Sepenggal Kisah Masyarakat Togo Mulya yang Bertahan di Tengah Banjir

- Periklanan -

Naik perahu di tengah jalan (Foto: Ilham Nusi)

SUATU hari di 2002 silam, ratusan warga desa Togo Mulya seketika cemas. Kawasan transmigrasi berawa di kecamatan Petasia Barat, Morowali Utara ini begitu cepat dihantam banjir. Lima tahun berselang, banjir kembali dan terus berulang setiap tahun. Desa lainnya di kecamatan Petasia dan Petasia Timur tak luput dari bencana itu.

Laporan : Ilham Nusi, Morowali Utara


MENYUSURI Togo Mulya menggunakan perahu tempel ibarat memutar waktu bagi wartawan Radar Sulteng. Sebab setahun lalu, hal serupa juga dilakukan saat meliput bencana banjir di kawasan eks transmigrasi 1997 ini. Bedanya hanya satu, wartawan datang bersama tiga warga Kolonodale yang penasaran melihat kondisi desa itu, akhir pekan kedua Maret 2017.

Untuk sampai ke Togo Mulya, wartawan bertolak dari ibukota kabupaten di Kolonodale, Petasia menggunakan sepedamotor. Jaraknya cukup jauh. Beberapa ruas jalan sudah dilapis aspal, banyak pula mutunya belum ditingkatkan.

Pastinya kondisi jalanan itu rusak berat. Konon kabarnya akibat tonase kendaraan melampaui ambang maksimum muatan. Batas desa ini ditandai sebuah jembatan besi sepanjang kurang dari 30 meter. Di tepi sungai terlihat beberapa Alkon, alat penghisap air yang diubah penambang pasir.

Tak cukup jauh dari jembatan itu, tampak sebuah tenda biru berlabel Dinas Sosial Daerah Morowali Utara. Di sebelahnya ada tenda biasa tanpa dinding. Katanya itu adalah Posko Bencana, tapi tak satu pun petugas terlihat. Mungkin petugasnya lagi istirahat atau memang dibuat hanya sebagai pajangan.

Terus melanjutkan perjalanan, perlahan tampak areal persawahan Togo Mulya. Jalan tani di kedua sisi pematang sawah masih bisa dilalui. Genangan air terlihat seperti tutul harimau sepanjang jalan tak beraspal itu. Ada rumah warga berbentuk panggung, Jaraknya tidak berdekatan. Belasan meter di depan, ada armada perahu siap menunggu penyebarang.

“Satu orang Rp10 ribu. Kalau tambah motor ongkosnya jadi dua kali lipat. Silahkan pilih mau naik perahu mana,” tawar Irianto, satu dari hitungan jari warga Togo Mulya yang ketiban rejeki dari bencana banjir ini. Dua dari kami naik ke perahu Irianto, dua lagi naik ke perahu lainnya.

Irianto rupanya tak sendiri. Dia bersama seorang bocah dan ternyata putra kandungnya. Umurnya sekira delapan tahun, tapi sudah mahir menjadi mata jalan ayahanya. Perahu perlahan melaju searah jalan desa. Sesaat kemudian banting arah di atas sawah yang tergenang.

Sepanjang perjalanan, terlihat rumah-rumah warga. Semeter lagi air pasti menyentuh lantai rumah panggung berbahan kayu.

Di perahu yang sama, Ilham Hakiki tampak meringis. Bocah tujuh tahun itu seperti menahan sakit. Ternyata ‘burungnya’ barusan dieksekusi petugas medis RSUD Kolonodale. Tangan kanannya memegang ujung sarung, sebelah kiri di tepian perahu. Sesekali ayahanya memperbaiki posisi jaket yang menutup kepala bocah berpeci kotak-kotak itu.

“Anak saya baru sunatan di RSUD Kolonodale. Biayanya cuma Rp150 ribu. Alhamdulillah prosesnya berjalan lancar,” ujar Sujana (30) menjawab obrolan wartawan.

Sujana mengaku tiba di Togo Mulya saat usia masih remaja. Bersama kedua orangtuanya, pria asal Lombok, Nusa Tenggara Barat ini masuk daftar transmigrasi penempatan 1997. Dia memiliki setengah hektar sawah hasil pemberian ayahnya.

“Karena tau akan banjir, awal tahun ini saya tidak menanam. Di rumah masih ada persediaan beras hasil tanam tahun kemarin. Cukup lah untuk bertahan sampai masa tanam berikut,” katanya di ujung obrolan kami.

Tak terasa, sampai lah perahu di area lebih tinggi. Genangan air sejengkal di atas mata kaki. Irianto lalu menurunkan sepedamotor milik Sujana. Dua penumpang lainnya juga sibuk mengemasi barang bawaan. Irianto kemudian menerima upah dari lima orang pengguna jasanya. Terima kasih, katanya. Kami pun menuju rumah Purnomo, Kepala Desa Togo Mulya.

Kades berkumis tebal, berkulit hitam legam itu terlihat santai di belakang rumahnya. Tanpa mengenakan kaos, dia lalu bertutur banyak tentang masa lalu dan kondisi Togo Mulya saat ini. Hal yang terus berulang adalah surutnya banjir setelah Paskah.

“Sudah duapuluh tahun saya di sini. Banjir tidak akan surut sebelum datangnya paskah,” kata Purnomo sambil menyulut rokok kreteknya.

Meski masyarakat sudah hapal siklus tahunan itu, Purnomo tak bisa melarang warganya untuk menanam padi sebelum bulan Juni. Harapan petani banjir tak datang. Tapi bencana tetap kembali.

“Nasib-nasiban saja. Kalau banjir petani rugi, kalau tidak pastilah untung. Ada juga padi yang dipaksa panen, meski belum waktunya,” katanya tersenyum datar.

Seiring waktu, imbuh dia, perubahan mulai terjadi di Togo Mulya. Misalnya upaya pemerintah daerah memperbaiki infrastruktur jalan desa. Meski masih bertahap, namun sudah membawa perubahan.

“Andai saja desa kami terbebas banjir, masyarakat Togo Mulya pasti hidup tentram. Sebab satu kebanggan kami adalah predikat lumbung pangan yang kami sandang,” pungkas Purnomo.

Berbeda pikiran, Ayub justru ingin Pemkab Morowali Utara merelokasi warga Togo Mulya. Alasannya, sulit mencari penghasilan sampingan selain bercocok tanam. Usulan itu, katanya juga disepekati hampir seluruh warga setempat.

“Kalau tidak jadi tukang ojek, saya susah menghidupi  keluarga. Apalagi anak-anak saya sudah sekolah,” beber anggota Linmas ini.

Pengakuan Ayub sama persis diutarakan Salomi Sailana saat wartawan menemuinya di balai desa Maralee, April 2016. Kala itu, 85 kepala keluarga atau sebanyak 245 jiwa warga Togo Mulya mengungsi ke tempat itu.

Salomi adalah satu dari tiga transmigrasi asli yang berhasil jadi aparatur sipil negara. Guru agama di SDN Togo Mulya ini mengabdi bersama Markus Bungmo dan Adrianus Tarakolo.

- Periklanan -

Saat penempatan 1997, 400 kepala keluarga asal provinsi NTT, Bali, NTB, Jawa ditempatkan ke Togo Mulya. 40 kepala keluarga dari jumlah total itu adalah etnis Mori sebagai transmigran penduduk setempat.

“Sejak transmigran masuk, Togo Mulya sudah tergenang air. Banjir besar diawali 2002 sampai kami semua mengungsi. Banjir serupa kembali lagi di 2007 sampai sekarang,” kenang Salomi.

Namun menurut Salomi niat meninggalkan desa selalu batal, sebab warga Togo Mulya belum menemukan tempat lain sebaik desa bertanah subur itu.

“Sebagian besar warga memang ingin menghindari banjir, tapi belum ada tanah subur sebaik Togo Mulya,” adu Salomi kepada Bupati Morowali Utara Aptripel Tumimomor di barak pengungsian kala itu.

Hal lain diungkap Ayub adalah belitan hutang yang ditebar oknum pengusaha. Alih-alih memberikan bibit padi, orang-orang itu akan meminta kembali pinjaman dengan jumlah dua kali bahkan lebih dari banyaknya pokok pinjaman.

“Kalau kita pinjam satu karung bibit, gantinya dua karung. Ada juga mengganti sampai tiga karung. Tapi kita sulit menghindar karena kebanyakan warga kehabisan persediaan. Sekarang saja saya sudah beli beras di warung,” ucap pria asal Alor, Nusa Tenggara Timur itu sembari pamit menengok ternak babi miliknya.

Di hari berbeda Matius Sonda mengatakan, jika Pemkab Morowali Utara merelokasi warga Togo Mulya, maka hanya 40 persen warga dipastikan hijrah ke lokasi baru.

“60 persen penduduk Togo Mulya berkehidupan mapan. Kelompok warga ini justru membujuk warga Togo yang hidup pas-pasan agar tidak mau direlokasi. Ini fakta desa kami,” ungkap Matius Sonda yang tak lain adalah Sekretaris Desa Togo Mulya saat bertemu wartawan di Kolonodale, Rabu (15/3).

Tahun ini, lanjut Matius, penduduk Togo Mulya berkurang menjadi 297 kepala keluarga atau total jiwa sebanyak 1.097 dari 308 kepala keluarga di 2016 lalu. Seingat dia, sekarang tersisa 94 kepala keluarga etnis Bali, 93 kepala keluarga asli Bugis, 37 kepala keluarga Toraja, 12 kepala keluarga NTT serta 8 kepala keluarga suku Mori. Selebihnya dia tak hapal totalnya.

“NTT, Bali, NTB, Jawa dan Mori adalah etnis pertama menjadi transmigrasi asli ditempatkan di Togo Mulya 20 tahun silam. Sekarang ada transmigran pengganti dari Toraja, Bugis, Makassar dan Sangir,” tandasnya.

Jika ingin Togo Mulya dan desa lainnya di Petasia Barat, Petasia dan Petasia Timur terbebas banjir kiriman, lanjut Matius, pemerintah daerah hanya perlu membangun jalan sepanjang 3 kilo meter dari Togo Mulya ke dusun Korongkama. Namun ini tergantung keseriusan pemerintah daerah mengurus masyarakatnya.

“Tidak mungkin membangun tanggul, karena warga menolak. Alasannya, air terhalang tanggul hanya akan merendam areal perkebunan. Tapi pemilik lahan justru senang jika penahan air itu berbentuk jalan. Dengan catatan, ketinggian jalanm minimal 1,5 meter,” saran dia.

Soal nasib korban bajir di Togo Mulya, dia menyebut bantuan sosial baru diterima dari Polres Morowali dan komunitas motor trail asal Kolonodale. Selain itu katanya belum ada.

“Hari ini saya mengantar surat yang diminta Dinas Sosial Daerah Morowali Utara. Mungkin besok atau lusa baru kami dapat bantuan,” pungkas matius.

Penasaran dengan titik-titik genangan air dalam desa yang dibagi lima dusun ini, wartawan lalu menerbangkan drone. Dari monitor pesawat tanpa awak itu, beberapa lokasi terlihat mengering. Namun secara utuh genangan air lebih dominan menutup wilayah ini.

Togo Mulya sebenarnya hanya sampel dari 16 desa langganan banjir tahunan di tiga kecamatan tersebut. Sungai yang panjangnya tak kurang dari 150kilo meter dari Mori Atas, Mori utara, Petasia Barat, Petasia sampai di desa Bungintimbe Petasia Timur.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Morowali Utara, Musda Guntur mengatakan persoalan banjir tidak akan selesai jika ditangani setengah jalan tanpa sebuah rencana induk.

“Penanganan banjir Sungai La’a harus dilakukan secara komperhensip, tidak bisa pasrsial. Untuk itu diperlukan sebuah visibility study tentang penyelesaian atau pengendalian pra bencana,” katanya saat ditanya waratwan, Rabu kemarin.

Upaya itu, menurut Musda akan melibatkan akademisi atau tenaga-tenaga ahli hidrolog universitas. Lagi pula, daerah aliran sungai (DAS) Sungai La’a adalah tangung jawab bersama antara Pemkab Morowali Utara dan Pemrov Sulawesi Tengah. Tentu saja melibatkan Balai Wilayah Sungai dan instansi teknis lainnya.

“Penanganan setengah-setengah tidak akan menyelesaikan masalah. Karena banjir ini persoalan dari hulu ke hilir,” jelas dia.

Jika telah ada kajian secara detail, termasuk membuat topografi alur sungai tentunya instansi teknis mudah menentukan titik pembangunan. Semisal check dam, pemasangan bronjong atau normailsasi sungai serta pengerukan delta di muara sungai.

“Soulusi permanen penanganan banjir itu membutuhkan anggaran yang besar. Tapi kita bisa memulainya secara bertahap, diawali dengan kajian komperhensip tadi,” anjur Musda.

Fakta di atas memang tak mengada-ada. Lihat saja data resmi BPBD Morowali Utara terkait banjir yang dirilis baru-baru ini. Hanya dalam kurun waktu 1-10 Maret 2017, banjir kali ini mengakibatkan 1.103 kepala keluarga atau sebanyak 5.195 jiwa terdampak langsung.

Sementara itu, 716 rumah penduduk Petasia Barat dimulai dari desa Togo Mulya, Sampalowo, Moleono, One Pute, Ulu Laa, Tadaku Jaya dan Mondowe tergenang air. Bangunan lainnya, 11 rumah ibadah, 10 gedung sekolah, 2 unit fasilitas kesehatan dan kantor desa Togo Mulya tak luput dari luapan air sungai La’a. Hanya pemukiman warga desa Tiu yang lolos genangan, sementara kebun warga dimasuki air.

Di areal sawah dan kebun produktif Petasia Barat, 146,1 hektar are padi, 418 hektar are palawija, 628,2 hektar are tanaman cokelat, sawit dan karet juga trerendam. Selain itu, 5.151 ekor ternak tikut terancam banjir.

Dalam wilayah Petasia Timur, tercatat 143 rumah, 9 rumah ibadah, 6 gedung sekolah dan 186 hektar are sawah dan perkebunan warga desa Bunta sudah terendam. Sementara di Koromatantu, Petasia ada 36 hektar are sawah dan kebun dilanda banjir.

Hampir dua jam di Togo Mulya, wartawan kembali menggunakan jasa Irianto. Kali ini perahu dikendalikan putranya. Layaknya profesional, bocah itu menancap laju perahu sampai ke tempat semula di ujung desa.(***)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.