Sebulan, Sulteng Pasok Kebutuhan Nasional 1 Ton Cabai Kriting

- Periklanan -

Pedagang cabai rawit di pasar tradisional Manonda, Jumat (5/1). (Foto: Mugni Supardi)

PALU – Walau belum terlalu signifikan, daerah ini memberi kontribusi terhadap kebutuhan pangan nasional. Salah satunya adalah jenis cabai merah keriting. Dwikoraharjo, GM Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) Sulteng menyebutkan, dalam beberapa bulan terakhir ini pihaknya rutin memasok kebutuhan cabai merah keriting nasional dari daerah ini.

Ia mengakui, di daerah lain pengadaan bahan pangan tertentu ini PPI berkordinasi dan bahkan menjalin kerjasama dengan instansi terkait. Tapi khusus di daerah ini dilakukan langsung dengan petani.

PPI sendiri telah diminta oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) untuk membantu meredam lonjakan harga cabai. PPI ditugaskan untuk membeli cabai langsung dari petani, kemudian menyalurkannya ke daerah-daerah dengan lonjakan harga paling tinggi.

PPI sudah menandatangani perjanjian kerjasama dengan Ditjen Hortikultura Kementerian Pertanian untuk menjalankan fungsi tersebut. Termasuk juga pemetaan sentra-sentra produksi cabai.

- Periklanan -

“Sekitar 6-7 bulan terakhir ini setiap bulannya kami memasok kebutuhan cabai merah keriting nasional sekitar satu ton,” ujar Dwikoharjo, di lokasi Pasar Murah di kelurahan Nunu, tatanga, kemarin (24/1).

Pengiriman kebutuhan nasional tersebut tidak dilakukan terpusat, ke satu tempat. Tapi, pengiriman dilakukan langsung ke daerah-daerah yang membutuhkan seperti ke daerah-daerah di Pulau Jawa, Sumatra dan Kalimantan. “Biasanya, kita koordinasi ke PPI di daerah yang membutuhkan,” jelasnya.

Cabai merah keriting yang dipasok untuk kebutuhan nasional tersebut dibeli langsung dari petani-petani mitra PPI di daerah ini. Dwikoharjo menyebutkan, untuk pengadaan cabai merah keriting saat ini pihaknya bermitra dengan sekitar 10 orang petani yang ada di wilayah Lambunu, Kabupaten Parimo. “Kita punya mitra baru petani di Lambunu. Kalau di daerah lain seperti di Sigi kita belum ada mitra petani di sana. Pengiriman ke luar daerah kami lakukan via angkutan udara,” sebutnya.

Yang masih jadi kendala di daerah ini adalah produksi cabai rawit yang tidak setiap saat bisa langsung didapatkan. Buktinya, pada kegiatan Pasar Murah di Kelurahan Nunu kemarin pihak PPI membeli dari petani di Provinsi Gorontalo.

“Cabai rawit yang kami sediakan pada kegiatan Pasar Murah ini kami beli dari Gorontalo. Kebetulan di sana sedang surplus,” ujar Dwikoharjo.

Untuk dua hari Pasar Murah pihaknya menyiapkan sekitar 200 kilogram cabai rawit. Harga pasaran cabai rawit milik PPI sebesar Rp27 ribu per kilogram. Setelah disubsidi Rp10 ribu per kilogram, di lokasi Pasar Murah   hanya dijual dengan harga Rp.65 ribu per kilogram. (ars)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.