Saatnya Perempuan Jadi Agen Perdamaian

Cegah Paham Radikalisme dan Terorisme

- Periklanan -

PALU – Keterlibatan perempuan sebagai pelopor atau agen perdamaian memiliki peran sangat strategis. Pasalnya dipundak perempuan menjadi tumpuan pendidikan anak di keluarga maupun melalui komunitas perkumpulan perempuan.
Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) bersama Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Tengah mendorong kalangan perempuan untuk aktif sebagai agen perdamaian di dunia nyata maupun di dunia maya sehubungan dengan tren radikalisasi yang menyasar kaum perempuan dan anak-anak.
Menurut Kasudit Pengamanan Lingkungan BNPT Kolonel Rahmat Suhendro bahwa kalangan perempuan hendaknya secara aktif memberikan pencerahan dan pendidikan baik dalam lingkungan keluarga maupun masyarakat secara luas.
“Keterlibatan perempuan mempunyai peran strategis karena menjadi tumpuan pendidikan anak di keluarga maupun melalui komunitas perkumpulan perempuan,” katanya dalam kegiatan yang digelar BNPT dan Forum Koordinasi Pencegahan Terorisme (FKPT) Sulawesi Tengah, kemarin (12/9).
Sesuai laporan ketua panitia yang juga Kabid Perempuan dan anak FKPT Sulteng, Dra Rita Safitri Lapasere MSi, kegiatan ini dilaksanakan sehari dan mendatangkan tiga Narasumber dari Jakarta dan satu dari lokal Sulteng. Olehnya diminta para peserta untuk proaktif menanyakan hal-hal yang berkaitan pencegahan radikalisme di lingkungan masing masing.
Masih menurut Rahmat Suhendro, banyaknya anggota laki-laki ISIS yang tewas di Suriah lanjutnya, mendorong kelompok itu mengerahkan perempuan dan anak-anak menjadi teroris, dan kecenderungan ini pun turut menyebar ke seluruh dunia, tak terkecuali di Indonesia.
“Semakin kurangnya kader dan anggota memaksa mereka untuk mendorong perempuan agar tampil sebagai pelaku aksi radikal,” ujarnya.
Di sisi lain, kelompok teroris menyebarkan propaganda dan narasi bermuatan sentimen dan kebencian berbasis perbedaan agama sebagai bagian dari upaya meradikalisasi masyarakat.
Rahmat Suhendro yang berpangkat Kolonel menjelaskan, kelompok teroris juga mengimpor konflik di negara lain sebagai alasan untuk perjuangan. Penderitaan yang terjadi di Timur Tengah seperti Suriah dan Irak dijadikan propaganda untuk mengajak dan merekrut anggota di dalam negeri yang tidak mengerti peta konflik yang sebenarnya.
“Patut dipahami bahwa seseorang menjadi teroris bukan proses yang instan, tetapi melalui tahapan dari mengadopasi narasi-narasi intoleran, radikalisme dan terakhir menuju terorisme,” ungkapnya.
Mewakili Direktur Pencegahan BNPT, Rahmat Suhendro berharap perempuan menjadi bagian penting dalam menangkal narasi-narasi tersebut, bukan justru menjadi korban narasi kekerasan dan teror.
“Apalagi sebaran narasi radikalisme saat ini tidak hanya terjadi secara offline, tetapi yang lebih mengkhawatirkan narasi radikalisme yang bertebaran di dunia maya,” demikian sebutnya. (Lib)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.