Sarah Diva Rahmani, Anak Petani yang Memiliki Obsesi Lanjutkan Studi di Eropa

- Periklanan -

MEMBANGGAKAN: Sarah Diva Rahmani, diapit sang Ayah Lukman dan Ibu Indrawati, usai prosesi pengukuhan wisudawan Kamis (2/3). (Foto: Dok pribadi)

PROSESI wisuda Universitas Tadulako (Untad) Kamis kemarin, merupakan peristiwa yang bakal tidak dilupakan pasangan Lukman dan Indrawati. Di antara ribuan lulusan Untad yang dikukuhkan, sang putri sulung, menjadi yang lulusan terbaik dari Fakultas Kehutanan.

Laporan: ABDUL HANIF


WAJAHNYA masih terlihat semringah. Sarah Diva Rahmani, masih belum percaya kalau dia termasuk salah satu lulusan terbaik Untad. Meraih Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,83 dengan lama studi 3 tahun 5 bulan, Sarah, sapaan akrabnya berhak menjadi lulusan terbaik dari Fakultasnya, yakni Fakultas Kehutanan.

“Menjadi lulusan terbaik, tentu saja menjadi impian seluruh mahasiswa Untad. Tapi menjadi seperti ini, tampaknya belum ada dalam bayangan saya ketika mulai kuliah lalu,” kata gadis kelahiran Sibalaya 7 Mei 1995 ini.

Satu hal yang membuat Sarah bangga dengan predikatnya sebagai lulusan terbaik tersebut. Katanya, dia mampu membuat bangga sang ayah dan ibunya. Dia, mengaku ketika pengukuhan lulusan terbaik oleh Rektor Untad, Prof DR Ir H Muh Basir Cyio, SE, MS, sang ayah tampak meneteskan airmata tanda bangga dan bahagia.

“Inilah salah satu bentuk pengabdian sekaligus pembuktian kepada orang tuaku, bahwa selama ini saya sungguh-sungguh kuliah,” kata Sarah dengan mata berkaca-kaca.

Kuliah di Fakultas Kehutanan, merupakan tantangan tersendiri bagi Sarah. Dia, mengaku dosen di fakultasnya, dikenal cukup disiplin. Namun baginya, hal itu justru menjadi tantangan baginya untuk belajar tentang kedisiplinan. Tinggal bersama sang paman di Desa Baliase Kecamatan Marawola Kabupaten Sigi, sehingga Sarah harus pandai-pandai mengatur waktu, berangkat ke kampus.

“Saya sudah harus bisa memperkirakan berapa lama saya di perjalanan. Sebab umumnya dosen di Fakultas Kehutanan sangat disiplin. Saya tidak boleh terlambat, sebab ketika saya datang dan di dalam ruangan sudah ada dosen, maka saya sudah tidak boleh masuk ruangan. Awalnya mungkin berat, tapi Alhamdulillah saya bisa belajar disiplin. Buktinya saya bisa jadi yang terbaik,” katanya bangga.

- Periklanan -

Satu hal yang juga menjadi tantangan bagi Sarah kuliah di Fakultas Kehutanan, adalah praktik yang tentu saja harus dilakukan di hutan. Belajar langsung di hutan kata Sarah, malah membuatnya makin cinta dengan hutan. Dia juga mengaku miris, melihat banyaknya kasus illegal logging dan pembabatan hutan.

“Saya masuk di kehutanan, juga karena terdorong rasa keprihatinan atas maraknya pembabatan hutan. Ketika saya masih sekolah, desa saya dilanda banjir bandang. Penyebabnya karena diduga pembabatan hutan. Makanya ketika itu, saya terdorong untuk kuliah di (Fakultas) kehutanan,” ungkapnya.

Alumni SMAN 3 Palu ini, meraih predikat cum laude. Dalam skripsinya, Sarah mengangkat penelitian tentang Respons Masyarakat Terhadap Kegiatan Penyuluhan Kehutanan. Penelitiannya dilakukan di kampung halamannya, yakni Desa Sibalaya Utara.

Sulung tiga bersaudara ini, juga mengaku aktif dalam beberapa organisasi kampus. Baik yang ada di lingkungan fakultasnya, maupun organisasi di tingkat universitas. Sarah, mengaku pernah menjadi pengurus BEM Fakultas serta pernah menjabat Bendahara Lembaga Penerbitan Mahasiswa (LPM).

Ditanya obsesinya setelah lulus. Dia, mengaku ingin dan saat ini tengah berusaha, bisa melanjutkan studi di tanah Eropa. Dia, ingin membuktikan, walaupun hanya anak seorang petani, tetapi bisa sekolah di Eropa.

Sarah, tidak main-main untuk mewujudkan obsesinya tersebut. Saat ini, dia mengaku sedang kursus untuk mempermantap wawasan dan kemampuannya berbahasa Inggris. Hal itu penting, untuk menjadi modal sekolah di Eropa.

“Saya juga sedang mencari peluang untuk dapatkan beasiswa bisa lanjut S2 di Eropa,” katanya lagi.

Sarah, mengaku salah satu yang sangat memberikan dorongan kepadanya untuk bisa studi di Eropa, adalah sang Paman, Muh Edward Yusuf MSc, yang pernah mengenyam pendidikan program magister di Aarhust University Denmark.

“Insya Allah, dengan dukungan penuh Papa dan Mama, Tante dan Paman, saya bisa mewujudkan obsesi itu. Dalam pandangan saya, kalau kita berusaha, tidak ada yang mustahil untuk kita gapai. Tapi tentu saja, tidak lupa berdoa,” tandasnya.(**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.