9 Tahun Penjara untuk Mantan Pengelola Wisma Donggala

- Periklanan -

Ilustrasi (@jpnn.com)

PALU – Putusan akhir berupa pidana penjara dari Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Klas IA/PHI/Tipikor Palu, kepada terdakwa Abdul Rahim alias Aim, telah inchkracht atau berkekuatan hukum tetap.

Batas waktu selama 7 hari untuk menyatakan sikap terhadap hasil putusan yang diberikan Majelis Hakim kepada terdakwa serta Jaksa Penuntut Umum (JPU) sebagai ketentuan perundang undangan telah habis, Selasa (5/9) kemarin.

Abdul Rahim Alias Aim merupakan terdakwa yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi penyalahgunaan dana hasil pengelolaan sewa kamar hotel Wisma Donggala Tahun 2014-2015. Dalam perkara ini, dia dijatuhi hukuman pidana penjara selama 1 tahun dan 6 bulan penjara, denda Rp 50 juta subsider 3 bulan penjara. Selain itu Pegawai Harian Lepas (PHL) di Wisma Donggala itu juga dihukum membayar uang pengganti sebesar Rp 120 juta lebih, subsider 6 bulan penjara.

Putusan perkara pidana korupsi itulah yang telah berkekuatan hukum tetap. Hal itu sebagaimana ditegaskan pula oleh Humas PN Klas IA/PHI/Tipikor Palu, Lilik Sugihartono SH ditemui kemarin. “Hari ini (Selasa, Red) adalah kesempatan terakhir bagi terdakwa maupun JPU untuk menyatakan sikap,” ungkapnya.

- Periklanan -

Putusan terdakwa Abdul Rahim alias Aim telah dibacakan oleh Majelis Hakim pada Selasa (29/8) lalu. Dia dinyatakan terbukti bersalah melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana ketentuan pasal 3 UU No 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dan ditambah dengan UU No 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Majelis Hakim yang membacakan putusannya yakni Ernawati Anwar SH MH. Hukuman dari Majelis Hakim itu turun dari tuntutan JPU yang menuntut terdakwa dengan pidana penjara selama 2 tahun, denda 50 juta subsider 3 bulan, uang pengganti Rp 120 subsider 1 tahun penjara. “Terdakwa kemarin divonis pidana penjara 1 tahun dan 6 bulan penjara,” kata Lilik lagi.

Lanjut Lilik jika hari ini terdakwa atau JPU tidak menyatakan sikap, besok itu (kemarin,red) putusan pidana penjara dari Majelis Hakim yang dibacakan sepekan yang lalu terhitung inchkrak atau berkekuatan hukum tetap. “Hingga sore ini terdakwa atau JPU belum ada datang menyatakan sikap. Hingga besok (kemarin, red) berarti terhitung inchkrak,” tandasnya.

Batas waktu itulah yang telah habis. Hingga dihari terakhir terdakwa maupun JPU tidak menyatakan sikap terhadap putusan Majelis Hakim tersebut, dan sebagaimana ketentuan perundang undangan jika waktu yang diberikan telah berakhir artinya putusan terdakwa telah berkekuatan hukum tetap.

Diketahui total hukuman pidana penjara pokok yang harus dijalani Abdul Rahim alia Aim, yakni 9 tahun penjara. Jumlah itu, akumulasi dari pidana penjara kasus tipikor ditambah dengan pidana pokok penjara kasus narkotika. Karena diselain terjerat tindak pidana korupsi, sebelumnya di tahun 2015 lalu Abdul Rahim alias Aim juga pernah terjerat pidana narkotika dan terbukti sehingga dia juga bertatus terpidana. Dalam putusan akhir kasus narkotika terpidana Abdul Rahim alias Aim menuai hukuman pidana pokok penjara selama 7 tahun dan 6 bulan penjara.

Perkara narkotika yang menjerat itu berakhir ditingkat banding. Hasilnya terdakwa Abdul Rahim alias Aim terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melakukan tindak pidana tanpa hak atau melawan hukum menjual, membeli, menerima, Narkotika Golongan I bukan tanaman, sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 114 ayat (1) UU RI Nomor 35 tahun 2009 tentang Narkotika. (cdy)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.