Sembilan Bulan Gaji 16 Guru Honorer Donggala Belum Dibayarkan

Semuanya Bertugas di Daerah Terpencil

- Periklanan -

DONGGALA-Salah seorang tokoh masyarakat di Kecamatan Balaesang Tanjung Kabupaten Donggala, Mohammad Yasin Lattaka SE MM, mengungkapkan kegerahannya karena gaji honorer sebanyak 16 orang yang bertugas di Daerah Terpencil (Dacil) di wilayah Kecamatan Balaesang Tanjung, dari 300 orang guru honorer se Kabupaten Donggala Provinsi Sulawesi Tengah belum menerima honornya selama sembilan bulan.

Dirinya merasa terpanggil, karena penyebab belum dibayarkan gaji mereka (guru honorer, red) lantaran ke 16 guru ini adalah pendukung Iyamo Kami, yaitu jargon saat Mohammad Yasin Lattaka maju sebagai calon Wakil Bupati Donggala.

“Saya merasa terpanggil untuk mengungkapkan sebuah kasus yang menyentuh nurani kita, yaitu ada 16 orang guru honorer yang bertugas di Daerah Terpencil di wilayah Kecamatan Balaesang Kabupaten Donggala sampai saat ini sudah sembilan bulan belum menerima hak-haknya. Kasihan mereka, hampir setahun tidak menerima gaji, “ ungkap Mohammad Yasin, kepada Radar Sulteng, Rabu (2/1).

Dijelaskan Yasin, pihak yang bertanggungjawab dengan gaji honorer yang belum dicairkan ini adalah Hikmah Lassa, salah seorang pejabat di Dinas Pendidikan Kabupaten Donggala. Bahkan belum dicairkannya gaji para guru itu selalu dikaitkan dengan masalah Pilkada Donggala yang sudah selesai, bahwa ke 16 orang guru tersebut merupakan pendukung pasangan calon bupati dan wakil bupati H Idam Pagaluma SH – Mohammad Yasin SE MM, dengan jargon Iyamo Kami.

- Periklanan -

“Makanya kami laporkan ke pers ke media, karena nama kami dikait-kaitkan dengan guru honorer. Kami jelas tidak terima dengan tudingan ini. Sebab gaji adalah hak dari seorang guru, yang berstatus guru honorer yang bertugas di daerah terpencil. Mereka punya landasan hukum yang kuat karena memiliki SK dari pemerintah. Lalu mengapa mereka dizolimi seperti ini. Mau makan apa sudah anak dan isterinya, “ papar Yasin lagi.

Mereka mengajar, tambah Yasin, melewati hutan dan kebun-kebun hanya karena loyal kepada negara. Menjalankan tugas demi masa depan anak bangsa Indonesia, dan demi peningkatan dan kualitas pendidikan. “Jadi mengapa gaji mereka tidak dibayarkan. Ini kan bukan milik (uang) pejabat. Ini uang Negara, berasal dari rakyat. Uang pajak dari rakyat, kenapa tidak diberikan untuk rakyat, yaitu guru honorer, bekerja di daerah terpencil lagi, “ pungkasnya.

Sementara itu, Hikmah Lassa yang dikonfirmasi di nomor ponsel 081346742xxx enggan menjawab walau sudah ditelpon dan di sms. Tetapi menjawab konfirmasi media ini melalui keluarganya Udin Lassa, yang sudah memberi jawaban dari Hikmah, bahwa dana guru honor itu masih ada di bendahara. Masih utuh.

“Dana untuk gaji 16 guru honorer itu masih ada di pemegang keuangan dinas, yaitu di bendahara. Belum diapa-apakan. Gaji belum diberikan karena ke 16 guru honorer itu, menurut laporan kepala sekolah dimana para guru ini mengajar, bahwa mereka jarang masuk sekolah, dan jarang mengajar. Kemudian mereka sering menghina bupati Donggala Drs Kasman Lassa SH, “ jelasnya.(mch)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.