alexametrics Seminar Bertaraf Internasional Tentang Pesisir Sukses Digelar Umada Tolitoli – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Seminar Bertaraf Internasional Tentang Pesisir Sukses Digelar Umada Tolitoli

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

TOLITOLI-Seminar bertaraf internasional baru saja dilakukan Universitas Madako (Umada) Tolitoli, dengan mengangkat topik sentralnya Meningkatkan Potensi Kawasan Pesisir Kabupaten Tolitoli, mendapat respon positif dari berbagai peserta terutama para pakar dan ahli kemaritiman dan wilayah pesisir dunia dari berbagai negara.

Pemrakarsa utama seminar yang digelar secara webinar ini, Dr. Lukman Arif, S.Pt., M.Si, kepada Radar Sulteng mengatakan tidak menyangka bila seminar bertopik kawasan pesisir ini diapresiasi dari ikatan ilmuwan dari berbagai perguruan tinggi ternama dunia.

“ Ternyata seminar kawasan pesisir yang kami gelar ini mendapatkan apresiasi yang tinggi dari berbagai kawan-kawan ilmuwan diaspora, dari berbagai perguruan tinggi negara maju di dunia, “ tutur Dr. Lukman Arif, Minggu (14/2).

Seminar yang diikuti ribuan civitas akademika, dari belahan dunia ini menjadi ajang promosi bagi Kabupaten Tolitoli dan sekitarnya. Apalagi kedepannya, Kabupaten Tolitoli akan menjadi salah satu pintu masuk Indonesia Timur, setelah ibukota Negara Republik Indonesia pindah ke pulau Kalimantan nanti.

Pada kesempatan itu, Dr. Lukman Arif mengatakan, seminar nasional Umada Tolitoli yang diikuti oleh beberapa negara, kurang lebih lima negara. Dengan pembicara utama dari Agriculture Faculty of Tokyo University Jepang Mr. Romadona Safile, P.hd, kajian utama mengkaji kawasan pesisir.

Selain pembicara dari luar negeri, panitia seminar juga mengundang Kepala Dikti XVI di Gorontalo sebagai pembicara ahli, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tolitoli Kepala Bappeda Tolitoli Dr. Rahman Alatas, dan anggota DPRD Tolitoli Nurmansyah Bantilan, S. I.Kom.

Dijelaskan Lukman, kajian pesisir ini merupakan topik baru. Kenapa ? Karena perlu kita ketahui membangun Kabupaten Tolitoli oleh Universitas Madako memulai dari pemikiran membangun pesisir. Pertama adalah Tolitoli itu secara geografis berada di pesisir, dimana panjang pantainya kurang lebih 578 km. Dari 11 kecamatannya, ada sembilan kecamatan itu berada di wilayah pesisir.

“Dari potensi inilah, harusnya Kabupaten Tolitoli arah kebijakannya dimulai dari pesisir, “ ujarnya.

Dipaparkan Lukman Arif, yang sehari-harinya Waki Rektor (Warek) I Umada, relevansinya antara kontribusi Umada Tolitoli di seminar tersebut, adalah menyelaraskan program pemerintah saat ini yaitu Merdeka Belajar dan Kampus Merdeka, bahwa potensi akademik (para sarjana yang ada) untuk langsung bekerja pada sasarannya.

Salah satu motivasi dari Umada menggagas kegiatan seminar ini, merealisasikannya dalam sebuah kurikulum dan menjabarkan visi dan misi Umada yakni Tangguh, Berdaya Saing dan Berkarakter, serta mewujudkan pendidikan dengan pengembangan wilayah pesisir.

Di Madako sendiri ada 14 Program Pendidikan (Prod), salah satu Prodi itu yang mengkaji khusus wilayah pesisir ini. Hal yang sangat urgen dari wilayah persisir ini adalah Fakultas Perikanan yang membawahi beberapa jurusan. Akan tetapi di kajian pesisir ini tidak hanya membahas tentang maritim atau laut saja. Namun juga membahas karakter masyarakat dan potensi sumber daya alam dan ilmu lainnya, misalnya teknik.

“Jadi, ada kolaborasi antara ilmu teknik kelautan dengan teknik sipil, ataupun dengan teknik arsitektur misalnya, “ ungkapnya.

Demikian juga dengan pendidikannya, kita dapat mengetahui bagaimana karakter pendidik, bagaimana cara mendidik masyarakat pesisir. Apalagi sosial budayanya. Tentu komprehensif. Juga pariwisatanya, Tolitoli ada beberapa potensi destinasi pariwisata yang perlu dikelola dengan baik, seperti pulau-pulau terluar yang berbatasan dengan Malaysia, yang merupakan salah satu daya tarik tersendiri sekaligus keunikan Tolitoli.

“ Yaitu Pulau Lingayan, Pulau Salando, dan Pulau Dolangan. Semua pulau ini menarik, memiliki keanekaragaman hayati, yang sangat mumpuni. Maksudnya, tersedia hewan dan jenis ikan endemik yang mungkin tidak ada di daerah lain seperti udang merah, Anoa, dan penyu yang bermukim di pulau-pulau, dan Maleo yang masih terjaga, “ ungkapnya. Misalnya burung Maleo, berkembang biak di pesisir, di pantai. Lokasinya di Desa Pinjan Kecamatan Tolitoli Utara.

Lukman Arif tak lupa pula menjelaskan mengenai Lokakarya yang baru saja digelar Umada bersama Pemkab Tolitoli di sebuah hotel di Tolitoli. Dimana pada diskusi itu berkembang soal kajian hukum dan ekonomi, oleh Fakultas Hukum Umada akan mempersiapkan bahan-bahan kurikulum dalam rangka menjawab persoalan itu.

“Yang menariknya, pada diskusi kemarin itu larinya ke kajian masalah ekonomi, bil khusus manajemen dan ekonomi. Rupanya ada sisi menarik dari letak geografis Tolitoli sebagai salah satu pintu masuk ke Selat Makassar dan Laut Sulawesi dari calon ibukota negara kita kedepan. Tolitoli dianggap sebagai pintu masuk perdagangan dunia. Sangat strategis. Itulah kemudian kenapa kajian ekonomi menjadi menarik di Universitas Madako Tolitoli, “ bebernya.

Pasalnya, jarak atau letak wilayah Tolitoli sangat dekat dengan Kalimantan, dibanding kota Palu. Hanya ditempuh selama 5 atau 6 jam. Jarak ini memungkinkan melakukan perdagangan yang potensial. Apalagi Tolitoli dianggap sebagai daerah subur. Tersedia kekayaan pangan, buah, dan sebagainya. Yang dipandang sebagai komoditi yang dibutuhkan oleh ibukota negara . Dampak dari kebutuhan itu akan mengangkat pendapatan dan kesejahteraan petani Tolitoli.

“Setelah kami melakukan lokakarya, yang kegiatan webinarnya diikuti oleh 34 provinsi di Indonesia, diikuti partisipan kurang lebih 2.000-an orang. Terdiri dari ilmuwan, darI ikatan Ilmuwan Indonesia dan diaspora, para dosen, mahasiswa, para praktisi, professional, dan kalangan umum, “ urainya.

Ini merupakan topik baru dalam seminar atau lokakarya, sehingga ada beberapa peserta lokakarya mengatakan topik ini adalah ke-Indonesiaan yang asli. Indonesia sangat dikenal sebagai negara pesisir, sehingga para ahli dari beberapa negara sangat berminat dan tertarik.

Ahli pesisir Jepang sangat tertarik dengan sebuah inovasi teknologi yang ditemukan dan dikembangkan oleh mahasiswa Umada, yaitu sebuah alat yang menghitung jumlah hasil tangkapan ikan, dan dapat mengukur terjadinya bencana banjir yang sering melanda Tolitoli.

“ Kita bisa menghitung tingginya air laut hanya menggunakan aplikasi HP dari rumah. Kemudian bisa melihat jumlah pendapatan petani dengan menggunakan alat dan memasukan dalam boks hanya dilihat dari rumah. Begitu juga melihat banjir dari rumah, “ sebut Lukman.

Ada tiga bentuk kita peragakan, misalnya banjir, kita sudah siap-siap untuk waspada. Alatnya sangat detail, dan dirakit sendiri oleh mahasiswa dengan memasukan radar berupa sinyal penangkap yang kita desain. Bahwa di sekian derajat akan terjadi banjir. Juga bisa melihat berapa pendapatan petani. Ahli Jepang sangat memuji temuan ini. Cuma ahli Jepang ini menyayangkan orang Indonesia itu tidak bisa menjaga karyanya.

“Mengenai menjaga karya, dengan mendaftarkan temuan ini untuk mendapatkan Copyright atau hak cipta. Semuanya akan menuju ke sana, kami di Umada sedang memperbaiki sistem pembelajaran di Universitas, maka hal ini harus sejalan dengan penerapan kurikulum di Universitas Madako Tolitoli, “ tegasnya.

Simpulan akademik yang diperoleh dari seminar itu, kata Lukman, akan dituangkan dalam bentuk kerjasama atau Memorandum of Understanding (MoU) dengan beberapa person (ahli), NGO, maupun perguruan tinggi yang mengikuti seminar tentang pesisir ini.

“Insya Allah hari Senin ini, tanggal 15 Februari 2021, kita akan membangun kerjasama dengan Boogi salah satu lembaga penelitian dari Jerman, juga dengan NGO asing, yang sudah menyatakan ketertarikannya untuk bekerjasama. Begitu juga dengan instansi terkait di Pemkab Tolitoli untuk merancang bersama program ini, “ paparnya.

Ada 14 narasumber yang ikut terlibat dalam seminar dan lokakarya atau focus grup discussion (FGU) yang membahas tentang Kabupaten Tolitoli kedepan, untuk menyamakan persepsi. Semuanya ini, untuk menyiapkan alumni Umada yang siap kerja sesuai dengan keinginan pemerintah saat ini.

Dari Umada sejalan dengan instruksi dan peraturan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Merdeka Belajar dan Kampus merdeka, yang kemudian mengkoneksikan dengan user, pemerintah daerah, maupun pihak professional, pengusaha, mitra yang akan melakukan kerja sama dengan tujuannya alumni Umada akan siap pakai di pasar kerja.

“ Olehnya, kami berharap kebijakan Menteri ini dapat disahuti oleh semua pihak. Sebab, setiap hari, setiap bulan, setiap tahun ada progress untuk memajukan pendidikan di Indonesia, dalam rangka menuju 100 Tahun Indonesia Merdeka. Seperti yang dicanangkan oleh mas Menteri Nadiem Makarim, yaitu bergerak, bergerak, dan terus bergerak. Selanjutnya adalagi program Kampus Mengajar, yang tertuju pada aplikatif dari Merdeka Belajar dan Kampus merdeka, “ pungkasnya.(mch)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.