Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Sepakat Tangkal Radikalisme di Bumi Tadulako

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PALU – Sikap intoleransi merupakan awal dari paham radikalisme yang berujung pada aksi-aksi terorisme. Sehingga, penting untuk menghilangkan sikap intoleransi di Indonesia, untuk mencegah paham-paham radikalisme tumbuh subur di negara ini.

Hal ini disampaikan Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Sulawesi Tengah, Prof Dr H Zainal Abidin MAg, saat menjadi narasumber dalam Focus Group Disscussion (FGD) yang digelar Direktorat Intelijen dan Keamanan (Dit Intelkam) Polda Sulteng, dengan tema, menangkal radikalisme dan terorisme serta membangun peradaban yang toleran dan cinta damai di bumi tadulako, Senin (12/4) kemarin, di salah satu hotel di Kota Palu. Pada dasarnya kata Prof Zainal, paham radikalisme memang diawali dari sikap intoleran, di mana menganggap orang diluar dari golongannya tidak baik atau keliru.

“Kemudian dari paham radikal ini lah yang kemudian berubah menjadi suatu tindakan terorisme,” jelas Prof Zainal, yang juga Ketua MUI Kota Palu ini.

Sikap-sikap intoleran kata Prof Zainal, tumbuh jika seseorang itu tidak bisa mengharhai pendapat maupun keyakinan orang lain. Untuk itu lah, mantan Rektor IAIN Palu ini, mengajak para peserta, yang didominasi oleh generasi muda, agar tidak memahami agama sepotong-sepotong.

Tidak ada ajaran agama manapun kata dia, mengajarkan untuk membunuh sesama. Mencintai sesama manusia, adalah ajaran seluruh agama. Karena manusia sejatinya, lahir ke dunia atas izin Tuhan Yang Maha Esa, sehingga bila mencintai Tuhan, maka ciptaannya pun harus pula dicintai. “Semua agama menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusian,” katanya.

Di dalam islam kata dia, orang yang beragama, merupakan orang yang membangun interaksi sosial yang baik kepada sesama manusia. Siapa yang paling baik dalam interaksi sosialnya, maka dia lah yang mengikuti ajaran agama yang paling baik. “Tapi kalau ada orang ketemu selain agamanya tidak mau, berarti ilmu agamanya belum baik,” terang Zainal.

Sementara itu, Direktur Intelkam Polda Sulteng, Kombes Pol Ronalzie Agus SIK, dalam paparannya sebagai narasumber, menyampaikan, korban dari tindakan terorisme bukan lah TNI/Polri, warga masyarakat atau pemerintah, namun korbannya adalah peradaban. Dia juga menjelaskan terkait perkembangan terorisme global maupun dalam negeri yang semakin kompleks.

“Asia Tenggara khususnya Indonesia dan Philipina, menjadi sasaran kelompok ini membangun kekuatan nyatanya. Bisa kita lihat mulai kejadian Bom Bali hingga teror Bom Makassar baru-baru ini, perkembangannya berubah dan beradaptasi,” papar Ronalzie.

Saat ini, dengan mudah siapa saja dapat terpengaruh paham radikal, hanya melalui buku-buku maupun media sosial. Gerakan kelompok-kelompok ini pun di dunia maya sangat militan. Setiap hari mereka melakukan ajakan, agar banyak yang bersimpati. “Sementara kita, bereaksi nanti ketika ada yang terpapar atau setelah ada kejadian (teror). Sasaran mereka segala usia sebenarnya, dari usia dini dan seluruh lapisan masyarakat,” tuturnya.

Di akhir statmennya, Dir Intel menegaskan, bahwa teroris bukan representasi agama apapun. Olehnya, perlu peran tokoh agama, yang punya ilmu agama yang tinggi mengajak mereka yang sudah terjerumus, kembali ke jalan yang lurus.
Dalam kesempatan itu, Ketua Pusat Pengembangan Deradikalisasi Dan Penguatan Sosio-Akademik (Pusbang Depsa) Untad, Dr Rahmat Bakri SH MH menyampaikan, sejarah dibentuknya Depsa Untad, bermula dari aksi deklarasi penolakan paham radikal di lingkungan kampus. Pusbang Depsa pun, dicetuskan oleh mantan Rektor Untad, Prof Muhammad Basyir, sebagai tindaklanjut dari aksi deklarasi pada 2017 silam.

Lebih jauh disampaikan Rahmat, jika kepolisian memiliki peran melakukan penegakan hukum dalam masalah terorisme, dan BNPT pada bidang deradikalisasi, maka perguruan tinggi berperan melakukan reinvestasi nilai-nilai kebangsasan. Investasi nilai kebangsaan, kata dosen Fakultas Hukum Untad ini, sudah ditanamkan para pendiri bangsa. “Sekarang maka kita ambil tanggungjawab, untuk reinvestasi, di mana kita kembali bicara soal Pancasila, bicara NKRI dan juga kebhinekaan,” terangnya.

Memang diakui Rahmat Bakri, pascareformasi, sangat jarang generasi muda kembali menghayati empat pilar kebangsaan tersebut. Karena seolah-seolah kembali membicarakan tentang Orde Baru. “Untad ambil posisi beri kontribusi reinvestasi agar generasi akan datang rasakan investasi yang kita lakukan saat ini,” jelasnya.

Di sesi terpisah, Ketua Forum Koordinas Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulteng, Dr Nur Sangaji menyampaikan, landasan negara sudah sangat jelas, yakni Undang-Undang Dasar 1945 dan Pancasila. Bila dihayati dengan benar, maka tidak ada anak bangsa yang terpapar radikalisme. “Itu yang harus kita banggakan, karena itu yang menyatukan kita,” tandas Sangaji. (agg)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.