Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Soal Elpiji, Pemkot Tunggu Reaksi Warga

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

OPERASI PASAR: Dalam beberapa hari lalu, pihak Pertamina gencar melakukan operasi pasar di kantor kecamatan Kota Palu. tampak warga yang datang Kantor Kecamatan Palu Barat untuk mendapatkan elpiji 3 kg pada, Kamis (16/3). (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Saat ini penjualan gas subsidi 3 kilogram telah dikembalikan ke pangkalan. Setelah sebelumnya selama tujuh hari, penjualan gas 3 Kg tersebut dilakukan di kantor-kantor kelurahan. Upaya tersebut dilakukan karena sulitnya mendapatkan gas 3 Kg. Jika ada, harganya pun jauh melampaui harga eceran tertinggi (HET) yang ditentukan pemerintah yakni Rp16 ribu per tabung 3 Kg.

Waktu itu, gas 3 Kg sulit didapatkan di pangkalan. Tapi di pengecer ada, hanya harganya melampaui HET. Harga yang diberikan pengecer bervariasi, bahkan ada yang menjual hingga Rp30 ribu per tabung 3 Kg. Dengan dilakukannya penjualan di kantor kelurahan, masyarakat menjadi terbantu dan mudah mendapatkan gas 3 Kg dengan harga sesuai HET.

Asisten Administrasi Perekonomian Sekretariat Daerah Kota Palu, Imran SE MSi, dihubungi kemarin (21/9), mengatakan pihak Pemerintah Kota Palu masih menunggu reaksi masyarakat setelah dilakukan penjualan gas 3 Kg di kantor-kantor kelurahan yang dilakukan belum lama ini. Reaksi apakah setelah dikembalikan ke pangkalan, masih ada keluhan kelangkaan gas 3 kg tersebut.

“Setelah kita lakukan penjualan di kelurahan 7 hari kan sekarang belum ada yang teriak-teriak langka. Kita tunggu reaksi warga dulu, kalau memang ada lagi yang teriak baru kita lakukan langkah-langkah selanjutnya,” ujar Imran, kemarin (21/9).

Dia mengakui jika penjualan di kantor kelurahan tersebut membuktikan bahwa tidak ada kelangkaan elpiji 3 Kg. Dan stok yang didistribusikan cukup bahkan lebih untuk masyarakat Kota Palu yang berhak menerima.

Dari penjualan yang dilakukan di Kelurahan tersebut lanjut Imran, diketahui bahwa kelangkaan disebabkan pangkalan yang menjual ke pengecer. Karena lanjutnya, saat penjualan dilakukan di kelurahan dengan pengawasan dari petugas kelurahan, pasokan elpiji 3 kg lebih dari kebutuhan masyarakat yang berhak menerima.

Sementara terkait pengecer, Imran mengaku masih tidak bisa melakukan penindakan. Alasannya, tidak ada aturan yang mengatur hal tersebut. “Kita tidak bisa tindak pengecer. Karena tidak ada aturannya untuk itu. Pangkalan yang seharusnya tegas untuk tidak menjual ke pengecer,” tuturnya.

Pantauan Radar Sulteng, di beberapa kios yang berada di Kelurahan Talise, dan Kelurahan Tondo yang beberapa waktu yang lalu saat penjualan gas 3 Kg dilakukan di kantor kelurahan kios tersebut berhenti menjual elpiji 3 Kg, kini kios-kios tersebut kembali menjual elpiji 3 Kg. Bahkan 2 kios di Jalan Yos Sudarso, Kelurahan Talise, berdampingan dan sama-sama menjual elpiji 3 Kg.

Lantas bagaimana tanggapan pihak Pertamina? Sales Eksekutif Elpiji Pertamina Sulteng, Bastian Wibowo mengatakan, penjualan selama 7 hari yang dilakukan di Kelurahan membuktikan alokasi yang diberikan Pertamina sangat mencukupi bahkan lebih karena di beberapa Kelurahan dalam 1 hari, elpiji 3 kg, yang didistribusikan tidak habis terjual.

“Saat penjualan di kelurahan membuktikan alokasi dari Pertamina, sangat mencukupi bahkan lebih,” terangnya.

Yang perlu didalami, kata pria berkacamata ini, ialah tindak lanjut pada para pengecer yang merusak jalur distribusi dari pertamina, agen, pangkalan, ke masyarakat. Seharusnya kata dia, tidak ada lagi yang menjual setelah dari pangkalan.

“Pengecer yang merusak jalur distribusi ini yang harusnya ditindak dan penindakan itu bukan kewenangan kami,” pungkasnya. (saf)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.