Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Sirenja Diterjang Air Pasang di Pagi Hari

Aktivitas Warga Ikut Terganggu

DONGGALA – Air pasang pasca gempa bumi 28 September 2018 lalu tidak hanya membuat beberapa desa di Kecamatan Sirenja terendam menjelang sore hingga malam hari, namun beberapa bulan terakhir air pasang pun datang di pagi hari. Desa yang terendam air pasang sendiri diantaranya Tompe, Lompio, Lende dan Tanjung Padang.
Pantaun Radar Sulteng, air pasang ini juga membuat antrean panjang kendaraan di desa Tompe hingga perbatasan Lompio yang menunggu air pasang surut, karena yang dikhawatirkan jika menerobos akan berpengaruh ke mesin kendaraan.
“Saya habis salat subuh sudah antar motor di posisi yang aman, setelah itu kembali ke rumah untuk sarapan dan mandi. Karena rumah di utara, tempat kerja di selatan,” kata Pjs Kepala Desa Tompe Daeng Marela SAp kepada Radar Sulteng, Selasa (23/4).
Jika tidak begitu, Daeng Marela harus menunggu sampai air pasang surut sekitar pukul 10.00 wita pagi.
“Kalau motor sudah menyeberang kan aman, tinggal kita jalan kaki seberangi genangan air. Saya saja sekarang ini tidak memakai sepatu lagi,” lanjutnya.
Kondisi air pasang di pagi hari ini kata Pjs Kades Tompe sudah mulai terjadi di Februari hingga April saat ini. Menurutnya genangan di saat ini sedikit lebih naik dari sebelum-sebelumnya.
“Mungkin saja karena beberapa kali gempa susulan yang berkekuatan 3 sampai 5 SR itu mengguncang, sehingga membuat tanah tidak labil dan semakin menurun,” terangnya.
Air pasang yang bisa mencapai 1 meter di pekarangan rumah warga ini datang dua kali dalam sebulan. Daeng Marela menyebutkan jika dulu air pasang masuk dari muara sungai dan menyebar ke lahan dan pemukiman, sekarang gelombangnya itu sudah turun di belakang rumah warga.

“Air pasang ini menggenangi sekitar 400 meter dari bibir pantai. Kalau di jalan bisa sampai lutut, di halaman rumah bisa sampai paha, kalau di belakang rumah bisa sampai dada,” sebutnya.

Daeng Marela mengungkapkan, beberapa orang guru yang ditugaskan saling silang sebagai pengawas ujian di tingkat SMP, mau tidak mau harus menyeberangi air pasang.
“Guru yang dari Utara ke Selatan, begitupun sebaliknya, jadi harus seberangi genangan satu-satunya jalan,” tutupnya. (acm)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.