Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

SKK Migas Kalsul Ambil Bagian dalam Penanganan Stunting

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

BALIKPAPAN – Sebagai bentuk kepedulian dan peran dalam mendukung pengentaskan kasus Stunting, satuan Kerja Khusus Pelaksanan Kegiatan Usaha Hulu Minyak Dan Gas Bumi Perwakilan Kalimantan Dan Sulawesi (SKK Migas Kalsul) menggelar webinar Forum Tanggung Jawab Sosial (FJTS) 2021 Sesi II.

Webinar yang dilaksanakan, Kamis (18/11) melalui akun Youtube Balipapan TV dan zoom meeting dengan, tema Mengenali Akar Masalah dan Upaya Solusi Penanganan Stunting di Wilayah Sekitar Operasi Migas.

Mewakili Kepala Perwakilan SKK Migas Kalsul Azhari Idris, Spesialis Dukungan Bisnis SKK Migas Perwakilan Kalsul Damar Setyawan, mengungkapkan kegiatan webinar upaya penanganan stunting adalah merupakan salah satu bagian dari program pengembangan masyarakat di sekitar wilayah kerja SKK Migas khususnya di wilayah Kalsul.

“Data BKKBN angka kasus stunting balita Indonesia mengalami penurunan, tetapi dinilai masih tinggi oleh WHO, karena harus di bawah 20 persen,” ujarnya.

Masih menurut Damar, Pemerintah Indonesia menargetkan kasus stunting secara nasional turun ke angka 14 persen. Diharapkan dengan kegiatan webinar bertema upaya penanganan kasus stunting dapat menjadi satu langkah untuk menwujudkannya.

Sementara Deputi Bidang Pelatihan, Penelitian dan Pengembangan, Rizal Damanik dalam materinya menguraikan, stunting adalah gangguan pertumbuhan dan perkembangan akibat kondisi kekurangan gizi kronis. Berdasarkan survei status gizi balita tahun 2019, angka stunting di Indonesia sebesar 27,67 persen.

Penurunan angka stunting disebut menjadi bagian dari SDGS, yakni menghilangkan kelaparan dan menjamin akses bagi semua orang, khususnya masyarakat yang berada dalam kondisi rentan, termasuk bayi, terhadap makanan yang aman, bergizi dan cukup sepanjang tahun.

“Menghilangkan segala bentuk kekurangan gizi, termasuk pada tahun 2025 mencapai target yang disepakati secara internasional untuk anak pendek dan kurus dibawah usia lima tahun,” terangnya.

Senada dengan itu Founder Ayah ASI, Sogi Indra Dhuaja, dalam materi webinar mengajak para ayah untuk turut berperan dalam pemenuhan gizi buah hati. ASI menjadi makanan pertama bagi bayi hingga usia 2 tahun. “Dengan terpenuhinya kebutuhan ASI anak, akan berpengaruh pada tubuh kembang anak sehingga mampu mencegah stunting,” jelasnya.

Ditambahkannya, penanganan stunting pada anak dapat dimulai dengan memberikan ASI. Alasannya ASI lebih hemat dari susu formula, memiliki kandungan terbaik, resiko higienitas ASI lebih kecil dari susu formula. “Bayi yang kebutuhan gizinya tidak terpenuhi beresiko terkena stunting, dan berdampak pada tingkat intelegensi anak kedepannya,” urainya. (*/ron)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.