Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Sahdin Lasau, Legenda Sepakbola Sulteng Bicara Prestasi

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Sahdin Lasau (Foto: Muchsin Sirajuddin)

Jangan Rekrut Pemain Berdasarkan Sistem Keluarga

DI era kompetisi Galatama dulu, nama Sahdin Lasau sangat populer. Bukan hanya di Palu atau di Provinsi Sulteng saja, tetapi dia dikenal di seluruh Indonesia sebagai pesepakbola professional yang berkiprah di kompetisi PSSI dengan nama Galatama, dengan menjadi pemain andal di klub hebat tanah air Pupuk Kalimantan Timur (PKT) Bontang.

LAPORAN : MUCHSIN SIRADJUDIN


YAH Sahdin Lasau adalah pemain dari Kota Kaledo, Kota Palu. Pernah berjaya ditahun 1980-an, di kancah persepakbolaan nasional. Sahdin Lasau muda mulai terlihat bakat sepakbolanya diakhir tahun 1970-an, saat itu masih berusia muda 14 tahun, hingga malang melintang di beberapa klub top saat itu. Sempat dilatih oleh pelatih asal Brasil Barbatana yang akan mempersiapkan Timnas menuju kualiffikasi Piala Dunia 1982, di eranya bintang Argentina Diego Armando Maradona.

Sahdin Lasau pun satu angkatan dengan pelatih U 19 Timnas Indonesia saat ini, Fachri Husaini yang sama-sama memperkuat PKT Bontang. Juga mantan penjaga gawang Timnas Hermansyah dan Donny Latuperisa. Begitu piawainya dia di sepakbola, dia tak pernah berhenti hingga harus menggantung sepatu, dan kini bekerja di Rumah Sakit Madani sebagai PNS yang baru saja terangkat. “Suka dukanya sebagai pemain semi professional di Indonesia (Galatama) sangat banyak, “ kata Sahdin, mengawali pembicaraannya, kemarin.

Apa resepnya sehingga dia bisa bersinar di sepakbola nasional?. Kuncinya adalah pada disiplin diri. “Dengan disiplin diri kita bisa berkiprah menjadi seorang pemain yang berprestasi dan professional, “ katanya.

Namun ia juga mengingatkan kepada Pembina sepakbola di Sulteng agar bisa melahirkan sebuah tim sepakbola andal di provinsi Sulteng dengan cara tidak memandang kekeluargaan. Sebab, kata dia, bila seorang pengurus ataupun pelatih merekrut pemain hanya berdasarkan kekeluargaan, maka hasilnya tidak akan bagus. “ Selama ini daerah kita dalam merekrut pemain hanya berdasarkan kekeluargaan. Bagaimana mau berprestasi kalau pendekatannya kekeluargaan. Kita harus objektif melihat bakat seorang pemain yang akan kita rekrut,” tegasnya.

Selain itu, yang perlu diperhatikan adalah tinggi badan seorang pemain. Minimal saran Sahdin Lasau, seorang pemain yang baik itu bertinggi badan 165 centimeter ke atas. Secara berseloroh ia membandingkan dengan pemain berprestasi di Pulau Jawa rata-rata tinggi badannya di atas 165 centimeter. “ Kalau di bawah 165 centimeter nanti di olok-olok sama pemain lainnya. Elu jangan main bola, lebih baik elu main kelereng aja,” paparnya, mengambarkan bahwa tinggi badan menjadi syarat utama untuk eksis di sepakbola nasional.

Ia memahami, pemain-pemain berbakat di bumi Tadulako Sulteng cukup banyak, tetapi selalu kalah bersaing ketika diseleksi di tingkat nasional. Pasalnya, karena tinggi badan tidak proporsional, tidak ideal. Karena itu ia menyarankan seorang pelatih yang diberi tugas oleh pengurus PSSI maupun klub agar mencari pemain yang bertubuh atletis. “Kalau cari pemain yang adil dong. Jangan cuma di Palu saja. Lihat itu pemain dari Tolitoli tinggi badannya bagus-bagus, di atas 165 centimeter. Nanti kalau bagus badannya tinggal dipoles permainannya oleh pelatih,” tegas Sahdin, yang tidak mau jadi pelatih, tetapi memilih sebagai pemberi saran kepada pelatih maupun pengurus, alias sebagai pemikir yang bekerja di belakang layar.

Setelah memilih pemain yang objektif, kemudian memprioritaskan pemain dengan tinggi badan di atas 165 centimeter, maka yang harus diperhatikan kelanjutannya adalah menjaga kebugaran tubuh. Disini ada proses, perlu melakukan disiplin ketat. “Bagaimana menjaga tubuh selalu fit dan segar, kita harus melakukan fitness di luar jam latihan. Sejauh ini, pemain kita hanya berbakat alam saja, tidak dibarengi dengan fitness. Padahal fitness itu sangat penting untuk seorang pemain,” jelasnya lagi.

Menurutnya, pemain Eropa dan Amerika Latin, bisa eksis berkiprah di sepakbola pro dunia lantaran rajin menjaga kebugaran tubuhnya di sejumlah klub fitness. Karena itu seorang pemain harus berlangganan klub fitness di luar game maupun latihan teknis sepakbola. “Maradona dan Lionel Messi bisa hebat meski tingginya 165 centimeter, karena di luar jam latihan selalu melakukan latihan ekstra yaitu fitness. Demi kebugaran tubuhnya, “ pungkasnya.(***)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.