Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Sidang Mediasi Mulai Mengungkap Terjadinya Perselingkuhan Itu

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

TOUNA-Isteri AB, Maryani Y.Rani, telah mengikuti sidang mediasi di Pengadilan Agama (PA) Ampana Kabupaten Tojo Unauna (Touna), Rabu (25/8).
Tiga orang hakim menjadi mediator dalam kasus yang mendapat perhatian masyarakat Sulteng ini.

“Iya pak, saya sudah mengikuti sidang perdana sidang mediasi di pengadilan Agama Ampana Kabupaten Tojo Unauna hari Rabu tanggal 25 Agustus 2021, “ kata Maryani Y. Rani kepada Radar Sulteng.

Maryani merupakan seorang isteri yang tegar. Wanita yang juga memiliki kesabaran luar biasa meskipun merasa terbebani oleh perilaku suaminya yang telah memiliki Wanita Idaman Lain (WIL), yang kemudian mengajukan gugatan cerai terhadap Maryani dengan berbagai upaya.

Maryani juga harus berusaha sendiri menghidupi tiga orang anaknya yang masih kecil, dirinya digugat cerai oleh suaminya berinisiasl AB. Walau ditutupi dan dibungkam dengan cara apapun juga, kebenaran akan menemukan jalannya sendiri. Ungkapan kalimat ini ternyata benar adanya.

Peristiwa dugaan perselingkuhan antara AB dan OA ini dari awal ditampik oleh keduanya, namun tak diduga fakta ini justeru diakui oleh AB melalui Kuasa Hukumnya Ishak P. Adam, Moh. Firda Husain dan Nasrun dari Kantor Hukum Ishak Adam, SH., MH., CLI dan rekan, dalam dokumen gugatan yang dikirimkan ke Pengadilan Agama Negeri Ampana Kabupaten Touna khususnya pada point 5.4, 5.5, dan 5.6 pada 17 Agustus 2021.

Pantauan media ini, gugatan yang disusun oleh AB melalui kuasa hukumnya tersebut terdiri dari 9 pokok materi, namun semuanya terkesan seperti dipaksakan saja. Seperti contoh misalnya pada point 5.6, disebutkan antara lain bahwa berdasarkan Surat Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) Nomor 167/VIII/2021/ Reskrim tanggal 10 Agustus 2021, dimana dikutip hanya pada point 4 lembar pertama surat tersebut yang seolah-olah penyidik sudah memberi kesimpulan bahwa belum menemukan peristiwa pidana.

Padahal dilembar ke-2 dari surat tersebut khususnya poin 5 menyebutkan bahwa rencana tindaklanjut, penyidik akan melakukan koordinasi dengan Jaksa Penuntut Umum (JPU). Dari fakta ini saja sangat terkesan sekali adanya tindakan yang tergesa-gesa dari kuasa hukum AB untuk menjadikan dasar gugatan perceraian AB ke Pengadilan Agama Touna, prematur.

Sebenarnya, kalau kuasa hukum AB sedikit agak cerdas saja menyusun materi gugatan perceraian, tidak usah mencantumkan dugaan perselingkuhan dan nikah siri antara AB dan OA, sebab tidak ada korelasinya secara yuridis dan juga tidak menjadi persyaratan untuk sahnya sebuah dokumen gugatan perkara. Karena berbeda ruang dan mekanisme penanganannya, justeru malah menjadi bumerang.

“ Kalau saya yang menyusun materi gugatan tersebut, untuk apa saya cantumkan dugaan kasus perselingkuhan tersebut, toh bukan menjadi kewenangan Pengadilan Agama untuk memutuskan kasus tersebut, jadi apa untungnya. Yang tadinya bersikukuh tidak mengakui adanya dugaan kasus perselingkuhan antara AB dan OA malah dijadikan dasar gugatan perceraian di Pengadilan Agama Touna, “ tutur sumber koran ini.

Malah dari sisi penanganan perkara pidananya oleh pihak Polres Touna menunjukan perkembangan yang sangat signifikan, hal ini ditunjukkan dalam Surat Perkembangan Hasil Penyelidikan (SP2HP) Nomor 174/VIII/2021/ Reskrim tanggal 20 Agustus, pada poin 3 yang menyebutkan bahwa rencana tindakan selanjutnya penyelidik akan melakukan pemeriksaan tambahan terhadap saksi-saksi sesuai petunjuk dari Jaksa Penuntut Umum (JPU).

Terkait dengan apa saja petunjuk dari JPU tersebut ketika media ini menanyakan kepada Mariani Y.Rani, dijawab singkat bahwa biar saja masalah itu ditanyakan dan diurus oleh kuasa hukum saya.

Kerja-kerja dari Polres Touna, khususnya Satreskrim perlu diberi apresiasi karena telah bekerja sesuai protap dan SOP. Begitupun dengan pihak kejaksaan, dalam hal ini Kejaksaan Tinggi (Kejati) Provinsi Sulawesi Tengah yang sejak awal pemberitaan di koran ini telah memberi penjelasan bahwa jangan pernah meragukan kerja-kerja dan kredibilitas aparat hukum berbaju coklat ini.

“ Kami bekerja sesuai aturan dan ketentuan, dan kami tidak akan terpengaruh dengan pihak manapun juga, “ sebut seorang pejabat di Kejaksaan Tinggi Sulteng, yang mengomentari sidang mediasi ini.

Pada sidang perdana kemarin, majelis hakim sempat mempertanyakan kartu pengacara milik Ishak Adam yang telah berakhir masa berlakunya sejak tahun 2018. Sebaliknya, Mariyani Y.Rani belum didampingi oleh kuasa hukumnya. Sidang tersebut masih tahap mediasi, sidang dibuka oleh Hakim Ketua. Sidang ditutup untuk selanjutnya dilakukan sidang lanjutan pada 1 September 2021.

Dalam sidang mediasi kemarin, hakim sempat bertanya ada apa AB dan OA cuma berdua di dalam rumah.

“ Kalau misalnya pengepakan barang seserahan kan masih ada isteri AB, kenapa menggunakan bantuan “teman perempuan” yang tidak ada hubungan keluarga dengan AB, “ demikian sekelumit pertanyaan yang diajukan oleh hakim yang diceritakan kembali oleh Maryani Y.Rani kepada media ini selepas sidang mediasi.(mch)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.