Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Sekali Melaut Nelayan Bisa Meraup Hasil Rp315 ribu Sehari

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Dampak Ekonomi Hadirnya BBM Satu Harga di Kepulauan Una-Una, Sulawesi Tengah 

IKAN TANGKAPAN : Nelayan Kepulauan Wakai memperlihatkan ikan hasil tangkapan di dermaga dekat SPBU Kompak Wakai, belum lama ini.

SEJAK akhir tahun 2017 lalu, masyarakat yang berdomisili di kepulauan Una-Una, Wakai Kabupaten Tojo Una-Una, Sulawesi Tengah pertama kali bisa membeli harga BBM jenis premium (bensin) sama dengan harga di kota besar di Indonesia. Masyarakat yang sebagian besar berpencaharian sebagai nelayan itu menyebutnya seperti baru merdeka.

Laporan: Murtalib, Ampana Sulteng

PULUHAN tahun masyarakat kepulauan Una-Una yang masuk kategori wilayah dengan sebutan 3T ( Terdepan, Terluar, dan Tertinggal) tidak pernah merasakan mendapat bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi. BBM jenis premium penugasan itu sangat sulit diperoleh masyarakat. Kalau pun ada harga belinya Rp10 ribu per botol bekas mineral. Bila situasi musim ombak BBM subsidi itu dibeli hingga Rp20 ribu atau lebih. Itu terjadi selama puluhan tahun dan masyarakat menyebutnya belum merdeka.

Suplay BBM dari TBBM Poso menggunakan kapal tanker milik SPBU Kompak Satu Harga di dermaga Wakai Kepulauan.


Dampak sulitnya memperoleh BBM jenis premium membuat masyarakat yang sebagian besar berpencarian sebagai nelayan tidak bisa bekerja secara rutin. Artinya pekerjaan melaut menggunakan katinting (perahu bermesin) bergantung ada tidaknya bensin dijual di kepulauan. Saat itu BBM bersubsidi dikuasai tengkulak.
Namun sejak akhir Desember 2017 lalu, BBM satu harga bagian dari program presiden RI Joko Widodo sudah hadir di Kepulauan Wakai. Melalui SPBU Kompak, masyarakat kepulauan bisa menikmati murah dan mudahnya mendapatkan BBM penugasan tersebut. Selain harganya sama dengan daerah lain, kualitas dan kuantitas BBM satu harga terjamin karena selalu diawasi Satgas BBM yang melibatkan aparat terkait.
Menurut Komisaris Ampana Togean Bangkit Bersatu (ATBB) H Syamsudin Oemar, pernah datang tim dari BPH Migas pusat yang dipimpin Ansrullah (kepala BPH) maupun tim pertamina yang saat itu dipimpin Daniel Al Habsy (Kacab) Suluttenggo langsung sidak ke lokasi SPBU Kompak milik PT Ampana Togean Bangkit Bersatu (ATBB). Tujuan dari sidak tersebut, membuktikan bahwa BBM satu harga yang menjadi program presiden Joko Widodo untuk daerah dengan sebutan 3T benar-benar ada dan dijalankan sesuai instruksi presiden dan tepat sasaran.
Perlu diketahui Kabupaten Tojo Una-Una (Touna) hasil pemekaran Kabupaten Poso tahun 2004 silam, secara historis memiliki dua kerajaan yakni, Tojo dan Una-Una.  Kerajaan Tojo berwilayah di daratan terbagi enam kecamatan dan Una-Una berada di kepulauan juga terbagi enam kecamatan. Setidaknya Ada enam gugusan kepulauan besar masuk kategori tertinggal, terluar dan terisolasi yakni, kepulauan Una-Una,
Batudaka, Togean, Talatakoh, Waleakodi dan Waleabahi. Dari enam kepulauan tersebut sentral pemerintahan berada di kepulauan Batudaka yang berpusat di Wakai Kecamatan Una-Una. Disitulah lokasi SPBU kompak yang menjual BBM Satu harga milik mantan ketua Hiswana Migas Sulteng H Syamsudin Oemar dua periode. Untuk menuju SPBU Kompak Wakai bisa menggunakan transportasi Kapal Fery maupun kapal penumpang milik masyarakat. Jarak tempuh membutuhkan waktu sekira 4 jam dari kota Ampana. Sedangkan menggunakan speedboad carteran bisa ditempuh sekira-kira 3 jam. Sehari hanya sekali pemberangkatan kapal penumpang untuk pergi dan pulang (PP).

Pengawas SPBU Kompak Wakai Ahsan ditemui Radar Sulteng  mengungkapkan, rasa syukur dan terimakasih kepada Pertamina dan pemerintah Presiden Joko Widodo dengan hadirnya program BBM satu harga di kepulauan. ”Kami bersama masyarakat kepulauan Una-Una menyebutnya baru merdeka. Artinya setelah puluhan tahun Indonesia merdeka baru saat itu (akhir Desember 2017) masyarakat kepulauan  merasakan yang namanya BBM bersubsidi. Selama ini susah mencari BBM untuk keperluan melaut (mencari ikan) maupun untuk mesin genset,” kata Ahsan dan diamini nelayan ditemui Radar Sulteng saat itu.
Hadirnya BBM satu harga di kepulauan katanya, memiliki dampak positif untuk ekonomi masyarakat setempat yang sebagian besar para nelayan. Yang pertama kata Ahsan, para nelayan tidak kesulitan lagi mencari BBM dan bisa melaut kapan saja. Kedua, para nelayan bisa membeli BBM dengan harga murah sehingga hasil atau keuntungan dari menjual ikan bisa disisihkan alias ditabung. Bahkan pengelola tempat wisata tidak takut n
Mesin gensetnya pada karena mudah membeli BBM non subsidi.
”Karena biaya BBM lebih murah secara otomatis keuntungan hasil jualan ikan bisa ditabung. Apalagi sudah ada kas pembantu bank Sulteng,” ujarnya.
Tota, salah satu nelayan ditemui terpisah di TPI Wakai mengatakan, sejak adanya BBM satu harga di Wakai jangkauan melaut  semakin jauh. Sehingga peluang untuk mendapatkan hasil ikan semakin besar. Dengan modal BBM 10 liter, dirinya bisa melaut mendekati perbatasan dengan Gorontalo.  ”Sekali melaut biasa menghasilkan Rp315 ribu.  Harga ikan kualitas dibeli pengepul per kilogram Rp45.000. Sedangkan ikan batu (lokal) dan sejenisnya biasa kita jual per cucuk Rp5-10 ribu,” kata Tota dibenarkan rekannya bernama Mansur.
Mansur, nelayan asal desa Muara Bandeng menambahkan, hadirnya BBM satu harga sangat membantu masyarakat kecil. Sebelumnya, masyarakat nelayan diperhadapkan pilihan sulit. Kata Mansur, berapapun harga BBM yang dijual tengkulak kalau ada uang dibeli agar bisa melaut. Akhirnya, hasil melaut dan jualan ikan sebagian besar habis untuk membeli BBM. Namun sejak hadirnya BBM satu harga di Wakai sebut Mansur, membuat gembira para nelayan karena kapan saja bisa melaut dan hasilnya bisa disisihkan alias ditabung.
Kepulauan Una-Una yang dikenal dengan obyek wisata laut  banyak didatangi wisatawan Manca Negara saat sebelum pandemi Covid-19. Minimnya jaringan listrik dan telekomunikasi memaksa para pelaku bisnis penyedia cottage mengharuskan menyediakan mesin mesin genset untuk penerangan. Menyahuti kebutuhan bisnis tersebut, SPBU Kompak Wakai juga menyediakan Bahan bakar khusus (BBK) jenis pertalite. BBM non subsidi itu bisa diperoleh tanpa batas. Harga jualnya juga sama dengan BBK yang dijual di kota lain di Indonesia.  ”Tolong pak Camat dan pak Kapolsek diawasi BBM satu harga ini. Pertamina sudah sediakan untuk satu harga khusus masyarakat kurang mampu dan tidak boleh untuk keperluan bisnis. Bagi yang bisnis harus beli BBM non subsidi,” tegas Komisaris PT ATBB, H Syamsudin Oemar.
Hadirnya BBM non subsidi jenis pertalite di SPBU Kompak, ternyata mulai digemari para nelayan. Selain harganya terjangkau  BBM non subsidi yang oleh nelayan disebut bensin biru itu membuat mesin ketinting awet dan tarikan mesin jadi ringan. ”Kami berharap keberadaan stok BBM selalu ada di Wakai. Dengan ketersediaan stok BBM membuat para nelayan kapan saja bisa cari ikan,” tegas Mansur.
Peluang ekonomi di kepulauan juga direspon pihak perbankan. Adalah Bank Sulteng satu satunya yang membuka kas pembantu di Wakai. Untuk menjangkau enam kecamatan di kepulauan. Bank Sulteng juga menyediakan speedboad pribadi yang digunakan untuk menjemput dana di masyarakat.
Tinggal peran pemerintah daerah maupun provinsi Sulteng yang harus hadir ditengah masyarakat kepulauan. Apa yang menjadi kendala masyarakat harus segera dicarikan solusinya. Misalnya harga jual ikan masih bergantung tengkulak. Bila diasumsikan jumlah nelayan sebanyak 5000 dikalikan keuntungan minimal Rp100 ribu per hari, maka dalam sehari ada perputaran uang sebanyak setengah miliar. Sesuai data dari Pemkab Touna pada tahun 2017, jumlah nelayan mencapai 16 ribu. Hadirnya BBM satu harga di kepulauan diharapkan menjadi multi efek perekonomian di daerah dengan sebutan 3T. (*)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.