Sesalkan Tertutupnya Tim Tanggap

- Periklanan -

PALU – Pernyataan Ketua Tanggap Darurat bencana alam Kementerian Agama (Kemenag) Sulteng, Dr Kiflin Padjala, di media ini terkait bantuan Aparatur Sipil Negara (ASN) se Indonesia senilai Rp 10 miliar, mendapat tanggapan balik dari para ASN Kemenag yang terkena bencana alam, baik gempa bumi, tsunami, maupun likuifaksi di Kota Palu, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Donggala (Pasigala).
Para korban ASN Kemenag, menyatakan mestinya tim Tanggap Darurat yang diketuai Dr Kiflin Padjala lebih transparan lagi.
“Kalau dilihat dari pernyataannya pak Kiflin Padjala selaku Ketua Tim Tanggap Darurat sepertinya menyimpan sesuatu, masih ada yang tidak jelas, dan tertutup. Mestinya tim yang sudah dipercayakan Menteri Agama ini lebih terbuka dan lebih transparan dalam melakukan pendistribusian bantuan dari ASN Kemenag seluruh Indonesia yang telah disalurkan Menteri Agama RI Dr Lukman Hakim Saifudin saat berkunjung ke Palu di awal bulan Oktober 2018 lalu,” kata salah seorang ASN Kemenag Sulteng, yang minta namanya dirahasiakan, kepada Radar Sulteng.
Menurutnya lagi, sikap yang diperlihatkan tim Tanggap Darurat Kemenag Sulteng sangat disayangkan, enggan melisting nama-nama penerima bantuan, tetapi hanya menyebut bantuan fisik ke sejumlah madrasah dan rumah ibadah. “Ini bagaimana tim Tanggap Darurat tidak mau melisting nama-nama para ASN Kementerian Agama di Palu, Sigi, dan Donggala yang ada, padahal semuanya terkena dampak bencana alam,” tambahnya.
Disesalkannya lagi, ada penerima bantuan empati secara spontanitas, ada yang ditelpon oleh tim Tanggap Darurat, padahal tidak hadir di kantor saat itu, tetapi ditelpon untuk menerima bantuan. Justru dirinya yang saat itu hadir tidak menerima sama sekali bantuan sepeser pun.
“Saya tidak dan belum menerima bantuan, padahal saya saat itu hadir ketika pejabat dari Kementerian Agama RI atau kementerian pusat datang di kantor kami di Kanwil Kemenag Sulteng,” bebernya.
Ia juga mengkritik cara tim Tanggap Darurat yang tidak akurat dalam mencatat ASN yang hadir. Oleh ketua tim Tanggap Darurat mengatakan ada 90 ASN Kemenag yang hadir saat pejabat Kemenag RI datang dan ada yang memberikan bantuan secara spontanitas. Tetapi dalam konfirmasinya dengan salah seorang staf di Kemenag RI, Arief, yang juga datang saat bersama pejabat Kemenag RI memberikan bantuan di kantor Kanwil Kemenag Sulteng, ada 99 orang sesuai dengan daftar absen yang diberikan tim tanggap darurat.
“Ketua tim mengatakan yang menerima sudah 50 orang, dan yang belum menerima sekitar 40 orang, akan diberikan melalui rekening masing-masing. Lalu dimana yang lain, terus mengapa ada yang lebih begini sampai 99 orang,” tanyanya.
Sementara itu, salah seorang ASN Kemenag Kabupaten Sigi yang tinggal di Kelurahan Petobo dan rumahnya rusak rata dengan tanah, kepada Radar Sulteng, mengatakan hingga saat ini belum menerima bantuan, sesuai yang diminta oleh Kemenag RI.
“Saya belum menerima bantuan dari Kemenag RI. Katanya ada bantuan sebesar Rp 10 miliar untuk ASN yang rumahnya rusak berat di Pasigala, tetapi kami justru belum dapat,” ujarnya, dan minta namanya tidak disebutkan.
Demikian pula seorang ASN Kemenag, sehari-hari bekerja sebagai seorang guru di Madrasah Tsanawiyah Kota Palu yang bermukim di Jalan Kanna Kelurahan Balaroa Kota Palu, juga mengungkapkan dirinya dan suaminya yang ASN Kemenag sejauh ini belum menerima bantuan.
“Rumah kami juga rata dengan tanah. Katanya ada bantuan, tetapi saya dan suami saya belum menerima bantuan sama sekali. Kami hanya menerima bantuan yang dari Dharma Wanita punya. Jadi tinggal bantuan yang dari Kemenag ini yang belum. Padahal bantuannya besar, Rp 10 miliar, untuk ASN Kemenag, ” ungkapnya.
Selain ASN, juga ada sejumlah honorer yang bekerja di Kanwil Kemenag Sulteng, hanya mendapatkan bantuan ala kadarnya, dipotong, jauh dari semestinya. Seperti yang disebutkan ketua tim Tanggap Darurat bantuan dari ASN Kemenag seluruh Indonesia bahwa ada bantuan untuk para hononer yaitu Rp 1,5 juta perorang. “Namun pada kenyataannya, kawan kami yang honorer itu mengaku hanya diberi Rp 500 ribu rupiah. Kemana yah yang satu juta nya,” paparnya.
ASN yang cukup vokal dan aktifis inipun diakhir pernyataannya mengatakan, tim Tanggap Darurat sekali lagi jangan menutup-nutupi penyaluran bantuan yang dikendalikan oleh tim, apalagi tidak memberi listing nama-nama penerima. “Kenapa harus ditutup-tutupi para penerima. Justru kalau ditutup-tutupi ini berbahaya, “ tegasnya.
Ketua Tim Tanggap Darurat, Dr Kiflin Padjala, sebelumnya saat dikonfirmasi Radar Sulteng sudah menyatakan bahwa pihaknya hanya membantu tim inti dari Kemenag RI. Bahkan bantuan penerima pun, dikirim ke rekeningnya masing-masing. Mengenai listing nama penerima bantuan, dikatakan Kiflin itu tidak terlalu penting, sebab data dan dokumentasi para ASN Kemenag terdampak bencana, misalnya meninggal dunia, dan rumahnya rusak berat sudah di tangan Kemenag RI. Data dan dokumen sudah di kirim ke Kemenag pusat di Jakarta.
“ Yang mengendalikan ini semua adalah Kemenag RI, Kemenag pusat Jakarta. Kami di sini tidak pegang uangnya, tapi hanya perpanjangan tangan saja, “ pungkas Kiflin.
Kemudian dikonfirmasi lagi, kemarin (2/1) Ketua tim Tanggap Darurat Kemenag Sulteng, yang juga Kabag TU Kanwil Kemenag Sulteng, Dr H Kiflin Padjala, kembali menegaskan bahwa para penerima bantuan yang merupakan ASN Kemenag Sulteng dibuatkan Surat Keputusan (SK) oleh Kepala Kanwil (Kakanwil) Kemenag Sulteng Dr H Rusman Langke.
“ Tentang penerimaan bantuan bencana alam di Palu, yang dibantu melalui dana bantuan ASN Kemenag se Indonesia melalui Kemenag RI, penerima baik lembaga maupun perorangan itu diberikan sesuai dengan SK Kakanwil, sesuai petunjuk dari pusat, “ kata Kiflin Padjala.
Demikian pula saat dikonfirmasi dengan Kakanwil Kemenag Sulteng, Rusman Langke, membenarkan apa yang disampaikan Kiflin Padjala. “ Iya, “ tandas Kakanwil singkat. (mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.