Satu IKM di Palu Dapat Sertifikat SNI

- Periklanan -

PALU –  Salah satu industri kecil menengah (IKM) di Palu mendapatkan Sertifikat Tanda Pengunaan Standar Nasional Indonesia (STP-SNI) dari Lembaga Sertifikasi Produk Balai Besar Industri Agro (LSPro-BBIA). IKM itu adalah Hj Mbok Sri yang memproduksi Bawang Merah Goreng.

Kepala Bidang Pendidikan dan Pemasyarakatan Standarisasi Badan Standard nasional (BSN) Nurhidayati (kedua dari kanan) menyerahkan sertifikat Standar Nasional Indonesia (SNI) kepada salah seorang pelaku industri kecil menengah di Palu, Sulawesi Tengah, Selasa (24/7). (Foto: bmzIMAGES/Basri Marzuki)

Pengelola Hj Mbok Sri, Sumarno menerima langsung sertifikat SNI yang diserahkan pejabat Badan Standarisasi Nasional Indonesia (BSNI) dalam acara Pengenalan Tanda SNI Produk Pangan di Hotel Mercure, kemarin (24/7). Penyerahan disaksikan Kabid Fasilitasi dan Informasi Industri (FII) Dinas Perindag Sulteng, Irwansyah dan Kabid Pengembangan Produk Industri (PPI), Bambang Mustantyo serta para pelaku IKM yang menjadi peserta acara itu.

Usai menerima STP-SNI, Sumarno menyampaikan testimoni di hadapan para pelaku IKM. Dia mengatakan sertifikat SNI diperoleh tidak secara instan. Membutuhkan waktu yang cukup lama dalam proses mendapatkan sertifikat. Belum lagi dokumen yang sudah disiapkan ditolak oleh lembaga berkompeten dan harus dilengkapi sesuai permintaan lembaga itu.

Kondisi ini membuat pihaknya hampir mundur untuk mendapatkan sertifikat SNI. ”Untuk mendapatkan SNI tidak mudah. Saking sulit tantangannya, kami sempat ingin mundur untuk mendapatkan SNI,” katanya.

- Periklanan -

Namun pihaknya tetap berusaha keras untuk memperoleh SNI. Karena itu, Sumarno menyampaikan apresiasi dan terima kasih kepada pemerintah provinsi, khususnya Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Perindag) Sulteng atas binaan dan bimbingan terhadap IKM Hj Mbok Sri.

Berdasarkan pengalamannya itu, kepada pelaku IKM yang hadir, Sumarno berpesan agar siapkan mental bila ingin mendapatkan STP-SNI. Dia mengatakan proses mendapatkan SNI dimulai September 2017 dan selesai pada April 2018. Beberapa bulan kemudian pihaknya menerima STP-SNI.

”Saya yakin IKM kita pasti bisa mendapatkan SNI. Hanya saja harus siapkan mental. Selain itu siapkan sarana dan prasarana pengolahan produk pangan sesuai standar yang sudah ditentukan,” katanya.

Dia juga berpesan pelaku IKM untuk memiliki pengetahuan yang memadai dalam mengolah produksi pangan. Selain itu memperhatikan cara penerapan sanitasi di tempat produksi sehingga produksinya tidak terkontaminasi.

Sumarno mengakui hal positif yang didapat dengan adanya SNI, produk mereka semakin mendapat kepercayaan masyarakat.(sya)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.