Sanksi Diberikan Jika Terbukti Bersalah

- Periklanan -

PALU-Dugaan perselingkuhan yang melibatkan oknum dosen Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Tadulako dan mahasiswi pascasarjana di kampus yang sama, mendapat perhatian Rektor Untad, Prof Dr Ir H Mahfudz MP. Prof Mahfudz menegaskan, pihaknya akan memberikan sanksi jika yang bersangkutan terbukti bersalah. Saat ini kata Prof Mahfudz, dugaan perselingkuhan yang melibatkan Ketua Prodi di Fakultas Kesehatan Masyarakat itu sedang ditangani pimpinan Fakultas Kesmas sebagai atasan langsungnya.

“Sanksi administrasinya bisa saja diberhentikan dari Ketua Prodi, sedangkan Sanksi pelanggaran etiknya, tim yang dibentuk Fakultas dapat berkordinasi dengan  Komisi Etik. Intinya proses BAP  harus membuktikannya. Saya meminta kepada tim segera melakukan penyelidikan agar kasus ini tidak berlarut dan ada keputusannya,” jelas Rektor Untad, Prof Mahfudz  ditemui di ruangannya, kemarin (26/9).

Sejauh belum ada bukti sambung Rektor, belum  ada sanksi yang dikenakan kepada dosen dengan inisial M itu. Prof Mahfudz mengajak semua pihak untuk menggunakan asas praduga tak bersalah dalam melihat persoalan ini. Dari kedua belah pihak sambungnya, sama-sama mengklaim benar. Dosen inisial M mengaku tidak melakukan perselingkuhan, sedangkan istrinya NN mengaku punya bukti M melakukan perselingkuhan.

- Periklanan -

“Semua ini menjustifikasi dirinya benar. Laki-laki juga begitu. Perempuan juga begitu. Kita tunggu  hasilnya dari polisi. Jadi kalau polisi menyatakan terbukti perselingkuhan, nanti ada sanksinya, apakah sanksi ringan, sedang, atau berat. Jadi kita tetap menunggu dulu hasil dari kepolisian, termasuk tim dari Fakultas,” jelasnya.

Lebih jauh, Rektor Untad mengimbau agar baik dosen mau pun mahasiswa memanfaatkan waktu semaksimal mungkin untuk konsultasi kepada dosen di lingkungan kampus. Dosen pun kata Rektor Untad, memiliki waktu lebih banyak di kampus ketimbang di luar kampus. Sehingga untuk urusan konsultasi atau hal-hal terkait akademik bisa dimaksimalkan di lingkungan kampus.

“Kecuali tidak bisa ketemu di kampus. Asalkan mahasiswa ke rumahnya dosen, saya pikir bisa saja datang konsultasi. Kalau dosen ke tempat mahasiswa, sudah tidak bagus itu,” pungkasnya. (saf)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.