Energy sedang menyiapkan surat balasan ke pihak Majelis Sinode GKST. “Terkait surat dari majelis Sinode GKST saya kemarin diinfokan sdg disiapkan balasan suratnya pak,” tulis Cristian melalui WhatsApp. (mch/ron)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.