Sesar Tak Bernama di Touna Kembali Aktif

Termasuk Kawasan Rawan Gempa Bumi Guncangan Kuat

- Periklanan -

TOUNA – Padahal baru tepat sebulan sesudah diguncang gempa bumi merusak berkekuatan 6,3 SR, Ampana Kabupaten Tojo Una-una kembali diguncang gempa bumi tektonik 5,8 SR, Kamis (26/8), sekitar pukul 8.14 wita. BMKG Stasiun Geofisika Klas I Palu menyebutkan gempa yang tidak berpotensi tsunami di sekitar Pulau Togean ini diakibatkan oleh sesar yang belum bernama.
Menurut Kepala BMKG Stasiun Geofisika Klas I Palu Sujabar bahwa sesar belum bernama ini membujur dari timur ke arah barat dan ujungnya sampai di kawasan pantai Kabupaten Poso.

Memang kata Sujabar, ada indikasi juga sesar belum bernama ini terusan dari sesar Balantak. Sedangkan untuk pemberian nama sendiri bukan dari kewenangan BMKG, tapi perlu ada kesepakatan di level keilmuwan geologi.

“Namun dalam catatan BMKG untuk sesar Balantak itu membujur dari kecamatan Balantak sendiri terpotong di laut, sedangkan titik gempa ini berada di antara pulau Togean. Kemungkinannya gempa yang 6,3 SR lalu itu batuannya belum stabil, sehingga melepas energi kembali namun di sisi timurnya,” jelasnya, kemarin (26/8).

Sementara itu data yang diperoleh dalam sejarah pusat gempa Tojo Una-una mencatat telah terjadi lebih dari 8 kali gempa kuat dan merusak, seperti gempa 23 Februari 1923 (6,5) , gempa 1 Desember 1927 (6,3), gempa 30 Juni 1964 (6,6), gempa 11 Oktober 1964 (6,2), gempa 23 April 1966 (6,5), gempa 4 Februari 1969 (6,1), gempa 15 Maret 2015 (6,1) dan gempa 26 Juli 2021 (6,3).
“Kalau dari sejarahnya memang kawasan ini rawan gempa, sudah sering dan cukup aktif,” singkatnya.

- Periklanan -

Gempa 5,8 SR ini juga lebih berdampak pada kerusakan kata Sujabar, karena yang sekarang titik gempa itu tidak jauh dari Kota Ampana hanya berjarak 12 kilometer pada kedalaman 10 kilometer, sedangkan gempa 26 Juli yang berada di bagian Teluk sekitar 50 kilometer.

Mekanisme pergerakannya sendiri mendatar (strike slip) dan guncangan gempa bumi juga dirasakan di Poso, Morowali, Luwu Timur, Parigi Moutong, Palu, Buol hingga Toli-toli.

“Pantaun alat kami tingkat guncangannya kalau di Ampana sekitar IV sampai V MMI, jadi hampir dirasakan semua orang, kalau sudah V MMI pasti ada bangunan rusak apalagi kontruksinya belum tahan gempa, umumnya kerusakan itu bangunan tembok yang tidak ada kolomnya pengikatnya, dinding juga ada yang terkelupas,” terangnya.

Sementara untuk susulan gempa 5,8 SR hingga pukul 21.20 wita Kamis malam sudah ada sebanyak 8 kali dengan kekuatan terbesar 3,9 dan terkecil 2,6 SR. Sujabar mengakui yang perlu diingatkan ke masyarakat tetap tenang tapi waspada terjadi gempa susulan, tapi harapannya susulan itu tidak besar lagi. Kemudian tidak terpengaruh oleh isu yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

“Kami dapat informasi ada satu korban meninggal dunia seorang anak- anak yang tertimpa tembok pagar, mungkin lari keluar rumah karena panik ada gempa. Jadi rata-rata tembok yang rubuh ini tidak ada pengikatnya,” tutupnya. (acm)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.