Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Satu Kontainer Hiu Gagal Diseludupkan

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Inilah ikan-ikan hiu yang ditangkap dan berhasil digagalkan oleh petugas pengamanan laut. (Foto: Fardi Kalang)

TOLITOLI – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Balai Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu (BKIPM), kembali menggagalkan pengiriman ikan bernilai ekonomis penting, setelah sebelumnya berhasil menggagalkan penyelundupan benih lobster di Mataram dan kurakura Brazil di Jakarta.

Kini Stasiun Karantina Ikan Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan Kelas I Palu wilayah kerja Tolitoli berhasil menggagalkan upaya pengiriman ikan hiu sebanyak satu kontainer di pelabuhan Dede Tolitoli, Rabu (12/4).

Demikian penyampaian fungsional PHPI dari BKIPM Palu, Fardi Kallang SH,  kepada  Radar Sulteng via email, Senin (17/4). Di lapangan, informasi diperoleh berdasarkan keterangan pemilik ikan hiu  berinisial NSR yang juga merupakan penanggung jawab dari salah satu Unit Pengolah Ikan (UPI) yang beroperasi di Kabupaten Tolitoli. “ Kecurigaan petugas karantina bermula pada saat melakukan kunjungan ke tempat penampungan ikan (cold storage) seminggu sebelum kejadian ditemukan beberapa potongan ikan hiu. Namun berdasarkan pengakuan pemilik bahwa ikan hiu yang ditangkap bukan merupakan ikan hiu yang dilarang dan dilindungi,’’tuturnya.

Menurut Fardi Kallang, hasil pemeriksaan terdapat empat kontainer ikan yang akan dikirim dengan daerah tujuan Jakarta yang pada saat kejadian telah berada di atas alat angkut yakni Kapal Laut Meratus. “ Dua kontainer berisikan ikan cakalang sebanyak 21.570 kg, dan satu kontainer berisikan ikan deho sebanyak 4.150 kg, ikan lajang 9.450 kg dan ikan bandeng 2.010 kg, serta satu kontainer yang berisikan ikan hiu sebanyak 1 ton,’’bebernya.

Tiga kontainer diantaranya, jelas Fardi, telah dilaporkan dan dilakukan pemeriksaan kesehatan ikan sebagaimana prosedur yang ada. Serta telah dilakukan tindakan pembebasan dengan terbitnya sertifikat kesehatan ikan setelah dilakukan pengawasan pada saat proses stuffing yang menerangkan bahwa media pembawa tersebut memenuhi syarat untuk dilalulintaskan. “ Namun terhadap ikan hiu yang ditemukan tersebut, tidak dilaporkan dan tidak dilengkapi dengan sertifikat kesehatan ikan dan surat keterangan rekomendasi dari Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) sebagaimana amanat permen KPNo 04 Tahun 2010 tentang perijinan Hiu dan Pari di Indonesia,’’ujarnya.

Berdasarkan pengakuan pemilik ikan bahwa jenis ikan hiu yang akan dikirim merupakan jenis Hiu Cucut dengan kondisi telah dibekukan dan tanpa kepala. Modus operandi yang dilakukan oleh pelaku dengan melakukan pemuatan ikan pada saat petugas karantina telah selesai melakukan pengawasan stuffing  ikan yang dilaporkan sebelumnya.

Sementara, Kepala Seksi Pengawasan Data dan Informasi, Irmawan Syafitrianto menjelaskan bahwa untuk pengiriman ikan hiu dan penerbitan sertifikat kesehatan ikan, harus disertai dengan persyaratan tambahan berupa surat rekomendasi dari BPSPL, yang menerangkan bahwa ikan hiu yang dilalulintaskan bukan merupakan jenis yang dilarang atau dilindungi.

Pimpinan BKIPM Palu, Khoirul Makmun S.Pi MM, menjelaskan bahwa terhadap barang yang berhasil digagalkan tersebut, saat ini berada dalam pengawasan petugas karantina untuk dilakukan tindakan karantina selanjutnya yakni tindakan penahanan sambil menunggu tim Penyidik dan Penindakan Kasus dari  BKIPM di Jakarta.

Lalulintas ikan, kata dia, dan produk perikanan yang tidak dilaporkan kepada petugas karantina dan tidak dilengkapai dengan dokumen kesehatan ikan merupakan tindak pidana karantina ikan sebagaimana dijelaskan dalam pasal 6 UU N0 16 Tahun 1992 tentang Karantina Hewan, ikan dan tumbuhan jo Pasal 88, 90 UU No 31 Tahun 2004 sebagaimana telah diubah dalam UU No 45 Tahun 2009 tentang Perikanan dipidana dengan pidana penjara paling lama 3 (tiga) tahun dan denda paling banyak  Rp 150 juta.

“ Keberhasilan BKIPM Palu wilayah kerja Tolitoli dalam menggagalkan pengiriman ikan hiu tersebut tidak terlepas dari koordinasi, komunikasi dan kerjasama yang sudah terbangun dengan Dinas Perikanan setempat dan petugas Kepolisian pelabuhan Tolitoli,’’terangnya.(*/mch)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.