Sidak, Jual Gas di Atas HET, Satu Pangkalan Ditutup

- Periklanan -

Salah satu kios di Jalan Tanjung Manimbaya yang disidak, Selasa (15/8). (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Pemerintah Kota Palu melalui bagian Perekonomian, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, Satuan Polisi Pamong Praja, dan aparat Polres Palu melakukan inspeksi mendadak ke sejumlah pangkalan elpiji dan kios yang menjual gas 3 Kg di wilayah Palu Selatan, Selasa (15/8).

Dari hasil sidak ditemukan banyaknya pelanggaran yang masih dilakukan pangkalan resmi dari berbagai agen tersebut. Kios-kios dan usaha mikro juga ditemukan masih menjual gas 3 kg di atas harga eceran tertinggi (HET).

Kabag Perekonomian Pemkot Palu, Tamin Tombolotutu, mengatakan baik kios dan pangkalan saat dimintai keterangan masih belum memberikan informasi yang akurat. Akan tetapi, dari pengakuan warga sekitar pangkalan dan kios telah melanggar karena menjual harga dari ketentuan HET. Malah, beberapa pangkalan menjual keluar dari area wilayah yang menjadi ketentuannya.

“Mereka tidak ingin mengaku, tapi bukti sudah ada. Kami akan tindaklanjuti dengan memanggil agen dan pertamina, agar pangkalan-pangkalan yang bermasalah ini diberikan pembinaan,” kata Tamin kepada Radar Sulteng.

Saat berjalannya sidak, juga ditemukan masyarakat yang memiliki usaha mikro menjual gas 3 kg dengan harga Rp20 ribu per tabung.

“Padahal dia bukan pangkalan, tapi menjual ke masyarakat. Kita beri teguran, jangan berjualan lagi, hanya bisa untuk dipakai sehari-hari,” lanjut Tamin.

Kepala Disperindag Kota Palu, Farid Yotolembah menambahkan, beberapa pangkalan yang disinyalir melakukan pelanggaran dengan menjual di atas HET nantinya akan dilakukan pemanggilan untuk dilakukan pembinaan kembali.

“Belum sampai ditutup, tapi ada pembinaan. Kalau langsung ditutup masyarakat perlu gas 3 kg cari dimana?” kata Farid.

- Periklanan -

Dia menjelaskan, bahwa sumber dari gas 3 kg ini dari Pertamina dan menyalurkan ke agen atau distributor. Setelah itu ke pangkalan dan disalurkan ke pengecer. “Saat ini dilihat bahwa pangkalan-pangkalan kosong sedangkan pengecer atau di kios-kios banyak, hal ini yang mau ditertibkan,” sebutnya.

Saat posisi pangkalan kosong, Farid menyebutkan, ketika ditanyakan ke pihak Pertamina tidak adanya kelangkaan gas 3 kg. sementara di Kota Palu itu sendiri terdapat 7 agen resmi, dan 800 unit pangkalan resmi.

Sehingga kata Farid, yang menjadi permasalahan saat ini pengecer atau kios-kios dapat gas 3 kg itu dari mana. Ini yang ingin ditelusuri melalui sidak.

“Jika terdapat dari salah satu pengecer tidak ada izinnya maka gas 3 kg akan diangkat, harus memiliki izin tersebut, kalau hanya surat rekomendasi dari kelurahan tidak bisa,” kata Farid.

Farid mengungkapkan, bahwa gas 3 kg ini diwajibkan untuk dibantu ke masyarakat miskin. Sesuai ketentuan harga gas 3 kg ini Rp16 ribu, dan sekarang harganya melambung Rp25 ribu.

“Selama ini banyak salah sasaran, seharusnya bagi masyarakat yang tidak mampu,” ujar Farid.

Salah seorang pengawas Agen Abba Mulia Sejahtera Mandiri, Sahlan menambahkan, terdapat salah satu pangkalannya ditutup dalam sidak yang diikutinya saat itu.

Pangkalan tersebut menjual gas 3 kg dengan harga Rp17 ribu hingga Rp 18 ribu ke masyarakat. Tambahnya, jika ada pangkalan yang sudah pasti melakukan pelanggaran, sebaiknya agennya yang bersangkutan langsung menutup pangkalan tersebut.

“Saya diundang oleh pemerintah untuk turun sidak bersama. Dan ada pangkalan saya yang bermasalah langsung diputuskan untuk ditutup. Seharusnya ada perwakilan dari agen-agen lain dalam sidak ini, tapi hanya saya yang hadir,” pungkasnya. (cr2)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.