Rumah Hanyut Dibawa Banjir, Jumriah Tak Tersentuh Bantuan Pemerintah

- Periklanan -

Jumriah beridiri di bekas rumahnya yang telah hilang terseret banjir bandang di Tolitoli. Ia sama sekali tidak tersebtuh bantuan dari pemerintah. (foto: Yuslih Anwar)

SABTU 3 Juni lalu, menjadi hari yang takkan terlupakan bagi Jumriah (35), seorang ibu rumah tangga yang tinggal Desa Buntuna Kecamatan Baolan. Korban banjir bandang yang  rumah tempat tinggalnya roboh hingga tak tersisa saat terseret terjangan arus banjir ini, sampai saat ini sama sekali belum mendapatkan perhatian apalagi bantuan.

Laporan : Yuslih Anwar/Tolitoli


JUMRIAH yang tinggal di rumah ukuran 4X7 meter, yang hanya memiliki satu kamar dan ruang tamu, serta dapur kecil  bersama ketiga orang anaknya ini, menceritakan kisah saat bencana banjir melulu lantakan seluruh isi rumah yang terbuat dari bahan kayu tersebut. Saat itu cerita Jumriah, dirinya bersama ketiga anaknya, saat hujan deras mulai turun, sama sekali tidak menyangka akan terjadi banjir bandang dengan arus yang sangat kuat.

“Biasanya kan, hujan keras atau terjadi banjir tidak sampai merendam rumah, paling cuma sampai dimata kaki saja, tapi waktu kejadian itu saya sama sekali tidak menyangka, tiba-tiba terdergar gemuruh, saya langsung membawa anak-anak lari keluar rumah dan mencari tempat yang lebih tinggi,” tutur Jumriah mengisahkan.

Ibu empat yang mengaku telah berpisah dengan suaminya ini, juga menceritakan, saat diterjang banjir, ia hanya bisa menyaksikan rumah berserta isinya, perlahan-lahan hanyut berserakan tanpa bisa berbuat apa-apa saat arus bajir terus menggerus dasar lantai rumah yang telah ia tempati sekitar 12 tahun tersebut.

” Yang ada dalam pikiran saya saat itu, hanya bagaimana anak saya bisa selamat saja, saya tidak pikirkan lagi rumah itu, urusan dibelakang,” tuturnya ketika menceritakan kisahnya.

Akibat bencana itu, Jumriah bersama tiga orang anak yang masih dihidupinya dengan mengandalkan kerja serabutan, kini hidup menumpang pada ibunya yang usianya sudah tak mudah lagi. Ia mengaku sudah kurang lebih lima tahun lamanya tak lagi bersama suaminya, sehingga apapun masalah yang dihadapinya dijalaninya sendiri.

Banjir bandang yang menerjang rumah mungil milik Jumriah saat ini, hanya tersisah puing bangunan berupa balok  berbagai ukuran, seng, ranjang serta bagian kursi sofa yang diakuinya, terlihat tetap berada pada lantai rumahnya, berkat usahanya mengumpulkan dari berbagai tempat ketika hanyut terseret banjir.

“Saya cari satu-satu setelah banjir, tapi  ini yang bisa saya kumpulkan, yang lain, seperti kasur, kompor, papan ranjang, sudah saya tidak dapat lagi. Mungkin sudah hanyut jauh,” tutur Jumriah.

- Periklanan -

Dengan bahan bangunan yang terisisah tersebut, Jumriah mengaku, tidak punya daya untuk membangun kembali rumahnya, pasalnya, selain memang saat ini tak memiliki biaya, ia juga mengaku, sekali tidak mendapatkan perhatian dari pemerintah setempat meskipun telah berkali-kali melaporkan kondisinya.

“Waktu ibu menteri Sosial datang ke Tolitoli, demi Allah pak,  saya ketemu langsung dengan beliau, saya sampaikan ke beliau, saya korban banjir, rumah saya rata dengan tanah. Ibu menteri menjawab, masukkan laporan kedinas sosial, kalau sudah terdata, insya Allah segera dibantu, itu jawab bu menteri, tapi kenyataannya, mereka yang punya peran seperti tidak memiliki hati,” tutur Jumriah dengan nada sedikit emosi.

Kepada media ini Jumriah menceritakan, mendapat jawaban berisi harapan mendapatkan bantuan dari Mensos saat bertemu pada Kamis (8/6). Keesokan harinya, ia kemudian mengurus keterangan secara administrasi dari pemerintah desa sebagai dasar rujukan ke dinas Sosial Tolitoli agar dapat terdaftar sebagai warga yang terkena dampak bencana banjir.

“Saya ketemu langsung dengan Pak Indar Dg Silasa kepala dinas, saya sampaikan langsung berkas saya sama pa Kadis, beliau jawab, sabar bu, kita tidak janji, muda-mudahan bisa dibantu. Begitu kata pak Kadis dan selanjutnya memberikan berkas saya kepada salah seorang staf perempuannya,” ungkap Jumriah menceritakan lagi.

Selepas memberikan jawaban yang tidak pasti tersebut, diceritakannya, tanpa sepatah katapun Kadis Dinsos meninggalkan dirinya yang berharap akan mendapatkan jawaban kepastian kapan akan dihubungi kembali.

“Yang saya butuhkan sebetulnya, ada jawaban, bu nanti dihubungi lagi. Atau ada pertanyaan, ibu tinggal dimana?. Perlakuan Kadis ini sangat mengecewakan,” ujar Jumriah.

Padahal keinginan Jumriah saat ini, tidak terlalu muluk-muluk untuk mendapatkan bantuan puluhan juta seperti bantuan yang diterima korban banjir dari Mensos, bahkan tak mencapai jutaan rupiah, ” cukup saya dibantu dibelikan paku atau papan serpihan, biar nanti saya usahakan sendiri tukangnya, asalkan rumah saya bisa saya tempati lagi,” tuturnya lagi.

Jumriah mengaku sangat iri dengan bantuan yang diberikan oleh Mensos kepada korban banjir, pasalnya ada beberapa diantara penerima bantuan tersebut, yang diakuinya merupakan kerabatnya. Terdata mendapatkan bantuan, sementara pada kenyataannya, korban tersebut hanya mengalami rusak ringan saat rumahnya diterjang banjir.

“Bagaimana tidak sakit pak, penerima itu keluarga saya, saya kenal betul, bagaiman sistim pendataan ini. Sampai sekarang ini, jangankan bantuan sembako, apalagi bahan bangunan, diliat saja, saya tidak pernah,” keluhnya.

Kepala Dinas Sosial Tolitoli Indar Dg Silasa saat dimintai keterangannya terkait hal itu mengatakan, korban luput dari pendataan karena aparat setempat lambat memasukan laporan kepada pihaknya, sehingga saat pemberian bantuan, korban tidak tercatat sebagai penerima.

“Kita tidak punya data, kalau tidak ada laporan bagaimana bisa terdata. Nah makanya laporan yang masuk, sudah sekitar ratusan jimlah korban ini akan kami kirimkan datanya ke Kementerian Sosial,” jelas Indar saat dimintai keterangannya kemarin.(**)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.