Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Rusdi Mastura – Makmun Amir Harapan Baru Sulawesi Tengah

Kombinasi Kepemimpinan Terbaik Setelah Lamadjido, Paliudju, Ponulele dan Djanggola Oleh : Dr. Syarif Makmur, M.Si.

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

SEJARAH Kepemimpinan Gubernur Sulawesi Tengah selama Provinsi ini berdiri mengalami pasang surut (Kuhn, 1962). Dalam catatan sejarah Kepemimpinan nya , setelah ditinggal Gubernur AM Tambunan di tahun 1970-an. Sulawesi Tengah pertama kali dipimpin Putera Daerah di masa Galib Lasahido.

Sebelum Lasahido memimpin Sulteng, terjadi gonta ganti kepemimpinan Gubernur Sulteng yang tercatat dalam sejarah dan akan sulit dilupakan oleh warga Sulawesi Tengah. Tampilnya putra daerah yang kedua di masa Abdul Azis Lamadjido dan memimpin Sulteng selama dua periode. Prestasi Lamadjido selama dua periode memimpin Sulteng masih dalam tataran normal, tidak ditemukan prestasi secara nasional seperti prestasi yang didapatkan gubernur-gubernur lainnya di Indonesia.

Keberhasilan Lamadjido yang sangat menonjol adalah dalam dimensi komunikasi politik dan komunikasi pemerintahan dengan pemerintahan Jakarta. Sudah menjadi rahasia publik di Sulawesi Tengah saat itu, bagaimana kedekatan Lamadjido dengan Cendana, dan Pak Harto sering memberikan jempol kepada Lamadjido terkait keberhasilannya dalam membangun Komunikasi kepemimpinan (Ryas Rasyid, 2000).

Komunikasi menjadi kunci utama keberhasilan kepemimpinan di semua level dan tingkatan Pemerintahan. Semua prestasi dan kinerja terbaik akan sirna dan pudar karena kegagalan komunikasi (Prasojo, 2019).

Keberhasilan Lamadjido menempatkan Mayjen TNI M. Sulaiman sebagai Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dan keberhasilannya menjadikan Kolonel Inf. Dede Hatta Permana dan Kolonel Inf Gumyadi menjadi Bupati Buol Tolitoli dinilai sangat efektif. Kedekatan Lamadjido dengan Cendana pun dibuktikan dengan diangkatnya Rully Lamadjido sebagai Walikota Administratif Palu dan selanjutnya menghantarkan putra sulungnya itu menjadi Wakil Gubernur Sulawesi Tengah berpasangan dengan HB Paliuju adalah sebuah prestasi politik yang luar biasa.

HB Paliudju pun demikian, memiliki karir yang hampir sama dengan Lamadjido, menjadi Bupati Donggala dua periode dan memimpin Sulteng dua periode. Gaya kepemimpinan Paliudju yang santun, berwibawa dan tegas sebagai mantan Dandim Donggala dan Dandim Banggai itu telah mengukir prestasi yang diakui secara nasional, ditambah jabatannya sebagai Ketua DPD Golkar Sulteng saat itu telah menambah bobot kepercayaan dirinya sebagai perpanjangan tangan pemerintah pusat di daerah.

Baik Paliudju maupun Lamadjido belum dapat membawa Sulteng menjadi Provinsi terbaik dan terdepan di Indonesia, karena dalam cacatan pemerintah pusat, provinsi dengan kinerja dan prestasi terbaik di Pulau Sulawesi masih didominasi oleh Sulawesi Utara dan Sulawesi Selatan. Bahkan Provinsi Gorontalo yang baru saja berdiri masih di atas Sulawesi Tengah dalam hal prestasi dan kinerja Pemerintahan lewat prestasi Fadel Muhammad.

Memang dibutuhkan kerja-kerja luar biasa di atas rata-rata yang membutuhkan inovasi, kreativitas seorang gubernur di era digital saat ini (Jokowi, 2020).

Longki Djanggola pun dua periode menjadi Bupati Parimo sebelum menjadi Gubernur Sulteng. Prestasi Djanggola membawa Parimo menjadi salah satu Kabupaten terdepan di Sulteng menjadi bekal baginya menjadi Gubernur Sulteng dua periode. Sulteng pun mulai populer dan terkenal secara nasional bahkan dunia lewat prestasi Longki. Seandainya ketentuan per UU membolehkan Longki memimpin Sulteng tiga periode, sangat diyakini Longki bisa seperti Ridwan Kamil, Ganjar Pranowo maupun Nurdin Abdullah dan gubernur lainnya di Indonesia. Longki banyak belajar dari Lamadjido, Paliudju dan Ponulele, sehingga ia mengetahui benar dimana kelebihan dan kekurangan ketiga senior nya itu.

Sangat disayangkan, dan publik di Sulteng sangat prihatin karena sang gubernur Longki Djanggola menghadapi masalah besar dengan terjadinya tsunami pada 28 September tahun 2018 yang lalu. Kota Palu, Sigi dan Donggala (Pasigala) hancur lebur dan pemerintahan Jakarta menilai Pemerintah Provinsi, kabupaten/kota di Sulteng lamban menangani tsunami dan liquifaksi sehingga korban manusia cukup besar (Juusuf Kalla, 2019).

Belajar dari Lamadjido, Paliudju, Ponulele dan Djanggola, publik Sulawesi Tengah meyakini bahwa Rusdi Mastura – Makmun Amir sebagai Gubernur dan Wakil Gubernur terpilih akan menjadi harapan baru Sulawesi Tengah kedepan. Mantan Walikota Palu dua periode itu memiliki segudang pengalaman, strategi, pengetahuan dan juga ilmu yang mumpuni untuk memimpin Sulteng lima tahun kedepan bahkan sepuluh tahun.

Gaya kepemimpinan Cudi yang merakyat, sederhana dan apa adanya seperti gaya Jokowi memimpin Solo dan DKI Jakarta menjadi kunci penting bagi Rusdi Mastura membawa Sulteng menjadi provinsi terbaik dan terdepan di Indonesia Bagian Timur.

Harus ada target konkrit dari pasangan Cudi – Makmun dalam seratus hari kerja, setahun, dua tahun dan seterusnya hingga lima tahun. Paling tidak Sulteng harus menjadi provinsi terbaik di Pulau Sulawesi dalam dua tahun pertama. Setelah itu, di tahun ke tiga dan keempat, Sulteng menjadi provinsi terbaik di Indonesia timur bisa mengalahkan Sulsel, Sulut, Gorontalo, Maluku dan seterusnya.
Pemerintahan terbaik dalam catatan pemerintah pusat adalah sangat sederhana dan mudah untuk mendapatkannya. Diantara beberapa indikator kunci menjadi pemerintahan terbaik yaitu Opini laporan keuangannya harus Wajar Tanpa Pengecualian (WTP), Laporan Penyelenggaraan Pemerintahan Daerah (LPPD) dalam kategori TINGGI. Ada inovasi dan kreasi daerah dalam penanganan Covid-19, reformasi birokrasi dalam kelembagaan dan sumber daya manusia yang cukup menonjol, mendapatkan piala Adipura untuk Kota Palu, dan ibukota kabupaten/kota lainnya, serta beberapa tambahan prestasi lainnya.

Jika hal itu dapat dibuktikan prestasinya, maka Sulteng akan berada di garis terdepan sebagai Provinsi terbaik. Prestasi Cudi–Makmun adalah akumulasi dari prestasi yang dicapai oleh para Bupati se Sulawesi Tengah. Disini, Cudi–Makmun dituntut memiliki kemampuan untuk menggerakkan, mengarahkan dan mempengaruhi para Bupati se Sulawesi Tengah untuk menunjukkan kinerja dan prestasinya.

Sangat diyakini energi baru dan harapan baru Sulteng ini ada pada pasangan Rusdi Mastura – Makmun Amir. Pengalaman Makmun menjadi Bupati Banggai ditambah pengalamannya sebagai seorang birokrat di salah satu Kementerian di Jakarta akan sangat membantu Cudi dalam menerapkan kebijakan-kebijakan populer untuk Sulawesi Tengah yang maju dan sejahtera.

Tantangan dan ujian berat Cudi – Makmun kedepan dalam penanganan Covid-19 yang harus berbanding lurus dengan pertumbuhan ekonomi Sulteng yang harus baik, penurunan angka kemiskinan, pengangguran dan lainnya. Diperlukan kerja-kerja luar biasa, menghilangkan kerja rutinitas, kerja-kerja linear yang selama ini menghambat pelayanan birokrasi dan melakukan reformasi birokrasi di bidang kelembagaan dan sumber daya manusia.

Di bidang kelembagaan, sesuai instruksi Presiden Jokowi harus dirampingkan struktur organisasi di semua OPD. Seluruh jabatan eselon III (jabatan administrasi) harus segera difungsionalkan kecuali jabatan Camat dan eselon tiga lainnya sesuai kebutuhan organisasi masih harus dipertahankan. Jabatan-jabatan administrasi (eselon III) yang terlalu gemuk, yang terdapat di Dinas Pertanian, Bappeda, dan Dinas-dinas teknis lainnya dijadikan jabatan fungsional, seperti ahli Perencana pertama, ahli Perencana muda, ahli Perencana madya bahkan sampai ke ahli Perencana utama.

Di Dinas Pertanian misalnya, ada penyuluh pertanian pertama, penyuluh pertanian muda, penyuluh pertanian madya dan penyuluh pertanian utama. Semua formasi jabatan fungsional itu segera diusulkan oleh Pemerintahan Cudi – Makmun ke Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi dalam beberapa waktu kedepan. Cara berpikir struktural yang selama ini menghambat pelayanan birokrasi segera diubah dengan gaya dan style berfikir fungsional yang mengutamakan kompetensi teknis, kompetensi sosio kultural, dan kompetensi manajerial.

Jika Cudi–Makmun berkomitmen dan belajar dari keberhasilan dan kegagalan Lamadjido, Paliudju, Ponulele dan Djanggola, maka publik Sulawesi Tengah meyakini akan ada perubahan dan perkembangan dan harapan baru Sulawesi Tengah menjadi Provinsi terbaik di Indonesia Bagian Timur kedepan dengan tingkat kesejahteraan secara nasional di atas rata-rata.

Kemampuan mengelola sumber daya Sulawesi Tengah yang sangat potensial ini dengan efektif, cara dan gaya baru, menggunakan otak kanan (sebagai sumber inovasi dan kreasi), menghilangkan tradisi rutinitas, gaya lama, dan cara-cara yang sangat linear, dapat dipastikan Cudi–Makmun akan menjadi Gubernur/Wagub Sulteng yang lebih baik dari Lamadjido, Paliudju, Ponulele, dan Djanggola.

*) Penulis adalah alumni Institut Sains dan Teknologi Akprind Jogyakarta.

1 Komen
  1. Dr Syarif Makmur Msi Komentar Pengunjung

    Terimakasih kami ucapkan kepada pimpinan redaksi radar sulteng dan seluruh jajaran yang telah mempublish beberapa artikel / opini saya sehungga telah menambah kredit saya dalam proses kepindahan ke jabatan fungsional. Sekali lagi terimakasih

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.