alexametrics Satu DPO MIT Ditembak di Area Bendungan Desa Dolago – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Satu DPO MIT Ditembak di Area Bendungan Desa Dolago

Terisa Tiga Orang yang Masih Dicari

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

PARIMO – Tim Satgas Madago Raya atau Satgas penanganan kelompok teroris Mujahidin Indonesia Timur kembali berhasil menembak satu lagi DPO MIT.

DPO yang tertembak adalah Gazali alias Ahmad Panjang tertembak di Desa Dolago, Kecamatan Parigi Selatan, Kabupaten Parimo, Provinsi Sulawesi Tengah (Sulteng), pukul 10.30 Wita, Selasa (4/1).

Kapolda Sulteng Irjen Pol Rudy Sufahriadi dalam keterangan persnya di Polres Parimo, menguraikan, DPO MIT, Ahmad Panjang tertembak saat kontak senjata dengan tim Sogili dalam Operasi Madago Raya. Kontak tembak, sekitar pukul 06.30 Wita, ketika Tim Sogili melaksanakan Ambush di tiga titik mengcover area Desa Dolago.

Satu titik mengcover kebun, satu titik mengcover sungai dekat pohon bambu dan satu titik di jalur antar kebun. Pada saat melaksanakan Ambush, tim mendengar ada suara gesekan daun dan semak.

Kemudian tim melihat DPO Ahmad Panjang terindentifikasi jelas, sampai anggota memutuskan untuk melakukan penindakan.

“Dia tertembak di area kebun dekat bendungan. Harusnya berdua, karena mereka tidak pernah sendiri biasanya. Tapi yang tertembak satu,” ujar Kapolda.

Menurut Kapolda Rudy, imbauan agar sisa kelompok MIT menyerahkan diri sudah berkali-kali disampaikan, sejak Ali Kalora tertembak. “Saya sudah mengimbau, kalau bisa menyerahkan diri,”ungkapnya.

Untuk diketahui bahwa Ahmad Panjang lahir di Luwu, Sulawesi Selatan, Provinsi Sulawesi Selatan, keluarganya juga berada disana. “Nanti kita akan tanyakan keluarganya, apakah menghadiri pemakaman disini atau tidak. Nanti itu bagian dari kita,”jelas Rudy.

Jenazah Ahmad Panjang dibawa ke Rumah Sakit Bhayangkara Kota Palu dan akan divisum. “Kita akan lanjutkan pengejaran dan penangkapan terhadap tiga DPO lagi,” tegasnya.

Tetapi jika ketiga DPO tersebut menyerahkan diri, tetap diterima. “Saya mengimbau, selaku penanggung jawab operasi Madago Raya kalau bisa menyerahkan diri, kenapa tidak. Kalau tidak, kami akan kejar terus,” tandasnya.

Adapun barang bukti yang berhasil diamankan antara lain, 2 pasang baju, 1 pasang celana panjang, 1 jaket, 1 buah parang, kaos kaki, 1 terpal besar dan 1 terpal kecil, 1 buah panci, 1 Hammok , 1 senter kepala, 13 baterai besar, 2 baterai kecil, 2 bungkus garam, 3 bungkus penyedap rasa, 1 bungkus kopi, 1 kantong beras, 2 gelas plastik.

Selain itu, 1 tali tambang, ransel, 1 buah selimut, centong, 1 jam tangan, 1 sendok makan, 1 Betadine, 1 gunting, handsaplas, 1 gergaji, 1 tongkat, benang jahit, 1 baterai Handphone Nokia, obat-obatan, 3 buah korek api, 1 cermin, 1 lampu Natal, uang Rp202.200, chestring, 1 botol bubuk mesiu dan 1 buah bom.

Berdasarkan data Polri sebelumnya, anggota MIT hanya tersisa empat orang. Yakni, Askar Alias Pak Guru, Suhardin alias Hasan, Galuas alias Nae alias Muklas dan A. Gazali alias A, Panjang. Dengan tewasnya A. Gazali tersebut dapat dipastikan bahwa anggota MIT yang tersisa hanya tinggal tiga orang. “Masih ada anggota yang lainnya,” terang Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Ahmad Ramadan.

Sementara Pengamat Terorisme AL Chaidar menjelaskan bahwa dengan semakin lemahnya MIT, maka TNI dan Polri seharusnya bisa mempercepat penuntasan pengejaran MIT. Pengejaran terhadap MIT ini sudah terlalu panjang dan menghabiskan energi. “Kalau bisa dituntaskan di era Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo tentunya ini prestasi tersendiri,” ungkapnya.

Yang juga penting, jangan sampai MIT bisa melakukan rekrutmen anggota. Sebab, sudah beberapa kali MIT mampu untuk menambah jumlah anggotanya, kendati pemimpinnya seperti Santoso dan Ali Kalora tewas. “Jangan sampai ada rekrutmen lagi,” urainya.

Karena itu penyekatan terhadap kelompok tersebut jangan sampai dihentikan atau malah lengah. Dia menuturkan, dalam pengejaran di hutan tentunya penyekatan itu sangat penting. “Untuk membatasi ruang geraknya,” ujarnya.

Bagian lain, Satgas Nemangkawi juga diperpanjang masa operasinya hingga 25 Januari mendatang. Satgas yang mengejar kelompok separatis teroris (KST) Papua tersebut sebenarnya telah berakhir masa operasinya pada 31 Desember lalu. “Namun, diperpanjang dengan pendekatan kesejahteraan,” terang Karopenmas Divhumas Polri Brigjen Ahmad Ramadan. (iwn/idr)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.