Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Rencana Jembatan Palu V, 97 Warga Terkena Dampak

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Anda ingin Beriklan di Situs ini? Hubungi : 08114582818

Ilustrasi (@Iwank Daenk)

PALU – Rencana pembangunan Jembatan Palu V oleh Pemerintah Kota (Pemkot) Palu memasuki babak baru. Setelah perencanaan dan permohonan anggaran diajukan ke Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) RI, rencana pembangunan Jembatan Palu V yang akan menghubungkan wilayah Tatura Selatan dan Nunu melalui jalan Anoa II tembus ke jalan Jati kini berbenturan dengan pembebasan lahan milik 97 warga di wilayah Jalan Anoa II.

Dari beberapa kali pertemuan dengan warga, nilai pembebasan lahan warga belum menemui kata sepakat. Pemerintah dalam hal pembebasan lahan tidak akan terlibat. Hal tersebut nantinya akan diserahkan kepada tim independen yang akan langsung melihat fakta di lapangan dan membicarakan harga dengan warga yang terdampak pelebaran jalan.

Dari pertemuan yang dilakukan antara Dinas Penataan Ruang dan Pertanahan (DPRP) Kota Palu, dan Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Palu yang dihadiri masing-masing Kepala Dinas bersama warga Jalan Anoa II dan pihak Kelurahan Tatura Selatan dan unsur Kecamatan Palu Selatan di Kantor Kelurahan Tatura Selatan Sabtu sore (29/7), disepakati luas lahan warga yang akan terdampak pelebaran jalan akibat pembangunan Jembatan Palu V, selebar 2 meter di masing-masing sisi. Rencananya, Pemkot akan membangun jembatan Palu V dengan tipe B, rencana awal, menurut Kepala Dinas PU Kota Palu, Singgih B Prasetyo luas pelebaran jalan yang diinginkan Pemkot seluas 13 meter. Namun setelah menerima beberapa masukan dari warga sekitar dan pertimbangan-pertimbangan lainnya, disepakati luas jalan akan dikecilkan dari rencana semula menjadi 11 meter.

“Rencananya luas jalannya kita sesuaikan dengan jalan Emy Saelan, namun dari beberapa pertemuan, kita sepakati luas jalannya disamakan dengan jalan Anoa I, yakni hanya 11 meter,” kata Singgih, Sabtu (29/7).

Terkait fisik Jembatan, Singgih belum mau memberikan komentar banyak. Dia hanya menyarankan untuk menunggu realisasi anggaran dari Kementerian. Keinginan untuk membangun jembatan Palu V ini seperti mimpi Pemkot yang sangat ingin dibuat nyata. Pasalnya Singgih bersikukuh sekali pun nantinya tidak ada anggaran dari Kementerian, Pemkot akan tetap mengupayakan pembangunan Jembatan Palu V ini.

Pro kontra di kalangan warga yang terdampak pelebaran jalan tak bisa dipungkiri. Ada yang sepakat, namun tidak sedikit yang menyatakan menolak. Untuk warga yang menolak, utamanya berada di wilayah bawah Anoa II.

Hal tersebut juga diakui salah satu warga, Artur saat bertanya dalam pertemuan tersebut. Menurutnya, pemerintah masih harus memberikan pemahaman kepada masyarakat bagian bawah jalan Anoa II. Menurutnya, masyarakat wilayah bawah Anoa II, sebagian masih belum menyetujui pembangunan Jembatan Palu V.

Sementara itu, warga yang setuju dengan pembangunan Jembatan Palu V tersebut, tinggal menunggu biaya ganti rugi lahan dari pemerintah. Jika biaya ganti rugi mencapai kata sepakat antara kedua belah pihak, tentu pembangunan Jembatan Palu V akan disambut positif warga sekitar. Namun lain halnya jika tidak ada kata sepakat antara kedua belah pihak. Hal ini nantinya yang akan menjadi penghambat mewujudkan mimpi pembangunan Jembatan Palu V.

Dalam pertemuan yang berlangsung hingga menjelang magrib tersebut, juga mendapat masukan dari warga yang hadir. Salah satu warga, Udin Mosi, menegaskan pada pemerintah, jika pelebaran jalan yang disepakati hanya 11 meter, hal tersebut harus bersifat paten dan jangan sampai jika masyarakat sudah membangun kembali, pemerintah kembali melakukan pelebaran jalan. Hal tersebut terlihat dari Jalan I Gusti Ngurah Rai, yang sudah beberapa kali terjadi pelebaran jalan dengan berbagai alasan.

“Jika memang diinginkan total lebar jalan 13 meter, silahkan. Asalkan jangan saat ini disampaikan 11 meter, setelah itu dilakukan pelebaran jalan lagi,” kata Udin.

Saat ini, lebar aspal di jalan Anoa II sekitar 7 meter, sehingga kesepakatan pelebaran jalan disepakati 2 meter sisi kiri dan 2 meter sisi kanan menjadi jalan tengah pertemuan.

Namun pernyataan Kepala Dinas PU, malah membuat warga bertanya-tanya. Pasalnya Singgih menjelaskan bahwa 2 meter yang disepakati itu, akan dinamis saat di lapangan. Karena saat pengukuran di lapangan lanjut Singgih akan ada yang lebih sedikit di sisi kanan, atau pun sisi kiri jalan. Pernyataan yang menuai kontroversi ini tidak disepakati warga, sehingga dalam pertemuan tersebut atas usulan Affan yang juga warga jalan Anoa II, pemerintah terlebih dahulu melakukan pengukuran langsung di lapangan sehingga masyarakat mengetahui mana saja bagian tanahnya yang akan terdampak pelebaran jalan. Setelah pengukuran nanti, masyarakat yang merasa keberatan dengan hal tersebut bisa langsung melaporkan ke Dinas terkait baik PU maupun Penataan Ruang dan Pertanahan.

Pantauan Radar Sulteng di jalan Anoa II, terdapat tempat ibadah dan Tempat Pemakaman Umum (TPU). Jika ukuran 2 meter sisi kiri dan kanan juga berlaku pada 2 tempat ini, maka Masjid Aljariah yang berada di sisi kiri jalan dan TPU yang berada di sisi kanan jalan tersebut juga akan terdampak pelebaran jalan. Terkait itu, Singgih menegaskan pelebaran jalan, tidak akan menghilangkan masjid. Masjid kata dia akan tetap ada. Sementara TPU, Singgih tidak berani menjaminnya, dia mengatakan kemungkinan akan ada penyesuaian-penyesuaian. Asumsi akan ada makam yang dipindahkan pun keluar dari pernyataan Singgih.

Diantara 97 warga yang terdampak pelebaran jalan, beberapa warga diantaranya tidak memiliki aset lain selain tanah dan rumah di jalan Anoa II tersebut. Hasyim Mada salah satu diantaranya. Pria paruh baya kelahiran 1949 itu, saat ini tinggal bersama istri, 2 anak, 2 menantu, dan 2 cucu.

Kepada media ini, Hasyim mengatakan jika dampak pelebaran jalan sampai mengambil seluruh rumahnya, maka tidak ada lagi kediaman tempatnya dan keluarga akan bernaung dari teriknya siang dan dinginnya malam.

“Semoga saja yang kena pelebaran jalan hanya bagian depannya. Kalau sampai kena rumah, sudah tidak tau mau bagaimana nanti,” pungkasnya. (saf)

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.