Rektor Unismuh Palu : Penting Adanya Literasi Edukasi Kebencanaan bagi Masyarakat

- Periklanan -

PALU- Universitas Muhammadiyah (Unismuh) Palu menggelar diskusi kebencanaan dengan menghadirkan guru besar Universitas Kyushu Jepang, pakar kebencanaan tsunami, Prof. Megumi Sugimoto dan Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR-RI, Dr. Supratman Andi Agtas.
Keduanya membahas literasi kebencanaan dalam membangun masyarakat tangguh bencana oleh Prof. Megumi Sugimoto, sementara Dr.Supratman Andi Agtas membahas tinjauan yuridis undang-undang bencana alam dalam program legislasi nasional.
Rektor Unismuh Palu, Dr. Rajindra mengungkapkan, pentingnya literasi kebencanaan bagi masyarakat, berdasarkan pengalaman peristiwa tanggal 28 September 2018, masyarakat tidak siap menghadapi bencana karena kurangnya pengetahuan menghadapi bencana.
Terlebih, bencana yang menimpa masyarakat di tiga daerah, Palu, Sigi, dan Donggala terbilang aneh oleh para ahli, selain diguncang gempa 7,4 SR juga disusul tsunami sekaligus likuifaksi di daerah pemukiman padat penduduk. “Penting adanya literasi edukasi kebencanaan bagi masyarakat, karena berdasarkan pengalaman tanggal 28 September 2018, masyarakat tidak siap menghadapi itu,”ungkap rektor, Sabtu (29/12).
Selain itu kata rektor, yang tidak kalah penting adalah penanganan pasca bencana ditinjau dari segi yuridis, sebab pasca bencana baik di Sulawesi Tengah maupun daerah lainnya di Indonesia yang mengalami bencana alam kerap kali menimbulkan masalah baru, kurang maksimalnya penanganan dari pemerintah.
“Kita hadirkan dua pemateri, satu dari segi literasi edukasi kebencanaan dan yang satunya dari tinjauan yuridis, dengan harapan kehadirannya bisa memberikan pengetahuan baru terkait kebencanaan,”tambah Rajindra.
Sementara itu, guru besar Universitas Kyushu Jepang, Prof. Megumi Sugimoto mengungkapkan, bahwa yang paling terpenting dilakukan saat terjadi bencana alam adalah upaya evakuasi diri sendiri, jangan menunggu evakuasi dari pemerintah.
Karena pemerintah kerap kali mengalami keterlambatan dan kekeliruan, jangankan negara lain, Jepang sekalipun sebagai negara yang memiliki alat yang terbilang cukup canggih, masih sering keliru dalam penanganan bencana.
Selain itu, sebagai sarana pendidikan di kemudian hari, perlu dibangun monumen di lokasi pusat-pusat bencana, karena banyak anak yang lahir setelah bencana. “Pastinya anak-anak yang lahir setelah bencana tidak tau bagaimana dasyatnya bencana itu, sehingga penting ada monumen sebagai pengingat atas peristiwa itu,”kata Megumi Sugimoto.
Sementara itu, Ketua Badan Legislasi (Baleg) DPR-RI, Dr Supratman Andi Agtas, mengungkapkan, jika UU Kebencanaan Nomor 24 Tahun 2007, dipastikan akan direvisi sebelum masa akhir kerja DPR-RI Bulan Oktober 2019 akan datang.
Hal ini terinspirasi dari peristiwa bencana alam, gempa bumi, tsunami, dan likuifaksi yang terjadi di Palu, Sigi, dan Donggala. “Masih banyak kekurangan, termasuk jalur evakuasi, tempat penampungan, bahkan pembiayaan, itu akan kita pertimbangkan dalam revisi,” ungkap Supratman. (fer/*)

- Periklanan -

Komentar Anda

Alamat email anda tidak akan disiarkan.