Portal Berita Online koran Harian Umum Radar Sulteng. Berbasis di Palu, Sulawesi Tengah dan merupakan Jaringan Media Jawa Pos National Network (JPNN)

Revolusi Hijau Bersama Warga Panau Tanam Mangrove di sekitar PLTU

PALU-LSM Revolusi Hijau Mpanau yang berada di Kecamatan Palu Utara, didukung Jaringan Advokasi Tambang (Jatam) Sulawesi Tengah (Sulteng) akan melakukan penanaman mangrove di sekitar kawasan PLTU Panau, sebagai upaya penyelamatan keseimbangan dari ekosistem lingkungan dan pemukiman warga sekitar.

“Kami melakukan upaya lain, setelah kami melakukan aksi protes terhadap kehadiran PLTU Panau, dan dihantam tsunami tetapi PLTU ini tetap berdiri dan aktifitasnya berlanjut. Padahal PLTU ini hanya menguntungkan segelitir orang saja, bukan untuk kesejahteraan masyarakat secara umum yang membutuhkan energi listrik, “ tutur Direktur Eksekutif Revolusi Hijau ustad Arzad Hasan, kepada Radar Sulteng, Selasa (29/10).

Pihaknya akan melakukan penanaman mangrove bersama warga. Bahkan aksi penanaman mangrove, selain untuk cinta lingkungan, kegiatan itu juga untuk melestarikan lingkungan setelah hancur dihantam tsunami, dan rusaknya terumbu karang lantaran aktivitas PLTU yang mengalirkan limbah di pesisir pantai Panau dan sekitarnya.
Namun sejak penanaman mangrove dilakukan, kehidupan ikan yang berada di pantai Panau, Tawaeli, dan Mamboro sekarang ini hidup kembali. Ikan begitu jinaknya mulai muncul di bibir pantai.

“Insya Allah kami akan melakukan penanaman pohon mangrove yang dilakukan oleh warga Panau yang ada di RT I dan RT II, RW IV Talise Kelurahan Panau, “ terang Arzad.

Sebelum bertandang ke redaksi Radar Sulteng, pihaknya telah menyempatkan diri berkunjung ke kantor Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulteng, untuk menanyakan proposal yang sudah dimasukkan sejak dua minggu yang lalu. Di Dinas tersebut, menurut Arzad pihaknya hanya ingin menguji sampai sejauh mana kepedulian Dinas Kelautan untuk kegiatan yang dilakukan.

“Alhamdulillah bantuan Dinas Kelautan Provinsi sebanyak 50 pohon mangrove, kami syukuri. Di proposal kami juga mengusulkan bantuan terumbu karang, “ ujarnya bersyukur, tetapi menyindir, mengapa tingkat kepedulian Dinas Kelautan sangat minim.
Berbanding terbalik dengan LSM Revolusi Hijau, justru telah menyiapkan bibit pohon mangrove sebanyak 3.000 pohon.

“Yah menurut Kepala Seksi Konservasi di Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Sulawesi Tengah, pak Usman, mengaku belum lama menjabat di Dinas Kelautan. Kami ingin ketemu Kadis tetapi lagi ke Jakarta. Sementara Kabidnya lagi mengikuti rapat, “ bebernya.

Karena itu, pada kegiatan penanaman mangrove di hari Sabtu nanti (2/11), pihaknya meminta agar Kadis Kelautan dan Perikanan Sulteng menghadiri langsung penanaman mangrove tersebut.

“ Mungkin Kadis masih meragukan, tetapi harus ada yang mewakili dari pihak Kadis untuk menyaksikan langsung penanaman pohon mangrove ini, “ tandasnya.

Sehingga ada kepercayaan bagi warga untuk bersinergi, bahwa warga tahu Dinas Kelautan dan Perikanan memahami pentingnya keseimbangan dan perlindungan lingkungan hidup menurut Undang-undang.

“Sempat juga saya ceritakan di kesempatan pertemuan itu, bagaiamana perjuangan saya selama ini menghadapi dampak dari beroperasinya PLTU selama 12 tahun. Termasuk rusaknya terumbu karang di sekitar lokasi PLTU Panau, “ ungkapnya.

Dirinya merasa kecewa, kenapa pihaknya tidak pernah bertemu dengan petinggi di Dinas Kelautan dan Perikanan Sulteng untuk melihat situasi yang ada di sana, dengan kondisi rusaknya terumbu karang.

“Saya sampaikan, bahwa penyebab rusaknya terumbu karang, adalah menjadi catatan saya paling kurang 1.500 per bulan zat kimia yang langsung dibuang ke laut tanpa melalui proses Ipal yang layak. Termasuk panas air dari pipa pendingin itu tidak melalui proses timbal. Sehingga setiap saat saya mengukur panas air itu mencapai 40 derajat Celsius. Apa yang bisa tumbuh di situ. Apa yang bisa hidup di situ, kecuali kematian, atau kehancuran saja, “ sebutnya.

Ia berharap, dengan usaha pihaknya melakukan penanaman mangrove bisa menjadi bagian daripada pemulihan dan pengendalian kerusakan lingkungan akibat B3 PLTU selama 11 tahun.

Dikatakan Arzad, melihat situasi di Panau pasca bencana alam gempa bumi dan tsunami yang melanda Panau dan Mamboro sekitarnya September sampai Oktober sekarang dirinya tidak ragu lagi sehingga postingan dirinya di media sosial (medsos) itu ada 41 lembaga pencinta lingkungan akan menghadang upaya Pemerintah Kota Palu yang berencana bersama PLTU untuk mengaktifkan kembali PLTU Panau, dengan menggelar rapat yang langsung dipimpin Walikota Palu.

“Bahwa Walikota akan mempersiapkan dokumen untuk ke KLHK, “ sebutnya.

Mengenai 41 pencinta alam, di antaranya Bali Echo, Green Peace, Evergreen, Walhi, dan Jatam, sudah sempat mendatangi rumah ustad Arzad Hassan dan warga sekitar yang terdampak aktivitas PLTU yang menggunakan batubara.

“Kami akan membuat arena tanding sendiri, selain arena tanding mereka yang penguasa dan pengusaha, “ bebernya.

Sementara itu, Direktur Jatam, Muh. Taufik, SH, mengatakan, terkait aktifitas dan dampak yang ditimbulkan PLTU, semangat kita menanam mangrove ini harapannya bisa melawan rencana rekonstruksi PLTU di Kelurahan Panau.

“ Karena kan kita tahu secara bersama sejak 11 tahun, warga sekitar PLTU telah menerima dampak yang cukup besar, baik dari sisi menurunnya pendapatan warga pesisir, pun menimbulkan korban jiwa yang cukup banyak di wilayah-wilayah yang terkena dampak, seperti rumahnya pak Arzad, dan beberapa tetangganya, “ sebutnya.

Bahkan menurut Taufik, warga di kelurahan lain seperti Kelurahan Kayu Malue yang juga berpotensi terdampak dari aktivitas PLTU.

“ Memang pemerintah Kota Palu harus mengambil pelajaran dari situ, bahwa kepentingan pembangunan PLTU ini sebenarnya bukan kepentingan orang banyak. Tetapi kepentingan segelintir orang. Karena kalau dia memberikan kepentingan manfaat semua orang, dia tidak akan terdampak seperti yang sudah terjadi. Itu yang menjadi catatan kita, dalam rencana rekonstruksi PLTU, “ tegas Taufik.(mch)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.