Siti Nurda, Blasteran Eropa di Kolonodale, Tidak Malu Jual Nasi Kuning

- Periklanan -

Siti bersama anaknya yang juga memiliki mata biru, ditemui belum lama ini. (Foto: Ilham Nusi)

BOLA mata Siti Nurdan Hi Sawiru, Muhammad Rizal dan Afrisaldi berwarna biru. Mereka kerap disebut si mata kucing. Meski pribumi, ibu dan anak itu identik dengan ciri-ciri ras Kauskasoid dari benua Eropa.

ILHAM NUSI, Morowali Utara

TEPAT di depan jalan raya, kediaman Siti Nurdan (50) sangat mudah ditemukan. Letaknya hanya belasan meter dari arah barat kantor Kelurahan Kolonodale, Kecamatan Petasia, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah. “Silahkan masuk,” kata Siti, menyambut kedatangan Radar Sulteng, belum lama ini.

Dari jauh sepasang mata biru cukup jelas menghias wajah Siti. Bersamanya ada dua anak perempuan dan dua laki-laki duduk berkumpul di depan pintu rumah. Sambil terus mengiris kembang ziarah kubur, tawa mereka pecah saat wartawan menyampaikan maksud kedatangannya.

Rupanya Siti dan anak-anak itu sering menonton kisah anak si mata biru dari siaran televisi. Tapi baru kali ini ditemui langsung oleh wartawan. Keberadaan pribumi bermata biru memang sudah ditemukan di Lammo Aceh, Kisar Maluku, Lingon Maluku Utara dan Siompu, Sulawesi Tenggara. Jumlah mereka juga sangat sedikit. “Ow iya, mata kami memang biru. Ada yang sepasang, ada cuma sebelah. Tapi semua masih keturunan kakek,” katanya.

Siti menuturkan, mediang kakek dan ayahnya juga punya mata biru. Bedanya mereka hanya sebelah saja. Kelainan itu juga tidak semua menurun ke anak dan cucunya. Dimulai dari ayahanya bersaudara sembilan, hanya Hi Sawiru matanya biru. Kemudian Siti dari lima bersaudara. Selanjutnya dua ponakan Siti yakni Aco dan Syukur serta dua orang terakhir adalah anak kandung Siti, Muhammad Rizal (15) dan Afrisaldi (13).

Menurut dia, kakeknya berasal dari Buton, Sulawesi Tenggara. Namun hingga saat ini mereka tidak pernah bertemu keluarga kecuali melihatnya dari tayangan televisi. “Kalau saya dan saudaraku lahir di tanah Witamori (Kolonodale). Enam anakku juga lahir di sini. Kita cuma tau dari televisi ada keluarga di Buton,” tandasnya.

Perempuan berjilbab itu sekarang sedikit lega. Sebab anak sulungnya Ahmad Albar (23) sudah menikah dan bekerja. Kemudian Siti Hardianti (21) berkuliah, sementara Wahyu Saputra (19), Muhammad Ikbal (17) Muhammad Rizal dan Afrisaldi masih bersama dirinya untuk dirawat.

- Periklanan -

Meski tak lagi bersama suami sejak 11 tahun silam, Siti mengaku hidup apa adanya. Kebutuhan harian dapat dipenuhi dengan bekerja serabutan sambil menjual kue dan nasi kuning di rumah sakit. Segala cobaan pun gagal memaksanya hidup menadah tangan. .

“Suami pergi saat Afrisaldi masih di kandungan dua bulan. Tapi alhamdulillah banyak saudara yang membantu saya. Anak ketiga juga membantu saya mebiayai adik-adiknya,” kenang Siti tak kuasa menahan lelehan air mata.

Sejak ayahnya meninggal 22 tahun silam lalu disusul ibunya, Sudaeri setahun kemudian, Siti dan anak-anaknya tinggal di rumah berstatus budel peninggalan orangtua. Beruntung saudara kandungnya bisa memahami kondisi itu. “Saya rajin, jadi tidak pernah susah. Apalagi hanya untuk sekadar makan sehari-hari. Saya pernah membutuhkan bantuan saat melahirkan anak bungsu. Itu saja,” katanya.

Saban hari, Siti jualan 30 bungkus nasi kuning di RSUD Kolonodale. Dari Rp300 ribu, dia mendapat laba bersih sebanyak Rp100 ribu. Semua bahan baku kue dan nasi kuning boleh diutang dan dilunasi akhir bulan.

“Subuh saya antar kue ke pasar. Paginya baru saya jualan nasi kuning. Saya hanya menjaga kepercayaan dari teman-teman pedagang. Para tetangga saya juga baik-baik orangnya,” ungkapnya.

Jika ada bantuan dari pemerintah, mereka selalu mendapat bantuan. Siti juga menghatur terimakasih kepada mantan Kapolres Morowali Suhirman yang telah menyekolahkan putri tunggalnya hingga duduk di STIKES Siarsih Kota Bukittinggi, Sumatera Barat. “Sudah delapan tahun anak saya tinggal bersama Pak Suhirman. Padahal saya dulu hanya jadi pembantu rumah tangga saat beliau Kapolres Morowali,” ujarnya.

Siti Hardianti yang kini semester IV D3 keperawatan saat pertama ditawarkan sekolah hingga kuliah mengaku sangat senang. Rasa sedih juga tak dapat disembunyikan tatkala lebaran tidak mudik. “Saya mampu menahan rindu dengan satu tekad ingin sukses hingga bisa membiayai ibu ibadah haji,” kata Hardianti.

Gadis berjilbab itu ingin mengabdikan ilmunya di tanah kelahiran. Jika sudah bekerja baru akan melanjutkan ke strata satu. “Keluarga Pak Suhirman sangat baik sama saya. Bahkan nama saya masuk dalam daftar kartu keluarga mereka,” imbuh dia.

Saat ini, Siti Nurdan fokus membiayai sekolah Muhammad Ikbal di Madrasah Aliyah dan Muhammad Rizal yang mondok di Pesantren Hafiz Alquran, Kelurahan Marsaoleh Kecamatan Bungku Tengah Kabupaten Morowali. “Rizal sudah hafidz 7 jus. Matanya lebih biru dan cantik dari saya dan adiknya. Setiap Idul Fitri pasti dia pulang kesini,” sebutnya. (**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.