Sebelum Tertangkap, Kades Jononunu Lompat Jendela

- Periklanan -

PARIMO – Kepala Desa Jononunu, Saharudin HB Lawasa saat ini telah berhasil diamankan oleh pihak Kejaksaan Negeri (Kejari) Parimo. Ia ditangkap di rumah istrinya yang berada di Desa Jononunu, Kecamatan Parigi Utara, Kabupaten Parimo.

Saat akan ditangkap, kades yang kerap mangkir dari panggilan penyidik kejaksaan tersebut sempat melarikan diri alias kabur dengan cara melompati jendela rumah.

Namun, upaya untuk meloloskan diri berhasil digagalkan. Pihak kejaksaan yang dibantu oleh aparat kepolisian resort Parimo berhasil meringkus tersangka tidak jauh dari rumah tersebut.

Kajari Parimo, melalui Kasi Intel, Rifaizal SH, mengatakan, sejak pukul 17.00 Wita, sudah dilakukan maping, dibantu Buser Polres Parimo. Ia menjelaskan, pada hari Selasa setelah dilakukan ekspos, tim penyidik bersepakat bahwa syarat untuk ditetapkannya seseorang menjadi tersangka telah terpenuhi.

“Sesuai standarisasi KUHAP, maka dari itu tim penyidik pada Selasa kemarin menetapkan Saharudin HB Lawasa,”ujarnya.

- Periklanan -

Sekadar diketahui Pada saat kasus dugaan korupsi dana tersebut telah sampai ke tingkat penyidikan, belakangan diketahui bahwa kades Jononunu periode 2014-2020 mengundurkan diri. Penyidik kejaksaan juga sempat dibuat sulit, pasalnya yang bersangkutan tidak pernah menghadiri panggilan kejaksaan.

“Setelah ditetapkan sebagai tersangka, tim penyidik dibantu tim Buser Polres Parimo melakukan maping terhadap keberadaan yang bersangkutan. Memang ada upaya melarikan diri yang bersangkutan, justru lompat jendela,”ungkapnya.

Kasus dugaan korupsi dana desa tersebut berpotensi menimbulkan kerugian kurang lebih Rp360 juta, tahun anggaran 2018. “Itu masih perhitungan penyidik yang didasarkan pada fakta dan bukti keterangan,”jelasnya.

Sampai dengan Rabu (25/9) kemarin, tersangka masih berada di ruang penyidik Pidsus Kejari Parimo guna menjalani proses pemeriksaan. “Kami melanjutkan proses penyidikannya, karena sudah ditahap penyidikannya. Nanti kami akan laksanakan pemeriksaan sesuai ketentuan,”kata dia.

Ia menambahkan, setelah dilakukan penangkapan, mereka mempunyai waktu selama 1×24 jam untuk menentukan status penahanannya. “Melihat potensi, karena melihat yang bersangkutan sejak dari awal tidak kooperatif, kemungkinan besar akan dilakukan penahanan,”tegasnya. (Iwn)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.