Serunya Megalit Hunt di Lembah Behoa, Lore Tengah, Kabupaten Poso (2)

- Periklanan -

Gagal di Situs Bangkeluo, Tebus di Situs Lempe

BERHASIL: Setelah pencarian yang begitu seru di dalam hutan lebat, akhirnya tim Radar Sulteng bersama Zetizen  Radar Sulteng berhasil menemukan patung megalit berupa ibu hamil tanpa guide dalam misi Megalit Hunt di Situs Lempe, Selasa (3/1). (Foto: Nursoima)

 

Awal yang baik di Situs Pokekea, membuat tim Radar Sulteng bersama Zetizen Radar Sulteng di atas angin dalam misi Megalit Hunt. Tim berpikir mudah saja mendapati megalit yang diinginkan di setiap situs. Kenyataannya tidak semudah yang dibayangkan. Tidak sedikit tantangan yang harus dihadapi dan justru membuatnya semakin seru!

Laporan: Nur Soima Ulfa


MEMILIKI waktu kurang dari 12 jam, karena terlena di Situs Pokekea selama lebih kurang 5 jam, tim lantas bergerak cepat untuk menuntaskan misi Megalit Hunt (mencari megalit, red). Usai packing tenda dan perlengkapan lainnya, tim langsung memutuskan untuk menuju Situs Bangkeluo.

Situs ini tidak begitu jauh dari Situs Pokekea. Kira-kira kurang dari satu kilometer melewati jalan desa yang didominasi oleh aspal tipis dan beberapa jalan berupa tanah tanpa aspal. Jika pergi ke Situs Pokekea yang terletak di Dusun Pendele, Desa Hanggira, maka sejatinya jalan masuk ke situs yang berada di Desa Baleura ini, dilewati.

Sesampainya di jalan masuk Situs Bangkeluo, tim berkendara kurang lebih 500 meter masuk ke daerah persawahan. Jalan masuk ke situs ini sangat berbeda dengan Situs Pokekea. Jalan masuk didominasi oleh rumput ilalang tinggi. Bukan hanya di kanan kiri jalan tetapi juga di tengah jalan. Kondisi ini membuat kendaraan tim tidak bisa memacu kecepatan karena harus berhati-hati untuk menghindari  jika ada rumput yang tersangkut di gardan atau bagian mesin mobil lainnya.

Lepas 500 meter, tim memutuskan melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki. Bukannya tidak ada akses jalan mobil di depan sana, tetapi jalanan yang hampir tertutup oleh ilalang yang bertambah lebat membuat tim ragu. Maka, jalan kaki adalah solusi terbaik untuk mencapai situs ini.

Namun, sepertinya jalan kaki bukan keputusan yang tepat. Apalagi jika tidak membawa parang untuk memaras rumput yang semakin tinggi. Tim yang berjalan kira-kira sejauh hampir satu kilometer kemudian memutuskan untuk berhenti dan balik kanan. Pasalnya, Situs Bangkeluo yang menurut Sunardi Pokiro (38), juru pelihara megalit yang ditugaskan di Situs Pokekea, berisi megalit berupa kalamba dan patung manusia, tak kunjung ditemukan oleh tim.

Satu-satunya informasi tentang lokasi situs ini hanyalah dari petani yang bekerja di sawah sekitar jalan masuk situs. Itupun tidak memberikan jawaban yang pasti soal lokasi situs. Petani tersebut hanya berkata kalau tidak salah Situs Bangkeluo ada diseberang kuala dan masuk ke hutan. Artinya, tim harus berjalan kaki sampai di batas persawahan dan masuk ke hutan. Sementara semakin ke dalam, jalan masuk situs semakin tertutup oleh rumput tinggi membuat tim akan kesulitan karena tidak membawa parang.

Matahari yang sudah semakin meninggi ke tengah ubun-ubun, membuat tim memutuskan untuk melanjutkan perjalanan ke situs lainnya. Meski dilanda rasa kecewa karena gagal mendapatkan megalit di Situs Bangkeluo, tim harus bergerak menginggat kurang dari 7 jam lagi waktu yang tersisa. Padahal ada tiga situs megalit yang harus dikunjungi dan tidak ada guide yang memandu tim.

Tim kemudian menuju Desa Lempe. Di desa ini sejatinya ada 4 situs megalitik yang tersebar, yakni Situs Lempe, Situs Padang Hadoda, Situs Tovera, dan Situs Tundu Wanua. Situs Lempe menjadi salah satu situs yang dinanti-nantikan untuk dikunjungi dalam Megalit Hunt, sejak tim menginjakkan kaki di Lembah Behoa pada Senin malam (2/1).

Saat itu, tim bertandang ke rumah Kepala Desa Bariri, Magdalena Mentara, untuk memberitahukan kedatangan tim sekaligus meminta izin serta petunjuk agar misi Megalit Hunt  bisa berjalan lancar. Magdalena, yang tengah bersiap-siap ke gereja malam itu, menyambut tim dengan sangat ramah dan terbuka. Diluangkan waktunya untuk menyambut kami dan bercerita banyak soal Lembah Behoa dan situs megalitik di dalamnya.

Ada satu ceritanya yang paling menarik perhatian tim, yakni soal patung megalit berupa ibu hamil (Bumil) yang ada di Situs Lempe. Patung ini memiliki cerita tersendiri yang dipercaya oleh masyarakat di Lembah Behoa karena suatu peristiwa yang kebetulan dialami oleh ayahnya langsung.

“Dulu, pernah Papa saya yang Kepala Sekolah, bawa kami siswanya bertamasya ke Lempe. Ke patung bunting (hamil) itu. Kan dia menghadap Lembah Bada bukan ke Lembah Behoa. Nah, ingin kalau patung itu menghadap ke lembah (Beho, red), jadi coba digeser. Belum lama, eh muncul semua semut hitam besar-besar dari bawah patung. Jadi Papa saya bilang, geser kembali ke tempat semula, baru semut-semut itu hilang. Lenyap semua, jadi dari itu tidak ada yang berani geser lagi itu patung,” ceritanya.

- Periklanan -

Magdalena menyebutkan patung Bumil itu menghadap ke Lembah Bada bukan tanpa alasan. Masyarakat percaya si Bumil tengah menanti suaminya yang berada di Lemba Bada, yang juga berupa patung.

Penasaran dengan cerita itu, tim yang telah kecewa karena gagal di Situs Bengkeluo, bertekad penuh menemukan patung Bumil di Situs Lempe. Meskipun bayang-bayang kegagalan sudah tampak di awal memasuki Situs Lempe.

Salah satu situs megalitik yang terletak di Desa Lempe ini, sangat berbeda dengan Situs Pokekea dan juga Situs Bengkeluo yang tertelak di dataran dan bersebelahan dengan sawah warga. Situs Lempe justru terletak di hutan lebat di pinggiran desa. Nah, tim kesulitan menemukan Situs Lempe karena hanya bermodal papan petunjuk di mulut jalan masuk situs, yang berada sejauh 1,5 kilometer dari jalan desa.

Satu-satunya “petunjuk arah” di situs ini adalah jalur bekas jalan mobil yang buntu di tepian hutan lebat. Di sekitar hutan ini juga tidak ada papan petunjuk lanjutan yang menandakan Situs Lempe. Tim pun hanya mengandalkan insting dan mencoba membaca “tanda-tanda”, seperti mencari apakah ada jalan setapak menuju hutan.

Tapi dasarnya, kebanyakan anggota tim bukanlah anak Pecinta Alam ataupun alumni Pramuka, membaca tanda-tanda ini pun gagal. Opsi terakhir adalah mencoba mencari warga yang berladang di sisi kanan jalan masuk situs. Dari penuturan warga itu, tim disarankan untuk masuk ke hutan dan mencari jalan setapak yang telah diparas. Jalan itulah yang bisa menuntun kami mendapatkan megalit Bumil, yang tersohor itu.

Awalnya, tim ragu akan petunjuk yang diberikan warga itu karena sejak awal tim sudah mencari jalan setapak yang dimaksudkannya, tapi gagal. Sudah sekitar 30 menit sejak tiba di tepi hutan, tim masih mondar-mandir mencari jalan setapak yang dimaksudkan, sampai akhirnya tim menemukan satu jalan masuk.

Ketika masuk ke hutan melalui jalan setapak itu, ternyata bukan garansi langsung bertemu dengan megalit. Tim harus berjalan, mendaki, turun lagi, mendaki lagi, mengikuti alur jalan setapak. Kira-kira tim sudah berjalan sekitar satu kilometer hingga tepi tebing yang di bawahnya ada kuala, namun megalit tak kunjung ditemukan. Tim pun kemudian  sadar sudah tersesat.

“Kata Pak Sunardi, di Lempe ini menurut para ahli, adalah dapur pembuatan megalit karena ada kuala yang banyak batunya. Nah, di bawah itu kuala sudah. Jadi kira-kira batunya (megalit, red) itu ada sekitar ini Kak,” sahut Aqsha, siswa SMAN MT Madani Palu yang ikut dalam tim.

Mendengar ucapannya itu, semangat tim kembali menyala. Tidak ingin gagal seperti di Situs Bangkeluo, tim lantas memutuskan bergerak. Jalan setepak mendaki ke arah  Barat Daya hutan dari tepian tebing, menjadi satu-satunya harapan tim untuk menemukan megalit di Situs Lempe ini.

Berjalan mendaki gunung dengan kemiringan yang lumayan membuat betis serasa pecah selama kurang lebih 10 menit, pun membuahkan hasil. Satu buah kalamba terlihat dan sontak membuat tim bersorai. Namun tidak lama karena menyadari itu bukan patung Bumil yang dicari.  Capek dan penat lantas membuat sebagian tim memutuskan untuk berhenti di Kalamba. Alasannya, tidak ingin berjalan lebih jauh masuk hutan dengan risiko kembali tersesat. Tapi sebagian tim lagi memutuskan untuk tetap melanjutkan pencarian, dengan mengikuti alur jalan setapak yang ada. Alasannya, tidak ingin gagal dan sudah terlanjur masuk hutan. Lagian, Patung Bumil harus ditemukan. Itulah esesensi dari perjalanan Megalit Hunt.

Selang 20 menit kemudian, terdengar teriakan dari tim yang memutuskan tetap bergerak. Betul saja, mereka menemukan kembali kalamba dan kali ini jaraknya lebih berdekatan. Tim yang memutuskan berhenti, sontak bersemangat dan berjalan lagi di mengikuti jalur setapak. Mendaki, menurun, mendekaki lagi, sampai akhirnya tim bersatu dan sama-sama menemukan kalamba sepanjang jalur.

Sesuai catatan tim ada 7 kalamba dan 1 lumpang ditemukan selama menyusuri jalan setapak mencari Patung Bumil. Jalan setapak ini kemudian mengarah ke luar hutan, tapi patung Bumil tak kunjung ditemukan.

Tim pun berjalan sekitar 250 kilometer ke arah Timur Laut menyusuri jalan setapak dan Alhamdullilah, patung Bumil pun menampakkan wujudnya. Area di patung Bumil ini begitu rapi. Tidak ada rumput di sekitarnya. Deretan bunga bertangkai panjang dengan daun berwarna merah ditanam di sekitarnya. Menandakan situs ini terawat meskipun berada di dalam hutan.

Patung Bumil berupa patung setinggi kurang lebih 1-1,2 meter dan memang terlihat gendut dari patung lainnya. Tangannya juga memegang perut dan mirip body language seorang ibu hamil.  Menandai kemenangan mendapatkan patung Bumil, tak banyak buang waktu, tim pun langsung berfoto-foto.

Dari perjalanan di Situs Bangkeluho dan Situs Lempe, untuk sementara waktu tim menyimpulkan Situs Pokekea adalah situs megalit termudah dijangkau dengan benda megalit yang berdekatan satu sama lain.Bagaimana dengan dua situs selanjutnya? Apalagi tim hanya punya waktu kurang dari 3 jam.(bersambung)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.