Satu Warga Donggala Meninggal Mendadak

Punya Riwayat Perjalanan dari Gowa Sulawesi Selatan

- Periklanan -

PALU – Salah seorang warga Desa Sioyong Kecamatan Dampelas, Kabupaten Donggala berinisial D dilaporkan meninggal mendadak menjelang magrib, kemarin (26/3). Seketika berbagai dugaan penyebab meninggal warga yang baru kembali dari mengikuti kegiatan di Kabupaten Gowa Sulawesi Selatan tersebut membuat warga Desa Sioyong heboh dan ketakutan.

Pasalnya hingga tadi malam, sejumlah tetangga maupun warga masyarakat Desa Sioyong tidak ada yang berani mendekati rumah duka. Diperoleh informasi, hanya tim medis dari Puskesmas setempat yang berada di lokasi menggunakan perlengkapan yang ada dan ambulance. Hingga tadi malam, proses evakuasi warga yang meninggal mendadak tersebut masih diupayakan tim medis.

Kades Sioyong, Arwin Zainuddin dikonfirmasi Radar Sulteng, tadi malam membenarkan adanya warga Sioyong berinisial D usia sekira 19 tahun meninggal mendadak. Menurut Arwin, salah seorang warganya berinisial D, baru saja kembali mengikuti kegiatan jamaah yang ada di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Setibanya di kampung halaman kata Arwin, yang bersangkutan sempat mengeluh sakit demam, batuk dan sesak napas. Sekitar pukul 18.00 wita menjelang magrib diketahui yang bersangkutan sudah meninggal dunia.

‘’Warga saya ini berangkat rombongan dan sewa mobil pribadi via darat. Sebelum pulang ke Pantai Barat sempat mampir di salah satu tempat di Palu. Sesuai informasi yang saya dapat, teman jamaahnya ada yang berasal dari desa tetangga seperti Ponggerang dan Malonas. Jumlah belum tahu,’’ jelas Arwin dihubungi via polselnya tadi malam.

Setelah memastikan warganya meninggal kata Arwin, untuk menghindari dugaan terkena wabah menular pihaknya menghimbau warga untuk tidak mendekat dan mempercayakan tim medis setempat melakukan tindakan. Warga Sioyong kata Arwin, hingga tadi malam dilaporkan masih ketakutan untuk mendekat di rumah duka. Dari pantauannya, hanya ada tim medis dari Puskesmas setempat menggunakan perlengkapan medis dan sebuah ambulance terparkir di depan rumah.

- Periklanan -

‘’Sesuai informasi yang saya peroleh, kemarin sekitar pukul, 15.00 korban mengeluh sakit demam dan sesak napas di rumah neneknya. Menjelang magrib sekitar pukul, 18.00 dilaporkan sudah meninggal. Sempat ada yang mengatakan kejang-kejang sebelum meninggal,’’ katanya dan warga berharap ada tim medis dari Kabupaten Donggala atau Sulteng turun langsung memastikan penyebab meninggalkan korban.

Dikonfirmasi terpisah Kadis Kesehatan Donggala, Muzakir Ladoali, juga membenarkan adanya salah seorang warga Donggala Desa Sioyong berinisial D usia sekira 19 tahun meninggal dunia sekitar pukul, 18.00 wita, kemarin. Dari riwayat perjalanannya kata Kadis Muzakir, yang bersangkutan baru pulang mengikuti kegiatan itjimah di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Namun rombongan ini kata Muzakir, tidak terdaftar peserta dari Sulawesi Tengah. Rombongan ini, nanti diketahui sudah pulang ke Pantai Barat Desa Sioyong pada Rabu (25/3).

‘’Kemarin (26/3) sekitar pukul, 16.00 wita yang bersangkutan inisial D mengeluh sakit dan pergi di rumah neneknya. Sekitar pukul, 18.00 wita menjelang magrib yang bersangkutan didatangi tim medis dan diketahui sudah meninggal,’’ kata Muzakir seraya mengimbau masyarakatnya untuk selalu membiasanya diri mencuci tangan dengan air yang mengalir.

Dari hasil penelusuran tentang riwayat kesehatan lanjut Muzakir, yang bersangkutan memiliki penyakit liver. Sedangkan dari penjelasan mantan guru sekolah katanya, yang bersangkutan punya penyakit epilepsi. Untuk sementara penyebab meninggalkan yang bersangkutan patut diduga terkait penyakit tersebut. Pihaknya juga memeritahkan Kepala Puskesmas bersama tim medis setempat untuk memberikan edukasi kepada masyarakat untuk membantu memandikan jenazah yang bersangkutan. Bila ada kendala sesuai protapnya, untuk koordinasi dengan aparat TNI dan Polri setempat.

Terkait perlu tidaknya dilakukan uji lab, Kadis Kesehatan Donggala tersebut mengaku untuk sementara tidak perlu karena sifatnya mendesak. Misalkan masyarakat takut membantu memandikan jenazah, solusi yang dilakukan tim medis dengan menyemprot disinfektan di rumah duka sebelum dan sesudah dimandikan. Demikian juga kalau jenazahnya di salatkan di masjid. Harus dilakukan penyemprotan disinfektan minimal dua kali sebelum dan sesudah di salatkan di masjid.

‘’Setelah proses kegiatan pemakaman selesai, semua yang terlibat tidak boleh pulang dan harus menyeterilkan diri masing-masing yakni dengan mencuci tangan menggunakan air mengalir. Rencana pemakaman akan dilakukan besok siang, Jumat (27/3),’’ demikian kata Kadis Kesehatan seraya menjelaskan Dinkes Donggala belum memiliki APD standar dan menggunakan APD jas hujan yang dimodifikasi.(lib)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.