alexametrics Ribuan Petani Plasma Menggugat ke PN Tolitoli – RADAR SULTENG
Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ribuan Petani Plasma Menggugat ke PN Tolitoli

Laporkan PT Sokokeling Buana, Tuntut Bagi Hasil

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

TOLITOLI-Merasa telah dizalimi dan tidak ditunaikan hak-haknya oleh PT Sonokeling Buana, lebih dari 6.000 petani plasma perkebunan sawit Desa Oyom, Kecamatan Lampasio, resmi menyampaikan gugatan perdata ke Pengadilan Negeri (PN) Tolitoli, Rabu (21/10) siang.

Melalui Kuasa Hukum Fadli Adnan, SH., MH, petani plasma mengajukan gugatan terkait bagi hasil perkebunan sawit plasma yang pernah dijanjikan oleh perusahaan, pada awal mula persiapan pembukaan lahan sawit di Desa Oyom tahun 2013 silam.

Fadli Adnan dalam keterangan persnya menjelaskan, semenjak dipercayakan menjadi kuasa hukum 31 Agustus 2018, ia dan timnya bergerak melakukan investigasi ke semua lini, baik di Kabupaten Buol maupun Tolitoli.

Alhasil, ditemukan fakta bahwa awal 2013, manajemen PT Sonokeling pernah mendarat di Desa Oyom menggunakan helikopter untuk bertemu masyarakat desa, yang difasilitasi aparat desa dan kecamatan. Dalam sosialisasi itu, PT Sonokeling berjanji akan memberikan bagi hasil 60 persen perusahaan, 40 persen petani plasma.

“Pertemuan saat itu terasa harmonis, masyarakat percaya janji manis perusahaan. Berjalannya waktu, ternyata janji itu tidak terealisasi sesuai harapan masyarakat,” urai Fadli.

Setelah berjalan lima tahun perkebunan sawit seluas 16.000 hektare sesuai HGU yang diterbitkan Pemkab Buol–selesai dibuka dan ditanami, maka pada Mei 2018 perkebunan sawit panen perdana. Namun, ketika masyarakat ingin menuntut bagi hasil sesuai yang dijanjikan, perusahaan berkelit dan menegaskan bahwa perusahaan sawit berdiri di atas HGU wilayah Kabupaten Buol.

“Secara yuridis mereka punya sertifikat HGU di Buol, tapi kan secara de facto mereka mengelola sawit di tanah masyarakat Oyom, Kabupaten Tolitoli, ini kan pembodohan namanya. Dan memang diakui, saat itu masyarakat tidak memiliki bukti MoU kerja sama. Tapi, petani punya bukti saksi aparat desa dan kecamatan. Nah, atas masalah ini lah 6.000 lebih petani plasma mengajukan gugatan ke PN Tolitoli dengan nomor register 25,” kata Fadli, yang menambahkan timnya juga sudah melakukan investigasi hingga ke Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) terkait batas wilayah Kabupaten Buol dan Tolitoli.

Selain itu, ia juga membeberkan bahwa, dari konfirmasi ke Pemkab Buol, Wakil Bupati Buol Abdullah Batalipu menyatakan bahwa, PT Sonokeling sudah tidak boleh lagi beroperasi di Buol, bahkan dikejar warga hingga alat perusahaan diamuk dan dibakar warga.

Kendati tuntutan tidak ditunaikan, petani plasma tetap berupaya untuk melakukan komunikasi dan mediasi agar perusahaan mau perduli terhadap petani plasma yang sudah merelakan lahannya digunakan untuk perkebunan sawit milik perusahaan. Namun, berbagai upaya masyarakat tidak juga mendapat respons, bahkan lanjut dia, ada beberapa petani yang mengaku telah mendapatkan intimidasi, diskriminasi bahkan ada dua orang tokoh adat yang dijebloskan ke penjara.
Informasi penting lainnya, upaya zhalim yang dilakukan perusahaan adalah, sertifikat lahan masyarakat yang digunakan dalam perkebunan sawit sejak 2013, telah digadaikan ke salah satu bank, dan hasilnya menurut pengakuan pejabat Dinas Pertanian Tolitoli, telah cair uang sebesar Rp 800 miliar lebih dengan tujuan operasional perkebunan.

“Ini kan jelas pembodohan, dan eksploitasi. Sertifikat lahan masyarakat digadaikan, hasilnya untuk operasional perusahaan, sementara masyarakat menuntut haknya malah tidak diberikan. Kami akan berjuang agar hak masyarakat Desa Oyom bisa terealisasi,” tekadnya.

Fadli menyebutkan, setelah timnya melakukan penghitungan dari total luas lahan plasma yang ada, yakni dalam 1 hektare lahan plasma terdapat 120 pohon dengan hasil buah mencapai 7,2 ton. Jika dikalikan Rp 1.000 per kilo maka hasil per hektare sebanyak Rp 7,2 juta dikali 27 bulan (sejak panen perdana) dan dikali 40 persen, maka hasil akhir yang menjadi hak petani plasma adalah Rp 955 miliar lebih.

Selain masalah tuntutan masyarakat, Fadli menegaskan, timnya akan melaporkan pula ke sejumlah institusi di Jakarta terkait dugaan penyalahgunaan wilayah hutan lindung seluas 2.800 hektar yang masuk dalam HGU PT Sonokeling Buana.

Sementara itu, Ketua Persatuan Pemuda Peduli Adat sekaligus mewakili keluarga besar petani plasma Moh. Yahya menambahkan, petani plasma sudah sekian lama bersabar menantikan realisasi janji perusahaan, dan bersabar menanti itikad baik perusahaan merealisasikan tuntutan masyarakat, termasuk masyarakat adat juga akan melaporkan perihal situs budaya yakni makam sejarah raja Tolitoli yang terkena gusur dalam pembukaan lahan PT Sonokeling Buana. Dalam situs tersebut terdapat peninggalan bersejarah seperti emas, belati, dan bermacam peninggalan kerajaan.

“Intinya, kami petani plasma akan terus berjuang menyuarakan hak kami, sampai perusahaan merealisasikan tuntutan kami. Kami siap menggugat hak kami yang diambil paksa oleh PT Sonokeling Buana,” lengkapnya.

Sementara itu, upaya media ini untuk mendapatkan konfirmasi ke PT Sonokeling Buana belum membuahkan hasil.(dni)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.