Saat Konsesi Pertambangan Mencengkram Lingkungan dan Kehidupan Desa (2)

DPRD Morut Turunkan Tim Pansus Telusur Jejak Pencemaran Lingkungan

- Periklanan -

Kelompok pemuda Desa Tiu, Kecamatan Petasia Barat, Kabupaten Morowali Utara, Sulawesi Tengah, tetap menolak aktifitas pertambangan di wilayahnya. Perlawanan ini kian gencar, memaksa DPRD setempat membentuk panitia khusus terjun ke lokasi terdampak lingkungan.

- Periklanan -

Laporan Ilham Nusi, Morowali Utara

HALAMAN kantor Kecamatan Petasia Barat tampak ramai dijejali warga Desa Tiu, Senin (5/8) siang. Sejumlah aparat Polri dan Satpol-PP juga terlihat di sekitarnya. Hari itu adalah jadwal peninjauan lokasi yang disebut-sebut tercemar akibat aktifitas tambang Mulia Pasific Resources (MPR) PT Itamatra, dan PT Sumber Suarna Pratama (SSP).
Di antara kerumunan warga nampak perwakilan ketiga perusahaan tersebut. Camat Petasia Barat Deny Engka, Kapolsek Petasia Iptu La Sida, dan Kepala Desa Tiu Acil Helai dan anggota Tim Pansus DPRD Morut nampak berkoordinasi. Pansus itu dipimpin politisi Partai NasDem, Molter P. Suade.
Tak jauh dari mereka sejumlah warga bersitegang dengan Direktur PT SSP, H Sirajuddin. Mereka berdebat soal penambangan yang menyebabkan sungai-sungai dan Danau Tiu memerah.
“Anda jangan banyak bicara biar kita tidak emosi,” kata seorang tua dengan nada tinggi.
Sirajuddin menyanggah tudingan warga. Ia memastikan PT SSP belum beraktifitas sebagaimana lazimnya. Saat ini, katanya, PT SSP masih dalam tahap explorasi.
“Yang sedang kami (PT SSP) kerjakan adalah pembukaan jalan hauling dan pembuatan sedimen pond. Jadi bukan kami yang mengakibatkan pencemaran lingkungan,” ujarnya, menjauhi warga.
Di seberang jalan, manajemen PT MPR berjalan mendahuli rombongan menggunakan dua unit kendaraan roda empat. Sejumlah wartawan dan anggota DPRD juga ikut bersama. Tindakan itu membuat camat geram.
“Apa ini, kenapa mereka sudah jalan duluan. Seharusnya semua tim bersama-sama turun kesana,” bentak Deny Engka, lalu coba ditenangkan Iptu La Sida.
Beberapa menit selanjutnya, Camat Petasia memimpin tim yang masih berada di kantor camat. Wartawan media ini juga ikut bersama mereka. Rombongan itu kemudian diikuti puluhan warga yang menggunakan sepedamotor.
Kendaranan kami melewati perkebunan kelapa sawit milik anak perusahaan PT Astra. Di beberapa titik dtemui jalan berlumpur. Bahkan kendaraan dinas camat Petasia Barat tak mampu melewatinya.
Seperti dugaan penulis, peninjauan itu tidak berjalan efektif. Sebab para peninjau diarahkan hanya ke satu titik dalam areal penguasaan PT SSP. Menurut pihak perusahaan, lokasi itu adalah areal workshop atau tempat peralatan berat diparkir atau menjalani perbaikan.
Masih di tempat itu, tim menemukan tiga lubang cukup dalam. Galian itu tampak baru dibuat. Lubang tersebut terhubung dengan alur semacam parit menuju ke sungai di sebelahnya. Sejalan kemudian, pihak PT SSP mengakui bahwa lokasi itu adalah sedimen pond.
Kedua rombongan ini kemudian bertemu tak jauh dari lokasi sedimen pond milik PT SSP. Di tempat itu terjadi perdebatan yang cukup alot antara warga dengan Humas PT MPR. Kondisi ini kemudian ditengahi Tim Pansus.
“Hasil dari peninjauan ini kita lanjutkan di kantor kecamatan,” ujar Molter Suade.
Mereka kemudian sepakat. Seluruh rombongan kemudian kembali. Dalam perjalanan, Tim Pansus berhenti di areal konsesi PT Itamatra. Perdebatan juiga terjadi di tempat itu. Pasalnya, tim tehnik tambang PT Itamtra menyebut arealnya tidak dilitasi anak sungai. Namun kenyataannya dalam peta kawasan terlihat alur biru yang menandakan aliran sungai.
“Anda jangan bilang tidak ada sumber air di sini. Ini buktinya ada garis biru penanda alur sungai,” hardik Molter.
Rombongan kemudian melanjutkan perjalanan. Beberapa orang warga yang berdiri di persimpangan jalan blok perkebunan sawit, mencoba mengarahkan rombongan masuk ke dalam. Tidak hanya sekali, di blok persimpangan blok lainnya juga demikian. Namun upaya itu diabaikan.
Tiba di kantor camat, Molter Suade kemudian memimpin rapat. Saat itu diputuskan ketiga perusahaan wajib mempresentasikan pengelolaan lingkungan dan apa saja yang telah mereka lakukan di kawasan pertambangan. Tidak hanya itu, Tim Pansus DPRD juga menginstruksikan kepada ketiga perusahaan untuk menghentikan sementara aktifitasnya.
“Warga meminta perusahaan menghentikan aktifitasnya sementara. Kiranya hal ini dapat dipatuhi perusahaan,” tegas Molter sembari meminta pertimbangan perwakilan perusahaan.
Atas berbagai pertimbangan, perwakilan ketiga perusahaan itu kemudian menyetujuinya. Pertemuan itu kemudian dibubarkan.
Penulis yang penasaraan dengan upaya warga di persimpangan blok perkebunan sebelumnya, lantas kembali ke tempat itu. Beberapa kali salah masuk lokasi. Di sebuah lorong, dua orang warga terlihat sedang berdiri di atas jembatan. Satu di antaranya sedang memancing. Pemuda itu beberapa kali melemparkan mata kailnya ke sungai berarus deras dan keruh.
P. Tarakolo, seorang yang lebih tua seperti paham maksud penulis. Dia lalu menunjukan lokasi yang tepat untuk mencari dimana endapan lumpur buangan pertambangan dapat ditemukan.
“Kalau mau cari lokasi endapan lumpur ikuti saja jalan besar, nanti masuk ke lorong-lorong blok sawit. Pasti kamu temukan dimana lumpur tambang mengendap,” ujarnya.
Lelaki setengah baya itu sempat menceritakan nasbinya kini. Menurut warga Tiu ini, hasil dari mencari ikan tak sebanyak dulu lagi. Kondisi lebih memprihatinkan katanya di setelah turun hujan.
“Sebelum ada tambang, saya dapat penghasilan dari mencari ikan sebanyak Rp300 ribu per hari. Sekarang setelah sungai dan danau Tiu berlumpur hasilnya banyak berkurang banyak,” ungkapnya.
Dia yang masuk dalam kelompok nelayan ini meminta pemerintah menghentikan aktifitas pertambangan. Keputusan itu menurutnya adalah keinginan sebgian besar warga Tiu.
“Kami memohon pemerintah bisa memberikan keadilan kepada kami yang kecil ini,” tandasnya.
Kembali ke rasa penasaran tadi, penulis kemudian menyusuri beberapa blok hingga menemukan lokasi endapan lumpur yang dimaksud warga. Di ujung parit itu nampak semacam anak sungai dengan lumpur merah yang tebal. Tak jauh dari tempat itu nampak jelas tepian danau punya legenda bagi masyarakat desa Tiu. (**/bersambung)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.