Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Situs Ceruk Toyali Rusak, BPCB Gorontalo akan Buat Kajian

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

POSO-Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Gorontalo mengatakan akan melakukan kajian terhadap dampak pengerukan tebing untuk pembuatan akses jalan ke Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Poso milik PT Poso Energi terhadap situs kubur prasejarah Ceruk Toyali di Kecamatan Pamona Utara, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah (Sulteng).

Kepala Unit Pengembangan dan Pemanfaatan Cagar Budaya BPCB Gorontalo, Romi Hidayat, mengatakan kajian akan dilakukan menyusul masuknya laporan masyarakat bahwa kegiatan pengerukan tebing telah menimbulkan kerusakan pada lingkungan sekitar situs.

“Peninjauan kami ke lokasi situs itu untuk melihat sejauh mana dampak kerusakan karena terjadi perubahan pada lanskapnya. Detil kerusakannya, detil penanganannya itu nanti setelah kajian,” sebut Romi pada wartawan.

Dijelaskannya, pada 2019, pihak BPCB sudah memberitahu PT Poso Energi bahwa kegiatan pengerukan aman dilakukan pada radius 25 meter dari situs. Namun, ternyata pengerukan dilakukan pada jarak kurang dari radius aman. Selain itu, lanjut Romi, PT. Poso Energi saat itu juga hanya memberitahu bahwa akan melakukan pengerukan Sungai Poso, dan tidak menyebut rencana pengerukan tebing untuk akses jalan.

Ceruk Toyali atau gua Toyali sendiri terletak di bawah tebing bukit kapur di pinggir Sungai Poso. Dari sejumlah temuan artefak, seperti tengkorak, tulang-belulang, dan yumu atau peti jenazah, situs itu dulu merupakan tempat penguburan. Di situs tersebut ada 10 tutup peti mati dan 13 badan peti mati sebagian besar sudah hancur dimakan usia. Salah satu tutup peti jenazah terdapat ukiran kepala kerbau. Menurut kepercayaan masyarakat masa lalu, kerbau merupakan tunggangan ke alam nirwana atau arwah. Selain tulang-belulang, temuan lainnya adalah tiga belanga tanah, satu piring kaleng, satu mangkuk dari tanah liat, tiga gelang perunggu, dan empat gelang manik-manik.

Pada peninjauan awal, Romi mengatakan, pihaknya menemukan kerusakan pada tulang-tulang dan gerabah yang berada di situs karena pengerukan tebing yang menggunakan ekskavator. Romi menyebut, situs Kubur Prasejarah Ceruk Toyali telah masuk daftar Registrasi Cagar Budaya Nasional dan terverifikasi pada 2017 dan telah didata oleh BPCB Gorontalo lewat kegiatan Inventarisasi Gua Kubur Prasejarah Pamona pada 2016.

Menurutnya, BPCB sudah bertemu PT Poso Energi untuk meminta perusahaan menghentikan aktivitias pengerukan di sekitar situs.

Kanca Awusi dari Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) Sulawesi Tengah di Poso mengatakan jika AMAN menolak keras kegiatan yang mengancam kelestarian Ceruk Toyali dan meminta pemerintah daerah (Pemda) mengeluarkan peraturan daerah untuk melindungi situs.

“Inilah yang selalu kami perjuangkan bagaimana pemerintah membuat satu peraturan daerah dalam hal melindungi lokasi-lokasi leluhur. Sementara ini kami tidak setuju karena leluhur-leluhur kami sudah diobrak-abrik yang hanya tulang-tulangnya. Apalagi kami yang masih hidup,” kata Kanca Awusi.

Menurutnya AMAN Sulteng menerima laporan kerusakan situs Toyali pada 27 Januari 2021. Kerusakan Ceruk Toyali juga menimbulkan kesedihan dan kekecewaan warga yang selama ini berupaya menjaga kelestarian situs.

Tadanugi, warga kelurahan Tendeadongi, mengatakan Ceruk Toyali sebelumnya berada di tempat yang terlindung dari sinar matahari. Namun, situs itu menjadi terbuka karena pengerukan yang menggunakan alat berat. “Yang menjadi keresahan kami, terus terang, perusahaan ini tidak menghargai leluhur kami yang sudah lama di kubur-kubur orang tua kami yang ada di sini,” kata pria berusia 69 tahun ini.

Muh. Irfan Syarif, Tim Legal PT. Poso Energy, menjelaskan bahwa pihaknya sudah mengikuti arahan BPCB Gorontalo dengan tidak melakukan kegiatan dalam radius 20 meter dari sisi kiri dan kanan situs tersebut. Bahkan akses jalan yang berada di depan situs nantinya akan dibuat sejauh lima meter dari lokasi awal ke arah sungai. Pihaknya juga akan menunggu hasil kajian yang dilakukan BPCB terkait situs.

“Jadi, kami berkoordinasi dengan pihak Balai Cagar Budaya bagaimana supaya kelestarian situs tetap terjaga sambil pekerjaan Poso Energy juga tetap terjaga,” ungkap Irfan.(bud)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.