Sepeda Motor Jamaah Masjid Pun Dicolong

- Periklanan -

Ilustrasi pencurian motor. (source: jpnn.com)

PALU – Pelaku Curanmor di Kota Palu, semakin menjadi-jadi saja. Bahkan tidak pandang bulu. Meski di lingkungan tempat ibadah seperti Masjid, pelaku tetap saja melancarkan aksinya. Seperti yang pernah terjadi di Kelurahan Mamboro Kecamatan Palu Utara.

Areal parkiran Masjid Nurul Yaqin di lingkungan RT 04, RW 01, Kelurahan Mamboro ini, sudah 3 kali menjadi tempat kejadian perkara aksi pencurian sepeda motor. Motor yang hilang di areal parkiran masjid ini, satu milik jamaah, sementara duanya lainnya adalah milik pegawai syara di masjid itu.

“Bicara salah dan dosa, tentunya ini berawal niat. Jika niat orang itu sudah buruk dimanapun tempatnya, pasti perbuatan buruk itu akan dilakukannya dengan berbagai cara” ungkap Hardi, salah satu jamaah di Masjid Nurul Yaqin, ditemui kemarin.

- Periklanan -

Dia menceritakan, peristiwa hilangnya sepeda motor yang dialami jamaah dan dua pegawai masjid itu, terjadi di waktu yang berbeda, sekitar beberapa bulan yang lalu. Pelaku yang beraksi dan membawa kabur sepeda motor itu, menurutnya bukan pemain baru. Tapi pelaku-pelaku yang sudah biasa menyatroni motor-motor jamaah di tempat-tempat ibadah.

“Padahal motor yang hilang di tempat parkiran masjid ini semuanya terkunci leher. Dan lokasi parkir hanya dipisahkan dinding masjid, itupun kedengaran dari dalam masjid, kalau ada orang di parkiran,” sebutnya.

Dia menambahkan, aksi pencurian di masjid tersebut, juga terjadi di waktu-waktu salat yang berbeda. Ada yang kehilangan motor di waktu melaksanakan ibadah salat dzuhur, ada juga yang kehilangan motor di waktu melaksanakan salat isya. “Dua pegawai syara itu, imam di masjid sini, sampai saat ini belum ada kabar atau belum ditemukan motornya,” sebutnya lagi.

Karena persitiwa itu, kini Jamah di masjid itupun semakin berhati-hati, setiap datang untuk melaksanakan ibadah, sepeda motor yang di parkir tidak hanya dikunci leher, tetapi sebagian sudah menggadakannya dengan kunci gembok yang mengkancing gir dan rantai motor. “Jadi peristiwa itu, menjadi pengalaman. Sehingga bukan hanya di masjid ini, tetapi di tempat umumpun, saya sudah membawa gembok, di pasang digir dan rantai motor,” tandas Hardi.(cdy)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.