Siswa SD Diduga Dikurung Guru Dalam Kelas, Wali Kelas:  Tidak Sengaja

- Periklanan -

Ilustrasi (@http://dunia-kecil-ku.blogspot.co.id)

PALU – Emosi dari orang tua murid Sekolah Dasar Negeri (SDN) Inpres Kabonena, Kelurahan Kabonena, Kecamatan Ulujadi, tidak terbendung saat mengetahui anaknya terkurung dalam kelas sendirian.

Nz (6), siswa kelas 1 di sekolah tersebut, didapati langsung oleh ibunya ketika tengah histeris meminta tolong karena terkunci sendirian dalam kelas. Kejadiannya sekitar pukul 11.20 Wita begitu.

Ditemui di rumahnya, Sulianti, ibu dari siswa SDN Inpres Kabonena itu mengungkapkan, anaknya di dalam kelas terlihat menangis meminta tolong untuk dibukakan pintu. Sementara rekan-rekannya yang lain yang berada di luar kelas, hanya bisa menyaksikan Nz dari balik jendela.

“Saya memang curiga kenapa ini anak (Nz) belum pulang-pulang. Saya kemudian datang ke sekolah. Saya lihat banyak anak-anak mengintip ke kelas lewat jendela. Saya pikir masih banyak juga anak-anak dalam kelas, ternyata cuma anak saya sendiri yang ada di dalam,” tutur Sulianti, usai kejadian Senin siang (6/2) kemarin.

Memang karena sekolah dan tempat tinggal yang dekat, Nz kerap pulang sendiri ke rumah. Namun kemarin, karena curiga, Sulianti datang sendiri menjemput anaknya yang belum juga pulang. “Saya sendiri langsung shock melihat anak saya dikurung dalam kelas seperti itu,” ungkap Sulianti kesal.

Tidak berselang lama setelah kedatangannya, Wali Kelas dari Nz pun terlihat, dan melontarkan pernyataan bahwa Nz terlalu lambat menulis. Gembok pintu kelas pun akhirnya dibuka oleh petugas di sekolah tersebut. “Saya langsung masuk dan lihat sendiri anak saya sudah pucat, karena terkurung dalam kelas. Saya pun langsung menangis juga lihat anak saya dibikin begitu,” katanya.

Pernyataan sang wali kelas yang diketahui bernama Mas’ad itu pun, kata dia, mengindikasikan  bahwa memang putranya sengaja dikunci dalam kelas karena terlambat menulis. Memang diakui Sulianti, putranya masuk ke sekolah tersebut belum cukup umur, namun pihak sekolah sendiri yang memperbolehkan untuk bersekolah. “Anak saya ini memang tidak TK, langsung SD, jadi menulis agak lambat. Tapi itu kan tidak bisa jadi alasan dibuat begitu anak saya,” sebutnya.

- Periklanan -

Sementara itu, Iswan, ayah dari Nz, masih nampak emosi dengan perlakuan yang dialami putranya. Dengan nada sedikit meninggi, Iswan mengaku akan melaporkan perlakuan sang guru ke pihak kepolisian. Sebab, hal itu kata dia, sudah mengganggu psikologis sang anak dan sudah bentuk dari kekerasan terhadap anak di bawah umur.

“Saya sebagai orang tua, darah daging saya dikurung seperti itu pasti tidak terima,” tegasnya.

Lanjut dia, sekolah yang seharusnya menjadi tempat mendidik anak, malah menjadi semacam momok menakutkan, bila anak tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik. Nz, memang belum lancar menulis, seharusnya kata Iswan, anaknya diajar dengan baik agar bisa lancar menulis. “Bukan dengan cara-cara kekerasan semacam itu,” terangnya.

Kata Iswan, sang guru berdalih tidak melihat anaknya masih berada dalam kelas, karena sedang buru-buru ke pesta. Jika memang seperti itu, sebut dia, bila terjadi sesuatu semisal anaknya terjatuh dalam kelas dan tidak ada yang melihat, maka akibatnya juga akan lebih fatal lagi. “Secara tidak langsung perlakuan begitu sama saja dia mau membunuh anakku,” tegas warga Perumahan Delta, Kelurahan Kabonena, tersebut.

Dikonfirmasi terpisah, Mas’ad, wali Kelas 1 SDN Inpres Kabonena mengaku, sudah tidak mengingat lagi jika dirinya sedang menunggu Nz yang masih menulis. Dirinya saat itu sudah tidak fokus, karena memikirkan pesta yang harus dihadirinya.

“Saya kebetulan jadi panitia di pesta dekat sekolah. Jadi pikiran saya sudah terbagi. Demi Tuhan, saya tidak sengaja mengunci murid saya itu di dalam kelas,” sebut Mas’ad meyakinkan.

Dia pun baru tahu jika Nz masih dalam kelas, ketika salah seorang operator di sekolah tersebut menyampaikan bahwa masih ada muridnya di dalam kelas yang sudah terkunci. Mas’ad mengaku, langsung berlari menuju ke kelas itu untuk meminta operator membuka kunci gembok.

“Bersamaan dengan itu ada juga ibunya, saya sudah minta maaf sampaikan bahwa tidak sengaja. Tapi orang tuanya memang tidak terima. Tapi sekali lagi saya sampaikan saya tidak sengaja soal kejadian itu,” katanya lagi. (agg)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.