Semburan Gas Resahkan Warga Lorong Karoya

- Periklanan -

PALU – Warga RT 02/RW 03, Lorong Karoya, Jalan Tanjung Satu, Tatura Utara, dikagetkan kemunculan semburan lumpur pasca mengeluarkan bau yang tidak sedap. Lumpur dari lubang kecil itu, ditemukan warga sejak Sabtu pagi (13/1) dan hingga Minggu kemarin, terus menjadi pusat perhatian masyarakat yang ramai-ramai datang melihat langsung.

Lokasi lubang berlumpur di Lorong Karoya, Jalan Tanjung Satu, Kecamatan Palu Selatan, Minggu (14/1). (Foto: Mugni Supardi)

Warga sekitar juga mulai was-was serta takut, karena khawatir kondisi lubang berlumpur ini akan meluas.   Dari pantauan Radar Sulteng di lokasi, warga setempat juga mencoba memasak telur pada lubang lumpur, beberapa menit ditunggu telur yang dibungkus dengan plastik menjadi masak.

Warga Lorong Karoya, Arif yang menemukan pertama lubang lumpur ini mengatakan, pada Sabtu  pagi saat berjalan dirinya melihat ada asap dari balik rerumputan. Karena merasa penasaran dia mencoba melihat lebih dekat, setelah menggali dan menggali, material lumpur yang mendidih terlihat jelas di depan matanya. “Sampai sekarang belum ada instansi terkait yang datang melihat dan memberi penjelasan kepada warga terkait fenomena ini,” kata Arif kepada Radar Sulteng.

Lokasi munculnya lumpur ini hanya berjarak 30 cm dari sebuah tiang listrik. Kurang lebih tiga meter ada sebuah bangunan sarang walet dari lumpur, sedangkan jarak dari rumah warga yang paling terdekat sekitar 10 meter.  Dikonfirmasi terpisah, Kepala BMKG Geofisika Klas I Palu, Petrus Demon Sili MSi mengungkapkan, untuk dugaan sementara peristiwa lumpur panas ini bukan karena aktivitas kegempaan, apalagi saat kemunculan lumpur ini tidak dibarengi dengan peristiwa gempa bumi.

Memang kata dia, salah satu ciri daerah patahan lokal itu banyak mengandung sumber air panas di dalamnya. Tahun 2017 silam, kejadian gempa bumi di Napu mengakibatkan munculnya lumpur dari dalam tanah disertai dengan bau belerang dan material pasir. Fenomena ini disebut juga likuifaksi.

- Periklanan -

“Karena ada gesekan di dalam kerak bumi mengeluarkan air, lumpur dan pasir. Tetapi kalau fenomena ini (Di Lorong Karoya, red) diam-diam tidak ada gempa keluar mata air panas, kecurigaannya itu dulu tempat pembuangan sampah,” jelas Petrus saat dikonfirmasi Radar Sulteng via telepon.

Menurut Kepala BMKG Geofisika ini, terjadi peristiwa yang sama sekitar tahun lalu di Kelurahan Maesa, tepatnya lokasi yang saat ini ditempati gedung Akademi Keperawatan BK. Warga setempat menemukan titik lumpur panas.  “Saya menerima telepon dari Kepala BPBD saat itu dan langsung meluncur ke lokasi. Dari beberapa penuturan warga dulunya tempat itu adalah lokasi pembuangan sampah,” terang Petrus.

Pada saat itu, masyarakat bertanya kondisi ini berbahaya atau tidak?. Namun Petrus menuturkan, peristiwa ini tidak berbahaya karena bukan proses gesekan dari kerak bumi, tetapi karena peristiwa alam.

Sehingga dugaan Petrus, peristiwa di Lorong Karoya itu diakibatkan dulunya lokasi tersebut adalah pembuangan sampah yang telah mengendap selama bertahun-tahun. Dia menjelaskan, sampah yang sudah sejak lama berada di dalam akan terurai menjadi kompos. Jika bertemu dengan air serta suhu udara yang panas, maka ketika sudah mencapai pada titik jenuh akan mengeluarkan air.

“Jadi bau yang dicium warga bisa saja bau dari kompos tersebut. Nanti akan berhenti sendiri, waktunya tergantung buangan sampah berapa besar saat itu,” ujar Petrus.

Sore hari kemarin, Kepala BMKG Stasiun Geofisika, Petrus Demon Sili langsung meninjau lokasi bersama Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Palu, Presly Tampubolon. Dalam peninjauan mereka nantinya pada Senin (15/1), akan diterjunkan tim dari BMKG Geofisika Stasiun Klas I A Palu untuk meneliti kandungan lumpur tersebut. Pihak BMKG juga akan bekerjasama dengan Dinas Eenergi Sumber Daya Mineral (ESDM) Sulteng. (acm)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.