Selama 2016, Sulteng Diguncang 1.542 Kali Gempa Bumi

- Periklanan -

Kepala BMKG Palu Petrus Demon Sili (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Kepala Stasiun Geofisika Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Klas I Palu, Petrus Demon Sili MSi mengatakan, Provinsi Sulawesi Tengah diguncang sebanyak 1.542 kali gempa bumi sepanjang tahun 2016.

Menurut Petrus, gempa bumi berkekuatan signifikan atau yang dirasakan terjadi, hanya sebanyak 31 kali selama tahun 2016. Meskipun jumlah gempa yang terekam sebanyak 1.542 kali. Dari jumlah itu, sebanyak 981 berpusat di laut dan 561 gempa berpusat di darat.

“Banyak yang gempa mikro. Kalau diperkirakan, ada kadang dalam  sehari bisa terjadi 150 kali gempa mikro,” jelas Petrus dilansir Harian Umum Radar Sulteng, Rabu (4/1).

Aktivitas gempa yang sampai menimbulkan kerusakan ringan berkekuatan sekitar 5,1 skala richter (SR) berpusat di laut. Tepatnya terjadi di 5 kilometer arah timur laut Torue Kabupaten Parigi Moutong, Sulteng. Dilaporkan, ada beberapa rumah yang mengalami retak bagian dindingnya. Gampa kali itu saja yang ada memberi pengaruh secara fisik.

- Periklanan -

“Gempa tersebut juga dirasakan di beberapa wilayah seperti Kota Palu dan Kabupaten Donggala,” sebutnya.

Dia mengimbau kepada masyarakat agar tidak mudah percaya dengan isu prediksi gempa yang sumber informasinya tidak jelas. Salah satunya bersumber dari sosial media (sosmed) atau pesan singkat berantai yang menyebabkan keresahan di masyarakat. Kecuali itu informasi dari BMKG, atau wawancara pihak BMKG dengan wartawan, barulah bisa dipercaya sepenuhnya validasi data atau prediksinya.

“Hingga kini, gempa bumi tektonik belum bisa diprediksi secara ilmiah dengan baik. Sehingga BMKG akan mengeluarkan release terjadinya gempa bumi, setelah gempa bumi tersebut terjadi beberapa saat,” kata Petrus.

Dia juga menambahkan, dalam teori ilmu kegempaan, gempa-gempa kecil lebih baik dibanding tidak terjadi gempa sama sekali. Sebab, dengan adanya gempa kecil dengan intensitas yang cukup sering, justru dapat mencegah terjadinya penumpukan energi.

Yang dikhawatirkan menurutnya justeru jika dalam waktu lama tidak terjadi gempa, maka energi yang menumpuk jadi besar. Otomatis nanti energi (gempa) yang dikeluarkan juga berskala besar pula.

“Kalau sering gempa skala kecil di bawah 5 SR, itu bagus sebenarnya. Karena ada lepelasan energi kecil dan kerusakannya juga kurang. Mudah mudahan dengan adanya gempa-gempa kecil begini, energi yang tersimpan bisa semakin berkurang, dan tidak terjadi penumpukan energi,” harap Petrus. (acm)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.